Panen Laba dari Cenderamata Nan Unik

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu kerepotan yang dihadapi calon pengantin menjelang hari pernikahan adalah mempersiapkan suvenir. Persiapan cenderamata bagi para tamu undangan bahkan terkadang nyaris sama hebohnya dengan persiapan katering dan lain sebagai­nya.
Fitri Sartina Dewi
Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 18 Juli 2013  |  03:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu kerepotan yang dihadapi calon pengantin menjelang hari pernikahan adalah mempersiapkan suvenir. Persiapan cenderamata bagi para tamu undangan bahkan terkadang nyaris sama hebohnya dengan persiapan katering dan lain sebagai­nya.

Jangan heran! Sebagai si empunya pesta, tentu saja kita menghendaki cenderamata yang layak dikenang para tamu.

Kini, penggunaan suvenir semakin marak. Selain sebagai cen­de­­ramata pada acara per­­­nikahan, suvenir juga disiapkan untuk acara kelahiran, ulang tahun anak, pesta kelulusan, hingga kematian sekalipun.

Bentuknya pun bergantung acara yang diadakan. Untuk pernikahan misalnya, suvenir yang di­­­gunakan antara lain tempelan kulkas, kipas, wadah tusuk gigi, pi­­gur­a foto, dompet, tempat kartu na­­ma.

Suvenir juga banyak digunakan oleh korporasi. Bagi korporasi, tentu saja tujuan penggunaannya berbeda de­­­ngan acara keluarga. Perusahaan pada umumnya menggunakan suvenir untuk tujuan branding.

Adapula yang menggunakan sebagai media promosi dan senjata pemasaran. Ti­­­dak sedikit pula yang mengguna­kannya sebagai gimmick untuk men­­­dapatkan pelanggan atau hanya se­­­kadar gift bagi nasabahnya.

Semakin banyak perusahaan, ke­­­butuhan terhadap suvenir pun semakin besar. Begitu pula semakin sering acara keluarga digelar, peng­­gu­­naan suvenir pun semakin tinggi. Maka tak heran, produksi suvenir menjadi peluang bisnis yang tak di­­­le­­­watkan begitu saja.

Apalagi, kaum remaja di Tanah Air kini mulai ikut-ikutan mengadopsi sejumlah pera­ya­­an di Barat. Praktis, kebutuhan akan berbagai macam barang ke­­­nang­an atau hadiah juga semakin be­­­sar.

Rudi Purwanto adalah salah satu di antara penikmat laba dari bisnis produksi suvenir. Pemilik usaha Edel­­weiss Gift and Souvenir ini su­­­dah berkecimpung dalam bisnis ter­­­sebut selama 8 tahun.

Rudi memfokuskan suvenirnya untuk melayani permintaan perso­nal, korporasi, dan instansi pemerintah. Me­­­nu­­rut Rudi, bisnis suvenir ini memiliki prospek yang sangat baik dan akan terus berkembang seiring de­ngan ber­­­tambahnya jumlah per­­­usa­­­­­haan di In­­­donesia.

“Setiap perusahaan akan selalu mem­­­butuhkan suvenir sebagai sarana promosi mereka kepada masyarakat,” ujar Rudi. Alasan inilah yang membuat Rudi terjun dalam bisnis ter­­­sebut.

Dengan modal awal Rp100 juta, Rudi memberanikan diri memulai usaha ini. Suvenir yang disediakan antara lain jam dinding, payung, tumbler, set perawatan kuku, jam meja, notebook, dan produk-produk lain­­nya. Harga yang ditawarkan pun cukup beragam, mulai dari Rp2.000 hing­­­ga Rp300.000 per unit.

Minat pasar yang tinggi terhadap pro­­­duk suvenir membuat Rudi tidak kesulitan menembus titik impas. Hanya kurang butuh 1 tahun, Rudi berhasil mencapai break event point (BEP).

Di antara berbagai suvenir yang ter­­­sedia, payung merupakan produk yang paling banyak diminati oleh per­­­­­­usahaan dan lembaga swasta. Se­­­lain karena fungsinya, payung dinilai merupakan sarana promosi yang te­­­pat, karena dianggap sebagai iklan berjalan. Ketika dipakai, setiap orang dapat melihat nama perusahaan yang tertera pada payung itu.

