Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kuliner Indonesia, Potensi Masakan Nusantara di Pasar Dunia

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah kuliner Indonesia tak terhitung banyaknya. Tercatat ada lebih dari 5.300 makanan asli Indonesia. Sayangnya, hingga kini belum ada kuliner Indonesia yang menjadi ciri khas dan dikenal luas di mata internasional seperti halnya
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 22 Agustus 2013  |  08:13 WIB
Kuliner Indonesia, Potensi Masakan Nusantara di Pasar Dunia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah kuliner Indonesia tak terhitung banyaknya. Tercatat ada lebih dari 5.300 makanan asli Indonesia. Sayangnya, hingga kini belum ada kuliner Indonesia yang menjadi ciri khas dan dikenal luas di mata internasional seperti halnya sushi atau tom yam dari Jepang.

Keberagaman jumlah kuliner nasional yang mencapai ribuan jenis itu, rupanya membuat pemerintah sedikit kesulitan menemukan kuliner yang secara khusus mewakili Indonesia.

Hingga akhirnya, menjelang akhir 2012, ditetapkanlah 30 ikon kuliner Indonesia yang dinilai paling layak mewakili masakan nasional di kancah dunia internasional, dengan Tumpeng Nusantara dikukuhkan sebagai pengikat dari ke-30 ikon kuliner tersebut.

Akhyaruddin, Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, dan Insentif Kemenparekraf menuturkan pemerintah dan para profesional di bidang kuliner telah mencoba lebih dari 30 tahun untuk membangun image kuliner secara global. Belum adanya kuliner yang dijadikan ikon tersebut mempersulit upaya pengenalan masakan khas Indonesia di luar negeri.

“Untuk berkiprah ke mancanegara, kita harus mampu fokus untuk menetapkan makanan yang dapat dijadikan ikon. Dengan terpilihnya ikon-ikon ini, diharapkan kita mampu bersaing dan menunjukan kekhasan Indonesia,” ucapnya dalam Bincang Pengembangan Kuliner Indonesia ke Mancanegara, Selasa (20/8/2013).

William Wongso, Pakar Kuliner Indonesia, menuturkan faktor yang membuat Indonesia kurang tampil di mancanegara ialah kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan potensi yang dimilikinya.

Ironisnya lagi, praktisi-praktisi di bidang kuli ner lebih bangga mempelajari masakan western, atau belajar tentang cara mempercantik masakan internasional.

“Sudah banyak desainer dan penata rambut Indonesia yang dikenal secara luas di mancanegara, tetapi belum ada satupun nama chef yang secara profesional mewakili masakan dengan nama Indonesia,” tuturnya.

Selain itu, dia juga melihat Indonesia belum memiliki Kampung Indonesia di luar negeri, berbeda dengan masyarakat Vietnam atau India yang mampu membuat wilayah, sekaligus memperkuat kuliner khas negaranya di kawasan tersebut.

“Dengan adanya Kampung Indone sia kita bisa memperkuat budaya Indonesia di luar negeri, terutama kulinernya. Sayang Indonesia belum ada komunitas seperti halnya Vietnam, Thailand, atau India.”

Dinno Patti Djalal, Duta Besar RI Untuk Amerika Serikat, menuturkan masakan Indonesia yang memiliki cita rasa serta bumbu yang kaya sebetulnya merupakan potensi yang be sar. Tidak sedikit warga Amerika yang menyukai masakan khas Indonesia, selain tentu saja masyarakat In donesia yang berada di luar negeri.

Hanya saja, masih jarang restoran Indonesia yang berkiprah di luar negeri, termasuk Amerika Serikat, terutama restoran dengan level high end yang memiliki nama besar serta dikenal luas.

Dia menuturkan hal paling utama yang menyebabkan kuliner Indonesia tidak seberkembang kuliner dari negara lain ialah kurangnya spirit entrepreneur.

“Sebetulnya peluang sa ngat besar dan banyak tetapi belum banyak orang Indoensia yang berani untuk membuka restoran di luar negeri. Spirit entrepreneur-nya masih kurang,” tegasnya.

