Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kisah Tony Fernandes, Mantan Pelayan Restoran yang Jadi Bos AirAsia

Munculnya AirAsia Driver, kembali melambungkan nama Tony Fernandes, salah satu pengusaha sukses bidang transportasi.
Tony Fernandes/Reuters-Vivek Prakash
Tony Fernandes/Reuters-Vivek Prakash

Bisnis.com, JAKARTA - Tony Fernandes, pemilik dari maskapai penerbangan AirAsia kini tengah jadi sorotan. 

Lantaran, sejak November 2022, Indonesia telah dihebohkan dengan kabar bahwa AirAsia Driver membawa skema baru dalam dunia ojek online, di mana perusahaan ini sanggup memberi penghasilan mencapai 6.000 sampai 7.000 Ringgit Malaysia atau Rp19,84 juta sampai Rp23,15 juta per bulan. 

Sebagai informasi, AirAsia kini menjadi salah satu maskapai penerbangan berbiaya hemat terbesar di Asia, dengan jaringan yang luas lebih dari 190 kota tujuan.

Tentunya, dibalik strategi keputusan besar dengan memberikan beragam penawaran yang menguntungkan bagi publik, membuat banyak publik penasaran siapa sebenarnya bos besar dari AirAsia itu. Berikut ulasan Bisnis selengkapnya. 

Kehidupan Awal Tony Fernandes

Tony Fernandes lahir pada 30 April 1964. Melansir dari Times of India, Fernandes lahir dari ayah yang berasal dari Goa dan ibu campuran India (Tamil) dan Asia-Portugis (Kristang) yang dibesarkan di Malaka, Malaysia. Di mana, sang Ayah berprofesi sebagai dokter. 

Tapi, sejak kecil Fernandes memang terlihat tidak tertarik untuk mengikuti jejak karier sang Ayah. Sebaliknya, Fernandes justru menunjukkan minat besarnya dalam berbisnis dengan membantu sang Ibu berjualan.

Seperti dikutip dari Forbes, ibu Fernandes adalah seorang pengusaha. Kala itu, ibunya memperkenalkan produk Tupperware ke Malaysia dan Fernandes membantunya melakukan hal tersebut. Bahkan, dikutip dari Tatler Asia, dia pun turut terinspirasi dengan keahlian Ibunya memasarkan produk hingga bisa menjual es ke orang Eskimo.

“Ibuku Ena Dorothy Fernandes punya dampak besar bagi hidup saya. Dari awal yang sederhana menjadi guru musik hingga Ceo Tupperware dan Corning Ware menjadi motivasi dan inspirasi awal saya untuk bisa mendirikan AirAsia dan memimpin banyak keragaman,” tulisnya dilansir dari LinkedIn Tony Fernandes, Jumat (30/12/2022). 

Terus Mengutamakan Pendidikan

Meski dirinya sering membantu sang Ibu berjualan, tapi Fernandes sendiri pun tidak pernah mengesampingkan pendidikan. 

Terbukti, mulai usia 12 tahun, dari tahun 1976 hingga 1983, dia belajar di sekolah berasrama Epsom College di Inggris. Hingga akhirnya, dia diterima sebagai mahasiswa di London School of Economics dan lulus dengan gelar di bidang akuntansi pada 1987.

Kehidupan Karier Tony Fernandes

Menariknya, sebelum bisa sesukses sekarang, Fernandes mengakui bahwa pekerjaan pertamanya ketika masih menduduki bangku kuliah adalah pelayan restoran di London. 

“Pekerjaan pertama saya adalah seorang pelayan di restoran di London. Saat itu saya merakan betapa sulitnya menjadi pelayan hingga akhirnya saya pun dipecat. Bagi saya, semua pekerjaan itu sulit dan pekerjaan ini telah mengajari saya untuk menghormati segala pekerjaan dan memperlakukan semuanya dengan setara,” ungkapnya. 

