Sukamdani S. Gitosardjono: Bisnis tak harus serakah!

Sukamdani Sahid Gitosardjono dikenal sebagai satu dari sedikit pengusaha pribumi yang malang melintang di bisnis perhotelan lebih dari 45 tahun. Selain bisnis kepariwisataan, Group Sahid yang didirikannya juga mengelola bisnis pendidikan, kawasan industri,
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 Desember 2010  |  16:33 WIB

Sukamdani Sahid Gitosardjono dikenal sebagai satu dari sedikit pengusaha pribumi yang malang melintang di bisnis perhotelan lebih dari 45 tahun. Selain bisnis kepariwisataan, Group Sahid yang didirikannya juga mengelola bisnis pendidikan, kawasan industri, properti, dan media. Untuk mengikuti kisah sukses Group Sahid, berikut petikan wawancara dengan Sukamdani, yang edisi lengkapnya bisa dilihat di www.bisnis.com:

 

Apa landasan bisnis Sahid Group sehingga langgeng sampai sekarang?

 

Sahid Group mempunyai visi bisnis yang ditautkan dengan filosofi. Visinya adalah melakukan usaha bisnis yang kuat, sehat, dan berkesinambungan dan didukung filosofi budaya perusahaan. Ada rambu-rambu yang bisa dilakukan dan tidak dapat dilakukan. Bisnis harus seimbang antara profit dan benefit, keuntungan dengan manfaatnya bagi masyarakat luas, bagi negara, dan seluruh stakeholders.

 

Kemudian inti budaya Sahid Group berdasarkan beberapa falsafah yaitu, pertama butir-butir yang tertuang dalam Pancasila dan UUD. Kedua, falsafah ideal, Tri Watak Budi Luhur. Isinya bertakwa kepada Allah SWT, berbakti kepada ayah bunda dan nusa bangsa, mencintai keluarga yang bernilai sama dengan mencintai profesi, dan mencintai dan dicintai oleh sesama.

 

Ketiga, adalah falsafah urip-nguripi (hidup harus menghidupi orang lain). Filosofi keempat, menguwongke uwong atau memanusiakan manusia. Kita sesama mahluk Allah, jangan menilai orang macam-macam. Supaya kita jadi banyak kawan dari berbagai aspek masyarakat.

 

Lalu hidup selalu ingat ada perubahan. Berubah untuk maju. Apapun yang dilakukan selalu berpikir untuk maju. Kemudian, apapun pangkatnya, kedudukannya, dan lainnya, hendaknya dalam berperilaku selalu wajar. Mengakui bahwa prestasi yang diperoleh karena rido Allah, dan juga bantuan dari orang lain, dan supaya bermanfaat untuk stakeholders.

 

Selanjutnya, [kita maju] karena peran dari pemerintah. Tugas pemerintah adalah menata dan mengatur rakyat agar hidup baik dan sejahtera. Bisa mengatur pajak yang benar, seperti pajak bumi dan bangunan. Pemerintah semestinya bisa mengembangkan sesuatu, bukan hanya dari memeras pajak saja.

 

Apa lini usaha utama Sahid?

 

Core bisnis Sahid Group lebih menekankan bidang kepariwisataan. Karena menyangkut secara keseluruhan seperti hotel, biro perjalanan, angkutan (udara, laut, dan daratan), pendidikan, dan pertambangan.

 

Bisnis Sahid Group awalnya bermula dari pencetakan dan penerbitan dengan nama Tema Baru. Sekarang masih bertahan. Namun core bisnisnya lebih ke bidang pariwisata.

 

Bagaimana Sahid mulai membuat jaringan hotel?

 

Saya memulai membangun hotel pada tahun sulit. Ceritanya pada 1961 [setelah bisnis percetakan berkembang dan sering melakukan perjalanan bisnis], saat itu saya ke Medan dan mau berangkat ke Padang. Kendaraan sangat sulit sekali, begitu juga dengan hotel. Sejak itu tercetus keinginan untuk membuat usaha perhotelan.

 

Keinginan itu bersambut dengan keluarnya kebijakan pemerintah yang menetapkan kegiatan sektor swasta, termasuk bidang pariwisata, mendapat perhatian untuk dikembangkan.

