Sandiaga Uno: Om William itu mentor saya

Kepada Bisnis Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno, pemilik Saratoga Group dan Recapital Group, menuturkan pengalamannya dalam menggeluti bisnis. Berikut petikannya.Bisa diceritakan awal mulai terjun di dunia ini?Waktu kembali dari luar negeri 1997 situasi
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 Desember 2010  |  14:50 WIB

Kepada Bisnis Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno, pemilik Saratoga Group dan Recapital Group, menuturkan pengalamannya dalam menggeluti bisnis. Berikut petikannya.Bisa diceritakan awal mulai terjun di dunia ini?Waktu kembali dari luar negeri 1997 situasi terpuruk, nggak punya pekerjaan, maka terpikirlah untuk bikin sesuatu. Kebetulan aku kan punya background finansial, sekolahnya juga di situ. Waktu di luar negeri ketika ikut Pak Edward (Edward Soerjadjaja) itu memang menekuni keuangan dan investasi.Sementara Rosan juga backgroundnya sama. Maka kami buat perusahaan konsultasi keuangan. Klien-klien kami yang pertama adalah perusahaan yang tertimpa krisis.Lalu kapan mulai aktif membangun Saratoga?Pada 1998 ini saya mendapat peluang untuk bertemu lagi sama Pak Edwin. Karena sudah lama nggak ketemu, Pak Edwin menawarkan waktu itu bagaimana kalau mendirikan Saratoga. Saratoga itu lebih ke perusahaan private equity investing. Lebih ke arah investasi bukan konsultan keuangan seperti Recapital gini. Ya kami sudah mulai mengembangkan Saratoga pada akhir 1998.Dulunya Recapital itu murni memberikan advice keuangan, terus berkembang sehingga memiliki underwriting, sekuritas, terus berkembang punya asset management, punya asuransi, terus mulai jadi punya bank. Mimpinya ini hanya jadi financial advices saja.Transaksi yang jadi milestone untuk Recapital?Yang pertama kali, transaksi yang membuat kami hidup ya, kalau saya pribadi mengerjakan restrukturisasi Jawa Pos Group, milik Pak Dahlan Iskan. Waktu itu Jawa Pos mengalami kesulitan di unit properti mereka di Surabaya.Saya ingat sekali dengan Pak Eric Samola dan Pak Dahlan Iskan, malam-malam membuat struktur penyehatan kembalinya dan akhirnya disetujui oleh Prakarsa Jakarta. Kita pertama kali dibayar fee US$10.000 oleh Pak Dahlan pada 1997 akhir.Pantas Jawa Pos menjadi hebat...(Tertawa). Dan saya nggak pernah lupa hubungan dengan Pak Dahlan dan keluarga Samola. Mereka juga ingat setiap tahun, setiap anniversary wafatnya Pak Eric selalu diingetin. Wah kalau nggak dulu, nggak sempat terestrukturisasi, mungkin kami nggak survive sekarang. Saya senang Jawa Pos jauh lebih besar dan berada di mana-mana karena dulu hanya properti dan koran.Kalau buat saya yang memorable mungkin itu, karena salah satu restrukturisasi pertama yang tersulit dan waktu itu fee-nya dibayar bisa menghidupi kantor. Kalau Pak Rosan katanya McDonald. Dia juga nggak akan pernah lupa itu.Saya lihat dia ngetik sendiri, dia antar ke calon investor untuk membeli promisory note Ramako Gerbang Mas.Bagaimana membagi waktu antara Saratoga dan Recapital?Waktu awal 2000, Pak Edwin bilang sama saya, ini Saratoga harus lebih ditekuni. Karena waktu itu kita coba nge-bid buat Astra gagal, buat BCA gagal. Dia bilang saya mesti full time untuk besarin Saratoga.Mulai awal 2000 itu full time, di Recapital mundur. Kalau di Saratoga salah satu transaksi yang paling awal dan menarik buat kita di 2001 waktu kami mengambil alih Adaro dan nggak lama setelah itu Sumalindo. Setelah dua kegagalan mengambil alih Astra dan BCA gagal. Berhasil melakukan investasi di Adaro dan Sumalindo, setelah itu berkembang terus.Sekarang sih gampang karena saya nggak megang lagi di Recapital sudah nggak day to day dan detail. Di Recapital saya cuma ya sebagai pendiri, aktif di yayasan Recapitalnya, kalau ada keputusan-keputusan penting yang Pak Rosan harus consult ke saya, diajak bicara, tapi kalau untuk eksekusinya sudah nggak terlibat.Kalau Pak Rosan?Pak Rosan sih setiap hari. Di Saratoga dia komisaris, posisinya samalah sama saya. Bolak-balik.Apa pelajaran selama mengikuti bisnis keluarga Om William?Saya beruntung waktu itu sering dikirim sama Pak Edward untuk minta duit ke bapaknya. Jadi setiap ketemu sama beliau, saya perhatikan apa resep suksesnya beliau. Beliau itu punya satu yang membuat saya terkesan sampai sekarang. Pak William mentor saya karena kepekaan