Hingga akhirnya, usai dirinya lulus, Fernandes pun memulai karier di Virgin Group di sebagai auditor, kemudian dipercaya sebagai pengawas keuangan untuk Richard Branson's Virgin Communications di London dari tahun 1987 hingga 1989. 

Tidak lama setelah itu pada 1990-an, Tony terjun ke bidang musik yakni ke Warner Music Group, dan menjabat sebagai Wakil Presiden Regional Asia Tenggara dari Desember 1999 sampai Juli 2001.

Namun, ketika Time Warner mengumumkan penggabungannya dengan America Online, Fernandes pun memutuskan untuk segera keluar dari perusahaan dan mengejar mimpinya memulai maskapai penerbangan. 

Awal Perkembangan AirAsia

Mengutip dari Flying High, ternyata Fernandes menyimpan mimpi kecil menjadi pilot, pesepakbola, atau pembalap. 

“Saya menyukai hiburan, tetapi saya juga menikmati terbang, yang dianggap sebagai kemewahan yang tidak dapat dicapai oleh banyak orang di kawasan Asia Tenggara. Saya menjadikan misi saya untuk membuat terbang dapat diakses oleh semua orang,” kata Fernandes kepada Yitzi Weiner. 

Alhasil, September 2001, saat maskapai penerbangan di seluruh dunia berjuang usai adanya serangan 9/11, seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan,  Fernandes pun memutuskan membeli AirAsia, sebuah maskapai penerbangan milik pemerintah Malaysia yang berutang US$11 juta atau setara dengan Rp171 miliar. 

Dia pun segera mengambil alih maskapai AirAsia dengan harga 1 ringgit atau yang saat ini setara dengan Rp3.576 dan menjadi kepala eksekutifnya.

Adapun, hal yang membuat pemilik lama mengizinkan AirAsia dijual dengan harga 1 ringgit, karena Fernandes bersedia melunasi utang perusahan sebesar US$11 juta.

Bermitra dengan Kamarudin Meranun, Fernandes kemudian merehabilitasi maskapai dengan menjadikan maskapai low cost carrier alias maskapai dengan tarif murah melalui slogan ‘Now Everyone Can Fly’, AirAsia pun langsung menarik hati warga Malaysia.

Terinspirasi dengan Sosok Elon Musk

Sikap optimisnya dan kecermatan dalam masuk ke melihat tren pasar, dia akui terinspirasi atas seorang figur yakni Elon Musk. 

“Dia adalah jenis orang pemikir, pemimpi, dan tidak pernah berhenti melakukan suatu inovasi. Hanya sedikit orang lain yang mau menangani masalah besar, mengusulkan solusi, lalu berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, seperti yang Elon Musk lakukan, terbuki kini dia bisa menciptakan terobosan mobil listrik, perjalanan luar angkasa, brain computers, Hyperloop hingga tunnels,” tuturnya.

Tak heran, jika dengan sifat kerja keras dan pantang menyerah, membuat Air Asia dapat melunasi utangnya hanya dalam kurun waktu satu tahun. Lalu, pada 2004, Fernandes pun melanjutkan untuk membuat perusahaannya IPO. 

Dengan modal tambahan, maskapai tersebut pun kian memperluas jumlah tujuan dan sejak saat itu melakukan diversifikasi ke bisnis lain seperti budget hotel, telekomunikasi, jasa keuangan, olahraga, media dan industri kreatif.

Berdasarkan Forbes, harta kekayaan Fernandes per 2020 mencapai US$355 juta atau setara dengan Rp5,5 triliun. 

Tony telah dianugerahi gelar CBE dua kali oleh Raja Malaysia dan dianugerahi Legion d'Honneur oleh pemerintah Prancis. Dia juga menerima penghargaan dari outlet media bisnis besar termasuk International Herald Tribune, Business Times, Business Week, Fast Company dan Forbes.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper