Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Alif Sukses Bisnis Angkringan Berkat Layanan Digital

Alif juga mulai memanfaatkan layanan digital yang sangat membantunya mengatur dan mengelola keuangan usaha angkringan miliknya.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 29 Januari 2022  |  19:30 WIB
Kisah Alif Sukses Bisnis Angkringan Berkat Layanan Digital
Ilustrasi warung angkringan - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Angkringan merupakan salah satu ciri khas kuliner tradisional yang ada di Yogyakarta. Biasanya, angkringan dijajakan di atas gerobak sederhana beratap terpal plastik dengan menu khas nasi kucing, yaitu sekepal nasi dengan sedikit oseng tempe atau ikan yang dibungkus daun pisang dan kertas.

Angkringan ini juga telah menjadi salah satu tempat ‘nongkrong’ anak muda untuk saling berbagi cerita. Meski banyak kafe modern bermunculan, tetapi bisnis angkringan ini tetap eksis. Salah satu anak muda yang coba peluang usaha dengan mengembangkan bisnis angkringan adalah Alif Rahmat.

Pria berusia 25 tahun ini baru saja memulai usahanya pada awal 2020. Bermula dari ketertarikanya menjelajahi kota Yogyakarta dan menu angkringan khas Jawa Tengah, dia pun membawa bisnis angkringan ini ke tanah Sunda dengan merintis usaha angkringan di dekat sebuah universitas ternama di Tasikmalaya.

Usaha bernama 'Angkringan Pak Rachmat' mendapatkan antusiasme yang cukup baik dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, anak muda, bapak-bapak, hingga keluarga karena masih sedikitnya usaha angkringan di Kota Tasikmalaya.

Namun, sayangnya bisnis yang baru dirintis tersebut sempat terpukul saat munculnya kasus pertama Covid-19 yang membatasi kegiatan masyarakat dengan skala besar. “

“Awalnya, sempat bingung bagaimana caranya meneruskan usaha. Namun, melihat antusiasme pelanggan yang cukup baik, kami pun tetap optimis meneruskan usaha dengan memutar otak,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis. 

Dia pun tetap membuka usahanya dengan mengikuti peraturan pemerintah. Dari awalnya mulai buka jam 4 sore sampai jam 12 malam, saat adanya pembatasan hanya buka sampai jam 9 malam.

Dengan semangat dan rasa optimisme, dia pun terus belajar dan memahami tren yang ada di masyarakat terutama tren pasar di dunia kuliner. Memasuki bulan kelima, Arif menilik tren pasar yang bergeser ke arah digital, dimulai dari adanya pembayaran digital, tampilan menu digital, hingga pengelolaan keuangan atau kasir secara digital.

“Pemberlakukan new normal membuat terjadinya pergeseran perilaku masyarakat untuk memutus rantai penularan virus. Mulai dari pembayaran nontunai hingga pergeseran tren tampilan menu yang berubah menjadi digital atau e-menu. Saya pun mengenal Youtap dari Juni 2020. Akhirnya, saya coba gunakan secara gratis selama satu bulan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Alif juga mulai memanfaatkan layanan digital yang sangat membantunya mengatur dan mengelola keuangan usahanya. Kehadiran fitur yang berisikan analisa mengenai produk apa yang paling laris dan diminati setiap bulannya mampu membantu strategi bisnisnya kedepan.

Diakui olehnya saat awal bisnisnya berkembang dia sempat kesulitan membuat catatan pemasukan dan pengeluaran yang semuanya serba manual. Misalnya saja ada pesanan lebih dari 20, akan sulit baginya mengelola bon-bon yang berserakan. Apalagi satu orang saja bisa memesan banyak menu karena tiap sate atau gorengan yang diambil, semuanya dihitung per satuan.

“Dengan menggunakan aplikasikan layanan digital ini saya bisa menggunakan fitur laporan keuangan digital hingga analisa pintar yang sangat membantu saya mencatat penjualan setiap harinya,” ujar Arif.

Selain melakukan proses digitalisasi, strategi lain yang diterapkan adalah menghadirkan inovasi pada suasana dan varian menu di angkringannya, seperti menghadirkan ambiance ala cafe dan menyediakan cita rasa makanan pedas yang berlevel.

Tidak sampai disitu saja, ayah dari satu anak ini juga memberikan inovasi kepada pelanggannya lewat penyediaan layanan pesan secara online melalui fitur PHP (Pesan dari Hape) dan tidak jarang dia memberikan layanan delivery tanpa ongkir bagi pelanggannya di daerah Tasikmalaya.  

Langkah inisiatif untuk meraih peluang tumbuh lewat implementasi layanan digital pada usaha Angkringan Pak Rachmat akhirnya mampu menjawab kebutuhan pasar hingga mendorong performa bisnisnya di tengah pandemi.

Layanan digitalisasi yang diadopsi pun membawa usahanya kini dikenal sebagai angkringan yang kekinian karena memungkinkan pelanggan membayar secara nontunai baik itu dari e-wallet, mobile banking, hingga QRIS.

Dengan berbagai inovasi dan adaptasi digital yang dilakukannya tersebut, Angkringan Pak Rachmat mampu meningkatkan omzet hingga 50 persen dan berhasil mencatat sekitar 1400 transaksi setiap bulannya.

Melihat kesuksesan yang saat ini diraih, Alif mengajak pelaku usaha kuliner lainnya untuk pandai mengambil ceruk pasar dengan digitalisasi.

“Menurut saya, dalam berbisnis penting untuk memahami kebutuhan pelanggan dengan mengikuti tren pasar dan mengembangkan dagangannya lewat teknologi khusus pelaku usaha,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm peluang usaha bisnis kuliner
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top