dan kepeduliannya terhadap sekelilingnya dan bagaimana dia bisa membaca tren ke depan.Dia nggak melihat bisnis-bisnis yang kita hadapi hari ini saja ternyata dia melihat 10-20 tahun ke depan. Terbukti setelah Pak William kembangkan otomotif, walaupun pengelola dan manajemen menolak Astra untuk diversifikasi ke agro, ke sawit, dia paksakan dengan uangnya sendiri, sampai dia buktikan bahwa itu sekarang menjadi portofolio yang paling penting buat Astra. Begitu dengan awal-awal bisnis mereka di pertambangan.Pernah juga waktu itu mereka melihat dari segi telekomunikasi, Astra kan sempat mau masuk ke telekomunikasi di zamannya Pak Edwin, itu kan jauh lebih awal dari yang lain-lain. Itu bagaimana visi dikembangkan. Itu satu yang saya lihat.Yang kedua, Om William di kredonya Astra itu bukan menjadikan Astra perusahaan terbesar, menjadikan Astra menjadi perusahaan terbaik, atau menjadikan Astra sebagai perusahaan teruntung. Tapi nomor satu menjadikan Astra sebagai aset bangsa, jadi nasionalismenya itu kental banget untuk seorang keturunan China.Pak Willam itu luar biasa, bahwa dia melihat yang pertama itu bangsa. Bangsa dan negara, rakyat. Dia sangat peduli. Saya ingat sekali waktu terjadi bakar-bakaran 1998, semua orang itu sudah pada pergi tuh. Dia jalan-jalan pakai celana pendek sama kita pakai Land Cruiser, mobilnya dia, terus saya ikut di belakang. Menengok daerah sekitarnya yang terbakar. Sampai dipaksa-paksa sama anaknya baru dia ke Singapura. Dia itu peduli sekali dengan sekitarnya.Bagaimana ceritanya bisa ikut keluarga Om William?Pak Edward lah. Pak Edward itu kawan lama dari ayah saya. Jadi waktu Pak Edward mau masuk bisnis minyak dan gas bumi, ayah saya waktu itu bekerja di Caltex, mereka berkolaborasi untuk grupnya. Kenal, kenal, kenal, tapi nggak memiliki kedekatan secara bisnis. Waktu saya kecil, umur 6 tahun kalau nggak salah ketemu di salah satu acara, Pak Edward pernah nyampain ke ibu saya,Sandi satu waktu akan ikut saya.Ya alhamdulillah, kata ibu saya, mudah-mudahanlah. Ketika lulus S1 ketemu di salah satu acara kawinan, ini loh yang dibilang dulu mau ikut Bapak. Dia bertanya, oh ya udah selesai?.Dia buka kartu nama dan minta untuk segera menelepon keesokan harinya. Lalu Pak Edward bilang kamu mulai Senin gabung di grup. Ya sudah. Di situ langsung, nggak pakai interview. Kerja setahun setengah ikut program beasiswanya dari grup dikirim ambil S2. Kembali lagi, grupnya collapse.Selama 8 tahun berikutnya ikut Pak Edward melanglang buana waktu Pak Edward nggak ada di Indonesia. Di situ aku kenal betul satu sosok pengusaha yang memiliki visi dan juga banyak belajar dari Pak Edward. Karena dia visinya mirip-mirip sama Om William sebetulnya, tapi bedanya Om William didukung sama Astra yang punya manajemen yang kuat.Setelah berhasil di bisnis, punya rencana untuk ke politik?Alhamdulillah belum ada (tertawa). Karena politik mungkin binatang lain. Saya sering geleng-geleng kepala kalau melihat satu hal di dalam bisnis yang kalau diteropong, misalnya Bank Century, sangat jelas bagi kami di dunia bisnis, begitu melalui proses politik perkembangannya bisa ke mana-mana. Wah hebat juga. Ini gila nih kalau masuk ke ranah politik.Satu hal yang sebetulnya kelihatannya jelas sekali ternyata sangat tidak jelas, hal yang sangat salah tiba-tiba sangat benar, terus hal yang sangat benar bisa salah gitu loh. Parameter dan hitung-hitungannya totally lain. Mungkin perut saya belum mencerna dinamika di politik. Saya rasa mungkin salah satu naik kelasnya seseorang yang sudah sukses di bisnis itu nggak semua ke politik, tapi mungkin di bidang sosial.Saya rasa itu (bidang sosial) salah satu pilar yang kurang terjaga. Ke politik itu akhirnya semuanya mengejar kekuasaan, nggak membangun kelembagaannya, saya belum melihat secara politis bahwa ideologi politik itu menjadi panglima, tapi semuanya sangat case by case, ad hoc, pragmatis, dan lain-lain. Menarik sih ini kan demokrasi muda. Tetapi kalau melihat sampai hari ini belum ada yang menggerakkan hati saya untuk ke sana.

 

Biografi
Nama LengkapSandiaga S. Uno
LahirRumbai, 28 Juni 1969
IstriNoor Asiah
Anak
  • Anneesha Atheera Uno
  • Amyra Atheefa Uno
Pendidikan
  • Studi di Wichita State University
  • Master di George Washington University

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top