Padahal, untuk membuat masakan Indonesia mendunia, dibutuhkan jiwa-jiwa entrepreneur yang berani mengambil risiko dan menangkap peluang besar yang tersaji di depan mata. “Banyak yang belum berani mengambil risiko, ini yang membuat Indonesia kalah dibandingkan dengan Korea, China, dan Malaysia.”

Selain itu, secara desain restoran Indonesia, juga dinilai masih kurang diperhatikan. Berbeda dengan restoran-restoran masakan negara lainnya yang mampu memunculkan sua sana yang nyaman, tradisional, na mun modern sehingga membuat pelanggan betah berlama-lama.

“Makanan sudah enak, tapi yang juga perlu diperhatikan ialah bagaimana mengemas dan membuat suasana menjadi lebih nyaman. Dalam hal ini kita kalah dari negara lain,” tuturnya.

GENCARKAN PROMOSI

Nurul Ikhwan, Kasubdit Bidang Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengatakan selain dari sisi pelaku usaha, pemerintah juga harus secara serius mempromosikan dan mendengungkan ikon-ikon Nusantara di dunia internasional.

“Format ini harus diseriusi kalau tidak, apa yang sudah dicetuskan akan mati suri,” tuturnya.

BKPM pun akan membantu men ggemakan kuliner khas Indonesia terutama dalam setiap perjalanan promosi ke luar negeri yang dilakukan selama 20 kali dalam 1 tahun. Pada saat itulah seluruh masakan khas Indonesia disajikan kepada para tamu negara.

Begitu pula, dia berharap agar pada setiap acara kenegaraan di luar negeri serta tamu-tamu yang datang ke Kedutaan Besar RI seharusnya disajikan kuliner khas tersebut se hingga namanya akan semakin dikenal.

Selain itu, dia juga menilai perlu adanya dukungan secara rill dari pemerintah dengan memberikan insentif kepada para pelaku usaha kuliner yang akan membuka restoran di negara luar.

“Modelnya orang Indonesia itu harus ada yang ketokin pintu dulu.Oleh karena itu, Kemenparekraf dapat mengusulkan kepada Kemenkeu agar pelaku usaha diberikan insentif. Tanpa dukungan dari pemerintah, tentu akan sulit.” Dengan adanya dorongan dari pemerintah, sambungnya, akan semakin banyak pebisnis yang berani untuk ekspansi  membuka restoran di luar negeri.

Secara terpisah, Wakil Presiden Association of Culinary Professional (ACP) Indonesia Stefu Santoso mengatakan hampir semua sekolah menengah kejuruan atau perguruan tinggi di Indonesia menggunakan buku referensi yang hanya mengajarkan bagaimana membuat menu kontinental.

Berbagai kompetisi masak yang digelar, menurutnya, juga lebih meng utamakan menu-menu asing.

Ini semakin menjadikan juru masak nasional enggan untuk memperdalam ilmu mengenai kuliner khas daerah Tanah Air. Padahal, lanjutnya, permintaan kuliner Indonesia di mancanegara sangat tinggi dan prospek bisnisnya sangat bagus.

Ini terbukti ketika dirinya mengadakan pameran kuliner untuk 1.000 orang di Shanghai, China. Peserta pameran menghabiskan suguhan 400 mangkok soto ayam dan ribuan tusuk sate dalam sehari.

Dia menilai sebenarnya buku referensi mengenai kuliner khas Indonesia sudah banyak, tetapi belum ada sekolah maupun perguruan tinggi yang mau menggunakannya sebagai acuan. Padahal, pemerintah Indonesia getol mensosialisasikan 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia.

Dia berharap baik pemerintah, pe merhati kuliner, dan sektor pendidikan, bersama-sama untuk menggencarkan pengembangan menu Indonesia dari sisi juru masak agar bisa bernilai tambah di pasar internasional. (Rio Sandy Pradana)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuliner nusantara

Sumber : Bisnis Indonesia, 22/8/2013

Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top