Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merger Lean Start-up, Model Bisnis, dan Disrupted Innovation

Start-up company memiliki keunikan tersendiri khususnya menciptakan model bisnis baru  yang mengguncang pasar karena bersifat disrupted innovation. Pendatang baru ini bisa datang dan pergi dengan mudah. Hanya 25% yang bisa bertahan.
Endy Subiantoro
Endy Subiantoro - Bisnis.com 27 Juni 2013  |  02:01 WIB
Merger Lean Start-up, Model Bisnis, dan Disrupted Innovation

Start-up company memiliki keunikan tersendiri khususnya menciptakan model bisnis baru  yang mengguncang pasar karena bersifat disrupted innovation. Pendatang baru ini bisa datang dan pergi dengan mudah. Hanya 25% yang bisa bertahan.

Meluncurkan perusahaan baru, apakah itu start-up di bidang teknologi, usaha kecil, atau inisiatif di internal perusahaan besar selalu menjadi pertaruhan sukses atau gagal (hit-or-miss).

Resep lama, menurut Steve Blank (HBR, Mei 2013),manajemen menyiapkan business plan, mencari calon  investor, membangun tim, meluncurkan produk, dan mulai berjualan sekuat tenaga. Hasilnya, bisa saja nihil. Riset terbaru dari Shikhar Ghosh dari Harvard Business School membuktikan 75% start up company gagal total.

Selain faktor ketidakpastian—karena itu perusahaan hebat, menurut Jim Collins, mengantisipasinya dengan memegang teguh disiplin fanatik dan paranoid produktif—ada beberapa terkait mitos seputar pengembangan produk (product development).

Thomke & Reinertsen mengatakan paling tidak ada enam mitos terkait pengembangan produk di start-up company yaitu (1) Utilitas sumberdaya yang tinggi akan mendongkrak kinerja (2) Pemrosesan kerja dalam batch yang besar akan meningkatkan proses ekonomi (3) Rencana kami hebat; kami tinggal fokus di situ (4) Semakin cepat proyek itu dimulai, semakin cepat selesainya (5) Semakin banyak feature yang dilekatkan di produk, semakin senang pelanggan (6) Kami akan lebih sukses jika kami sudah bertindak tepat di waktu awal.

Lean start-up company

Kini arus pembalikan sedang terjadi, proses yang mengurangi risiko pada start-up. Metodelogi ini disebut lean start-up. Sekolah bisnis terkemuka seperti Stanford, Harvard, Berkeley, dan Columbia telah mengajarkan resep lean start-up ini.

Yang menarik, ketimbang terpaku pada business plan, lean start up company lebih memilih mendengarkan suara pelanggan sebelum mantap menemukan model bisnis unik. Ada proses trial and error. Tahapannya.

Pertama, customer discovery.Para pendiri menerjemahkan ide ke dalam hipotesis model bisnis, menguji asumsi kebutuhan pelanggan, kemudian menciptakan produk tahap awal. Hipotesis model bisnis dituangkan dalam bisnis model canvas milik Alexander Osterwalder.

Kedua, customer validation. Start-up melanjutkan uji hipotesis dan mencoba memvalidasi minat pelanggan lewat order tahap awal atau penggunaan produk. Jika tidak ada minat, start-up bisa mengulang proses dari awal lagi.

Ketiga, customer creation. Produk layak dijual. Menggunakan hipotesis yang sudah terbukti, start-up mengembangkan pemasaran, penjualan dan menaikkan skala bisnis.

Keempat, company building.Transisi bisnis dari model start-up ke model eksekusi fungsi departemen.

 Lean start-up berbeda dibandingkan formula start-up tradisional karena sejumlah alasan.

(1) Strategi: Lean start up: Model bisnis dan hypothesis driven sedangkan (tradisional: Business plan dan Implementation-driven).

(2) Proses produk baru: pengembangan pelanggan dan menguji hipotesis  di lapangan atau tidak hanya di belakang meja (tradisional: manajemen produk dan Siap-siapa masuk pasar secara bertahap)

(3) Rekayasa: pengembangan yang cerdas (agile development) & membangun produk secara bertahap (tradisional: waterfall development dan mengembangkan produk secara penuh).

(4) Pelaporan finansial: Matrik dan biaya akuisisi pelanggan, lifetime value customer, serta churn cost (tradisional: akunting dan laporan laba-rugi, cashflow, dan neraca).

(5) Menyikapi kegagalan : Diharapkan dan diatasi dengan ide yang lebih tepat (tradisional: dikecualikan & memecat eksekutif).

(6) Kecepatan: Cepat dan beroperasi dengan data secukupnya (tradisional: Terukur & beroperasi dengan data lengkap).

Ciri-ciri disrupted innovation

Jika dicermati ciri lean start-up relatif mirip dengan disrupted innovation.  Larry Downes & Paul F. Nunes (Big Bang Disruption, HBR, Maret 2013)  menilai disrupted innovation menciptakan bencana atau disrupted disaster.  Fenomena disrupted innovator sebelumnya, pernah dikaji oleh Bower dan Christensen, 1995.

Big Bang Disruption memiliki ciri –ciri  (1) unencumbered development yakni  pengembangannya tanpa beban (liabilitas atau apapun) (2) Unconstrained growth: pola perkembangannya tidak mengikuti pola distribusi normal. Artinya, begitu produk /teknologi baru muncul langsung dikonsumsi trial user (pengguna baru) dan diikuti lonjakan early adopter (pengguna berikutnya). Namun siklusnya berlangsung singkat begitu ada produk-teknologi baru.

(3) Undisciplined strategy. Mereka tidak mengikuti pola baku strategi kompetisi. Biasanya, bisnis mensinergikan tujuan strategiknya dengan salah satu dari tiga disiplin yaitu low cost, product leadership, atau customer intimacy.

Contoh sukses  lean start-up sekaligus disrupted innovator ini diwakili pendirinya yang masih relatif mudah (di bawah 30 tahun). 

Majalah Forbes memajang anak muda disruptors, inovator, dan entrepreneur di bawah 30 tahun dalam 15 kategori. Cakupannya mulai dari energy hingga Hollywood. Mereka antara lain  Mark Zuckerberg, Lady Gaga and LeBron James, sedangkan yang lain adalah Nick D’Aloisio (pencipta Summly),   Danielle Fong and Alexander Wang.

Di Indonesia  ada beberapa contoh seperti Aldi Haryopratomo pencipta microlending RUMA (rekan Usaha Mikro Anda)—di AS ada KIVA—Melissa Sunjaya (website tulisan.com), gerakan desa membangun  (www.melung. or.id) dan efek rumah kaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manajemen strategik disrupted innovation lean start-up model bisnis business plan
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top