 

Hotel pertama dibuat di Solo, didasarkan pada feeling bahwa Solo akan banyak dikunjungi turis. Selain itu, saya juga membaca keputusan pemerintah yang menyatakan Solo dicanangkan menjadi objek pariwisata. Hotel itu diberi nama Hotel Sahid Sala, selesai pada 1965.

 

Setelah pembangunan hotel di Solo selesai, saya melanjutkan pengembangan usaha hotel di Jakarta dengan mendirikan Hotel Sahid Jaya, di bawah bendera PT Hotel Sahid Jaya Internasional Tbk yang berdiri pada 23 Mei 1969. Hotel Sahid Jaya mulai beroperasi pada 1973.

 

Pembangunan hotel itu juga cukup sulit karena lahan yang terbatas. Namun, karena pemerintah DKI Jakarta, waktu Gubernur Ali Sadikin, memiliki kebijakan menjadikan Sudirman sebagai kawasan bangunan tinggi, saya mendapatkan tambahan lahan.

 

Selain bantuan dari Pemprov DKI, saya juga mendapatkan keringanan pajak dengan memanfaatkan insentif yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam pembangunan hotel yang disiapkan untuk konferensi Pacific Area Travel Association (PATA).

 

Sebagai sedikit hotel "pribumi" yang besar, apakah ada tawaran dari pihak asing untuk membuat jaringan hotel dengan Sahid?

 

Permintaan dari pihak asing banyak, tetapi kami memiliki komitmen untuk menjalankannya sendiri. Hanya dalam pemasaran luar negeri Hotel Sahid Jaya pernah bekerja sama dengan Boulevard (bagian dari Travelodge), suatu jaringan hotel dari Australia. Inipun hanya terbatas pada promosi, perwakilan penjualan, sistem pemesanan kamar dan informasi internasional.

 

Bisnis Grup Sahid berkembang karena momentum atau insting?

 

Seorang pengusaha harus memiliki jiwa wirausaha, termasuk dalam membaca situasi dan kondisi. Pengusaha harus bisa melihat ke depan, seperti dengan memanfaatkan konferensi PATA di Indonesia pada tahun 1974 (saat merencanakan membangun Hotel Sahid). Jadi momentum harus dipergunakan karena ada fasilitas yang dapat mengatasi kesulitan.

 

Bagaimana perkembangan bisnis Grup Sahid ke depan?

 

Sebagai perusahaan lokal yang mengelola hotel, saya mau jadi tuan di rumah sendiri. Setelah mengembangkan bisnis hotel dan wisata yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, saya mulai masuk ke bisnis lainnya yaitu rumah sakit, apartemen dan pendidikan.

 

Saat ini, Sahid Group tengah mengembangkan Sahid City bekerja sama dengan Pikko Group. Proyek tersebut didirikan di atas lahan 5,5 hektare yang terdiri dari Sahid Sahirman Memorial Hospital, apartemen Sahid Perdana, Sahid Sudirman Residence, Hotel Sahid dan apartemen Istana Sahid.

 

Lalu kami juga mengembangkan pendidikan. Ketertarikan saya mengembangkan bisnis pendidikan bermula dari keinginan untuk mengentaskan kebodohan. Pada 1950, saya membidani berdirinya Sekolah Menengah Ekonomi Pertama Masyarakat di Solo, namun bubar saat saya ke Jakarta. Bermula dari situ, lantas saya mendirikan Akademi Grafika yang berubah nama menjadi Akademi Teknologi Grafika Indonesia yang dimotori oleh Yayasan Pendidikan Grafika. Prakarsa mendirikan ATGI memberikan inspirasi pada saya untuk membentuk yayasan pendidikan di lingkungan Sahid dari jenjang SLTP hingga tingkat doktor serta school of business.

 

Selama perjalanan hidup hingga menjadi pengusaha, tantangan apa saja yang berkesan?

 

Ada tiga tantangan besar. Pertama, saat masih muda dalam perang kemerdekaan. Kedua, tantangan saat perang gerilya. Ketiga, yang luar biasa adalah tantangan saat ikut membantu membangun Taman Mini Indonesia Indah bersama Ibu Tien Suharto.

 

Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah bersamaan dengan pembangunan proyek hotel Sahid Jaya Jakarta. Waktu dan konsentrasi saya terbagi dua. Namun, saya bertekad untuk menyelesaikan keduanya tepat waktu. Akhirnya hotel diremikan dulu pada 23 Maret 1973, dan TMII diresmikan 20 April 1974,

 

Apakah menyiapkan putra mahkota?

