Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Profil Tomas Bata: Sang Raja Sepatu yang Pabriknya Kini Tutup di RI

Berikut profil Tomas Bata. Sang Raja sepatu asal Ceko yang salah satu pabriknya di Indonesia kini resmi ditutup.
Tomas Bata, pendiri brand sepatu Bata asal Cekoslovakia. Dok Bata
Tomas Bata, pendiri brand sepatu Bata asal Cekoslovakia. Dok Bata

Bisnis.com, JAKARTA - Merek sepatu Bata menjadi sorotan masyarakat setelah kabar penutupan pabriknya di Indonesia. Meski sudah bertahun-tahun memproduksi, Bata ternyata bukanlah merek asli Indonesia. Keberadaan Bata tak lepas dari pendirinya, yaitu Tomas Bata. Simak profilnya! 

PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) secara resmi telah menutup pabriknya yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat pada Selasa (30/4/2024). Kerugian yang dialami selama 4 terakhir atau sejak tahun 2020 menjadi penyebab tutupnya pabrik tersebut.

Kerugian yang dialami perusahaan Bata tercatat sebesar Rp80,65 miliar pada bulan Januari-September tahun 2023 atau mengalami peningkatan senilai 294,76% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp20,43 miliar.

Kemudian, penjualan bersih perusahaan Bata tersebut tercatat sebesar Rp488,47 miliar atau anjlok senilai 0,42% pada periode tersebut dibandingkan tahun sebelumnya yang menyentuh di angka Rp490,57 miliar. Kondisi tersebut membuat pemilik pabrik Bata untuk menutup pusat produksinya di Purwakarta. 

Lantas, siapa pendiri pertama kali merk sepatu Bata ini hingga terkenal sampai ke Indonesia?

Profil Tomas Bata

Tomas Bata dikenal sebagai "raja sepatu" yang lahir pada 3 April 1876 dan berasal dari keluarga tukang sepatu yang turun-temurun.

Ibunya telah meninggal ketika dirinya menginjak usia 8 tahun. Kemudian, ayahnya mengajak keluarganya untuk pindah ke Uherské Hradiště dari Zlin pada tahun 1887.

Pada usia 12 tahun, Tomas mulai tertarik untuk terjun ke dunia produksi dan penjualan sepatu.

Tomas mulai untuk memproduksi sepatu di Wina-Döbling pada 1891, usianya saat itu 15 tahun dan telah pergi meninggalkan rumah ke Prostëjov dan bekerja di perusahaan Fäber yang beroperasi di bidang pembuatan mesin sepatu.

Usaha Tomas beberapa kali mengalami kegagalan sehingga Tomas dan dua saudara kandungnya, Anna dan Antonin mendirikan perusahaan bersama pertama kalinya pada tanggal 21 September 1894 di kota Zlin dengan modal yang dikeluarkan bersamaan berjumlah 600 gulden.

Perusahaan baru yang didirikan bersama-sama itu tidak berjalan mulus. Bahkan, hampir mengalami kebangkrutan, utang yang dimiliki perusahaan tersebut mencapai lebih dari 8.000 gulden pada 1895.

Pada 1897, Batovka adalah sepatu kanvas pertama kali yang diciptakan mampu membawa perusahaan tersebut ke pintu kesuksesan dan kemakmuran sehingga Tomas mampu melunasi utang yang melimpah tersebut.

Pada 1900, karyawan yang bekerja di perusahaan bersama itu tercatat sebanyak 120 orang yang awal pendiriannya hanya 10 orang.

Tomas menjadi pemilik tunggal dari perusahaan tersebut karena saudaranya Antonin meninggal dunia dan Anna telah menikah. Tomas Bata pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat pada 1905, dia mempelajari teknik manajemen dan sistem pengupahan. Ia juga mengunjungi perusahaan pabrik-pabrik di Inggris dan Jerman.

Patung Tomas Bata
Patung Tomas Bata

Pabrik Sepatu Bata Era Perang Dunia 

Perusahan Bata terus mengalami perkembangan yang pesat dan berhasil membangun kawasan perumahan untuk karyawannya. Pada Perang Dunia I, perusahaan Bata menerima pesanan sebanyak 50.000 pasang sepatu militer, hal ini membuat perusahaanya semakin berkembang dan terjadi peningkatan jumlah karyawan sebanyak sepuluh kali lipat.

Perang Dunia I berakhir dan lahirnya partai komunis membuat Bata mengalami tekanan finansial. Tomas Bata mengambil tindakan menurunkan harga sepatunya hingga 50% dan memberikan gaji karyawannya sebesa 40% dengan memberikan diskon tertentu kepada karyawannya.

Sepatu Bata pun laris di pasaran karena harganya yang murah sehingga perusahaan miliknya mempunyai 112 cabang pada tahun 1923.

Pada 1924, Tomas menunjukkan kemampuan bisnisnya dengan menghitung banyaknya omzet yang direncanakan secara tahunan, mingguan, dan harian. Bisnisnya pun berkembang secara pesar sehingga dirinya menjadi orang terkaya yang menempati posisi keempat di Cekoslowakia.

Tomas Bata mendirikan museum sepatu pada 1930 dan 1931 mendirikan pabrik di Jerman, Inggris, Belanda, dan negara-negara lainnya.