Peluang bisnis suvenir ini juga di­­­la­­koni Dian, pemilik Be Smile Pro­­­duction. Awalnya, Dian bekerja seba­­gai Event Organizer (EO). Profesinya ter­­­sebut membuat dia terlibat dalam se­­­jumlah acara-acara besar, salah satunya seminar.

Dalam setiap seminar yang diikuti, Dian kerap menyaksikan perusahaan atau instansi pemerintah yang menggelar acara itu memberikan su­­­venir kepada tamu undangan. Me­­­li­­­hat peluang itu, Dian memutuskan un­­­tuk terjun ke bisnis suvenir, tepatnya pada 2003.

Selain produk suvenir yang umum, Dian juga menerima pesanan goodie bag, kaos, dan seragam.  “Kami pernah mengerjakan pesanan kaos sebanyak 40.000 untuk acara ulang tahun Blue Bird” ujar­­­nya.

Dengan modal awal yang terbilang cukup terbatas, yakni Rp2 juta—Rp3 juta, Dian kini mampu me­­­raup omzet fantastis mulai dari Rp200 juta—Rp300 juta. Gerainya pun bertebaran di lima lokasi di wi­­­layah Jakarta dan Tangerang.

Keberhasilannya melipatgandakan pendapatannya adalah buah kerja ke­­­ras dan kegigihan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Selain itu, Dian sangat mengutamakan kua­­litas dan waktu pembuatan suvenir. Kecepatan dan kapasitas produksi dianggap sebagai keunggulan yang dimiliki.

Menurutnya, banyak pengusaha bisnis suvenir yang seringkali tidak sanggup mengerjakan pesanan da­­­lam jumlah yang besar. Namun, Di­­an dan karyawannya selalu berusaha untuk menyanggupi jumlah pesanan yang diinginkan pelanggan.

Merchandise Pribadi

Pemain lainnya dalam bisnis suvenir adalah Kedai Digital, milik Sap­­tua­­ri Sugiharto. Saptuari me­­­mulai bisnis ini sejak 2005. Saptuari meng­aku terjun ke bisnis ini karena me­­­li­­­hat fakta bahwa suvenir dan merchan­­­dise dibutuhkan oleh siapa saja.

Berbekal keahliannya dalam mendesain, Saptuari memberanikan diri untuk memulai usaha tersebut. Mo­­­dalnya kala itu hanya sebesar Rp18 juta yang didapat dari ta­­­bung­­an­nya dan hasil menggadai tanah sang ibu.

Kedai pertama yang dibukanya berlokasi di Jl. Cenderawasih, Demangan Baru, Yogyakarta. Konsep yang diusung adalah merchandise pribadi. Dia terinspirasi dari merchandise para artis untuk para penggemarnya.

Kendati demikian, Saptuari tak menutup pintu bagi segmen korporasi. “Sebanyak 60% untuk merchandise pribadi. Sisanya untuk korporasi.” Produk yang ditawarkan bervariasi, mulai dari gantungan kunci, payung, jam dinding, tas, pin clock, mug, celengan, dan lain seba­gainya.

Dengan sasaran pasar adalah remaja, Kedai Digital menggunakan strategi khusus yang bisa menarik minat para remaja. “Kaum remaja biasanya suka narsis. Mereka suka tempel foto pada suvenir yang dipesan. Kami manfaatkan itu,” tutur Saptuari.

5 Tahun pertama menjalankan bisnis ini, Saptuari harus merasakan jatuh bangun. Kejatuhan terparah yang dialaminya adalah pada 2006, ketika Yogyakarya diguncang gempa. “Kedai digital cabang pertama hancur. Butuh recovery selama 3 bulan sebelum akhirnya bangkit lagi.”

Soal omzet yang diraup, pengusaha muda itu enggan menjawabnya. Namun, usaha yang telah berjalan selama 8 tahun itu telah bercabang di mana-mana. Saptuari memang menawarkan kemitraan kepada investor yang ingin terjun di bisnis tersebut.

Saptuari optimistis bisnis ini masih akan tumbuh ke depannya. “Selama perusahaan masih butuh promosi, bisnis ini masih dibutuhkan. Untuk paasr personal, selagi masih ada acara bersifat personal, merchandise masih berpeluang masuk.”

Hanya saja, menurut Saptuari, inovasi menjadi hal terpenting dalam menjalankan bisnis tersebut agar pasar tidak merasa bosan. (Maria Y. Benyamin)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
merek, souvenir, branding

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top