 

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan putra mahkota sejak saya berusia 60 tahun, ketika saya masih duduk di Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Namun belum disampaikan. Ketika duduk di DPR sampai tiga periode, pada usia 70 tahun, saya sudah membagikan tanggung jawab usaha kepada masing-masing anak.

 

Memperiapkan putra mahkota berarti harus siap untuk menjadi tutwuri handayani. Kita di belakang tapi tetap mendukung. Bila terjadi sesuatu, saya hanya mengarahkannya saja dan yang memutuskan adalah mereka sendiri.

 

Jadi pada 1998 itu, semua anak-anak sudah dibagi tanggungjawab pada divisi masing-masing. Hariyadi B. Sukamdani mengelola pabrik tekstil, Yanti Sukamdani pegang Sahid Gema Wisata, Exacty Budiarsi Sukamdani pegang rumah sakit di Ciracas, Nugroho B. Sukamdani jadi Ketua Umum Yayasan Pendidikan Sahid Jaya, dan Anda pegang Pondok Pesantren.

 

Haryadi lincah, hubungannya banyak, dan dia menjadi Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan Hipmi. Dia juga memegang pengembangan properti, sementara Yanti bertanggung jawab pada pengembangan jaringan manajemen.

 

Lalu, sama seperti perusahaan lainnya, pada saat krisis moneter menghantam negeri ini, Sahid Group pun mengalami masalah keuangan. Perusahaan terkendala kredit macet, dan diambil alih oleh BPPN.

 

Pada saat itu, saya kumpulkan anak-anak. Saya tanya mereka, apakah sanggup menangani perusahaan yang tengah sulit karena terkena akibat krisis. Semua menolak karena merasa belum punya pengalaman. Kemudian saya beri arahan. Tetapi saya tidak memutuskan. Mereka yang memutuskan. Intinya, pengusaha itu harus jujur, kalau tidak mampu katakan bahwa kita tidak mampu. Tapi harus berkomitmen untuk mengembalikan pinjaman kredit.

 

Untuk membayar utang pinjaman itu, saya arahkan, kita tidak mau menjual Sahid Jaya (hotel), karena ini adalah (bisnis) mahkotanya. Akhirnya kami menjual Hotel Sahid di Kuta, Bali. Namun, tidak semua sahamnya dijual, karena setelah dihitung hanya dengan 65%, sudah bisa membayar pinjaman. Akhirnya kami minoritas, hanya 35% di situ. Saat ini, nama hotel ini berubah menjadi Sahid Kuta Life Style yang berdiri di atas lahan seluas 5 hektare.

 

Bapak dekat dengan politik, apakah kedekatan itu membuat nyaman dalam berbisnis?

 

Saya selalu menekankan ke anak-anak, kita harus bisa punya akses ke partai-partai politik supaya tahu rencana mereka, sehingga bisa membuat rencana bisnis dan memberikan pelayanan yang maksimal.

 

Kedekatan ke politik tidak serta merta membuat Sahid Group memihak ke salah satu partai, karena kita tetap nonpartisan. Oleh karena itu, saya termasuk salah satu pengusaha yang dekat dengan 6 presiden.

 

Saat ini, anak saya Yanti Sukamdani sudah bergabung ke PDI-P. Saya membolehkannya, tetapi menegaskan kepada dia agar bisnis dikerjakan oleh adik-adiknya. Adapun Yanti boleh berkonsentrasi ke partai. Pesan saya kepada dia bahwa tujuan politik itu mulia, tetapi jangan sampai tergelincir. Materi itu perlu, tetapi kita harus ingat Allah SWT agar tidak menjadi manusia serakah.

 

Ada pesan untuk pebisnis baru?

 

Untuk berbisnis, siapa pun dia, harus jujur. Apalagi dalam bisnis yang bergelimang dengan materi. Materi itu tak akan habis kalau dicari. Untuk itu diperlukan kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan juga harus berprestrasi.

 

Jujur kepada Allah dan pada diri sendiri. Jika tidak mampu katakan tidak mampu. Tapi kalau jujur kepada orang lain sesama manusia harus tetap waspada, jangan sampai tertipu, atau istilahnya jangan jujur nggelujur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top