Keberhasilan dan prestasi yang dimiliki oleh Tomas Bata membuat dirinya memegang jabatan sebagai walikota Zlin pada periode 1923-1932. Selama dirinya menjabat, dia berhasil mendirikan tujuh sekolah baru hingga menjadikan Zlin sebagai kota modern.

Dia juga memiliki saham-saham di beberapa perusahaan di bidang penyamakan kulit, pertanian, penerbitan surat kabar, kereta api, transportasi udara, produksi tekstil, dan pertambangan batu bara.

Pada 12 Juli 1932, Tomas Bata dan pilotnya mengalami kecelakaan pesawat di Otrokovice membuat keduanya meninggal dunia.

Penerus Perusahaan Bata

Thomas Bata Junior atau Thomas J. Bata adalah putra tunggal dari Tomas Bata yang menjadi penerus bisnis ayahnya, lahir di Praha pada 17 September 1914.

Setelah kematian ayahnya, pabrik sepatu tersebut dipegang oleh pamannya bernama Jan Antonin Bata. Thomas mulai dipercaya untuk mengelola toko perusahaan sepatu terbesar di kota Zlin dan Zurich ketika dirinya menginjak usia 20 tahun.

Dia diberikan tugas untuk mendirikan cabang baru di Kanada pada 1939 karena tentara Jerman mengancam akan melewati perbatasan Cekoslowakia.

Cabang yang didirikannya itu ketika dirinya berusia 24 tahun berhasil berkembang sukses di pasar Kanada dan mampu mengekspor untuk kebutuhan tentara sekutu selama tahun-tahun perang.

Pada 1945, ketika kota Zlin diserahkan oleh Jerman ke pemerintahan komunis yang baru terjadi nasionalisasi pabrik Bata di kota Zlin dan Eropa Timur, perusahaan Bata di Asia hancur akibat serangan Jepang serta perusahaan di China pun disita.

Hal itu membuat perusahaan Bata mengalami kerugian bahkan benar-benar mengalami kehancuran. Thomas pun membangunnya kembali pada 1946 dengan mendirikan kantor pusat yang baru di Inggris.

Sejak kepemimpinan Thomas J. Bata, perusahaan Bata mampu menyebarluaskan bisnis sepatunya ke seluruh negara. Pada 1984, produksi sepatu perusahaan tersebut tercatat mencapai 220 juta pasang dan penjualan sepatu di tokonya mencapai 314 juta pasang.

Bata pun terkenal menjadi perusahaan sepatu terbesar di dunia dengan memiliki 90 pabrik yang beroperasi, 5 ribu toko di 89 negara, dan 90 ribu karyawan.

Jejak Sepatu Bata di Indonesia 

Sejak tahun 1931, Tomas Bata membangun hubungan kerja sama dengan importir sepatu yang beroperasi di Tanjung Priok, yakni NV, Netherlandsch-Indisch.

Enam tahun berikutnya, pabrik sepatu didirikan oleh Tomas Bata di tengah perkebunan karet yang berlokasi di area Kalibata, Jl. Kalibata Raya, Jakarta Selatan dan mulai memproduksisepatu pada tahun 1940.

PT Sepatu Bata Tbk. terdaftar di Jakarta Stock Exchange pada 24 Maret 1982. Kemudian, pabrik sepatu Bata pun didirikan di Purwakarta yang rampung pada tahun 1994.

Sayangnya, masa kejayaan sepatu Bata di Indonesia perlahan pudar setelah perusahaan memutuskan untuk menutup pabrik Bata di Purwakarta.

Penutupan pabrik sepatu bata di Purwakarta tak serta merta menutup bisnis keseluruhan yang telah dibangun PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) sejak 1931 atau 14 tahun sebelum era proklamasi RI.

Manajemen sepatu Bata memastikan berhentinya lini manufaktur tersebut merupakan upaya untuk fokus pada bisnis retail untuk mengembalikan kinerja bisnis dan penjualan yang beberapa tahun terakhir terkontraksi.

Adapun, hal ini diungkapkan manajemen yang diwakili Hatta Tutuko, Ahmad Danial, dan Prima Andhika Irawati ketika bertemu dengan pejabat Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Rabu (8/5/2024).

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki (ITKAK) Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan penutupan pabrik berkaitan dengan strategi bisnis yang dilakukan dalam rangka refocusing pada lini penjualannya (store).

"Direksi menyampaikan, dalam rangka efisiensi dan memperhatikan tren pasar yang cepat dan bervariasi, maka PT Sepatu Bata Tbk fokus pada pengembangan produk dan desain yang memenuhi selera pasar," ujar Adie.

Menurut dia, hal ini juga merupakan langkah perusahaan merek sepatu asal Ceko itu menghadapi persaingan industri sepatu di dalam negeri. Adapun, pabrik di Purwakarta hanya bagian kecil dari keseluruhan bisnis perusahaan, demikian juga dari sisi produksi, masih sangat kecil jika dibandingkan dengan produsen sepatu lainnya.

"Karenanya, menurut manajemen, penutupan pabrik Purwakarta merupakan langkah paling realistis," imbuhnya. (Ahmadi Yahya) 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper