Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Batik, Adu Kreatif di Ranah Motif

Bisnis.com, JAKARTA Setelah resmi masuk ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia Unesco pada 2009, batik menjadi kian populer di Indonesia.Hampir setiap provinsi atau kota di Tanah Air mulai berani memunculkan motif batik
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 11 September 2013  |  08:11 WIB
Bisnis Batik, Adu Kreatif di Ranah Motif

Bisnis.com, JAKARTA Setelah resmi masuk ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia Unesco pada 2009, batik menjadi kian populer di Indonesia.Hampir setiap provinsi atau kota di Tanah Air mulai berani memunculkan motif batik khas andalannya.

Batik yang identik dengan stigma busana ‘khusus’ untuk orang tua perlahan kian terkikis seiring dengan berkembangnya motif dan desain modis khas anak muda.

Namun, dengan kayanya kreasi motif dari suku-suku dan budaya yang mengisi Nusantara boleh jadi membuat sebagian masyarakat yang telah modern ini belum me ngenal, kurang pengetahuan atau bahkan tidak menyadari motif batik khas daerahnya sendiri. Salah satu daerah yang hampir kehilangan motif batiknya adalah Semarang.

Pendiri Batik Semarang 16 Umi S. Adi Susilo, misalnya, menceritakan masyarakat cenderung lebih mengenal batik khas Yogyakarta, Solo, atau Pekalongan. Saat mengadakan pamer an atau pelatihan membatik selalu ada orang yang bertanya mengenai motif batik khas Semarang.

Saat terjadi peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang, Kampung Batik, di kawasan Bubakan menjadi basis kekuatan pemuda nasional menjadi sasaran pembakaran oleh tentara Jepang. Setelah peristiwa tersebut hampir tidak ada lagi aktivitas membatik dan berdagang di kawasan tersebut.

“Hancurnya kampung batik tersebut menjadikan Semarang tidak lagi memproduksi batik dan kehilangan motif khasnya,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini. Ini yang memotivasi ibu dari tiga anak untuk menciptakan sendiri motif khas Kota Atlas. Niat mulia ini ternyata tidak selalu berjalan mulus.

Dia acapkali menerima komentar negatif dan sinis dari masyarakat. Agar hasil karyanya tidak diremeh kan, pemenang UKM Berprestasi Femina 2008 ini lantas menggandeng akademisi, ilmuwan, dan kalangan budayawan untuk menciptakan motif, memilih warna, dan mempelajari selera masyarakat.

Beberapa tokoh yang dilibatkan dalam pencarian motif batik Semarangan ini diantaranya sejarawan Dewi Yuliati dan arsitek Widya Wija yanti. Langkah riset sebelum berproduksi ini selalu dia pertahankan.

Saat ini, perempuan kelahiran Bekasi ini telah memiliki 219 motif batik dan telah didaftarkan pada Direktorat Jenderal Hak dan Kekayaan Intelektual (HKI). Umi membagi motif batik Semarangan tersebut dalam lima ikon.

Pertama, ikon bangunan di antaranya Tugu Muda, Gereja Blenduk, Blekok Srondol, Lawang Sewu, Jembatan Mberok, dan Asem. Kedua, ikon sejarah ada motif Cheng Ho dan Marabunta.

Ketiga, ikon kuliner terdapat motif Lumpia, Mie Kopyok, dan Tahu Gimbal. Keempat, ikon flora dan fauna antara lain motif Merak Njeprak, Merak Mlerok Latar Asem, dan Cattleya. Kelima, ikon kombinasi klasik kontemporer yakni motif Parang Tugu Muda, Sido Roning Asem, dan Ceplok Cattleya.

Dalam memproduksi batik, Umi menggunakan pewarna alami. Selain ramah lingkungan hasil pewarnaan pada kain terlihat natural meskipun prosesnya membutuhkan waktu lebih lama. Ia menggunakan tawas, indigo, jelawe, secang, tingi, tunjung, somba, dan tegeran.

Batik Semarang 16 ini berdiri di atas lahan seluas 2.500 hektare yang terletak di Desa Sumberejo Kecamatan Tembalang, Semarang. Bangunan sanggar yang mempunyai total investasi hingga Rp1 miliar ini terdiri atas workshop, pelatihan, dan galeri.

Setiap bulan, lanjutnya, Batik Semarang 16 mencatatkan pendapatan hingga Rp100 juta dengan total produksi sekitar 1.000 yard batik. Umi dibantu oleh 35 orang karyawan yang sebagian besar ibu-ibu yang berdomisili di Desa Meteseh, wilayah sekitar sanggar. Umi menjelaskan mereka menyelesaikan proses membatik di rumah.

Hasil batik yang telah selesai kemudian dikumpulkan ke sanggar milik Umi untuk menerima upah. Kegiatan ini diklaim bisa membantu perekonomian keluarga di sekitarnya.

Secara terpisah, Harry Akbar pemilik galeri Desmiaty yang berlokasi di Jambi juga mengeluhkan hal serupa. Kesadaran kaum muda di Jambi untuk mengembangkan batik daerah tersebut masih minim. Mayoritas para perajin batik di daerahnya hanya untuk mencukupi kebutuhan dan menambah uang pemasukan keluarga.

Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2012 ini mengakui batik Jambi memang masih kalah tenar dibandingkan dengan batik Jawa. Perbedaan mendasar keduanya terletak pada motif. Jika batik Jawa identik dengan titik dan garis. Sedangkan batik Jambi menonjolkan flora dan fauna daerah yang bermakna dan berfilosofi.

Harry memberikan contoh motif batik Jambi yang di antaranya motif Duren Pecah, Sungai Batanghari, dan Kapal Sanggat. Motif Duren Pecah yang melambangkan dua kepribadian seseorang yakni sifat baik dan buruk.

Lalu ada pula motif Sungai Batanghari yang mencerminkan rejeki. Motif Kapal Sanggat yang artinya kapal kandas atau karam, melambangkan kehati-hatian manusia sebelum melakukan aktivitas. Motif dan warna batik menjadi titik perhatiannya untuk disesuaikan dengan tren mode dan selera pelanggan.

Teknik pewarnaan yang dipakai hanya cap dan tulis karena tidak menyebabkan warna luntur saat dicuci.

Bahan alami masih mendominasi pewarna batik yang digunakan selain bahan kimia untuk warna tertentu. Bahan alami dinilai lebih halus dan terlihat natural. Bahan pewarna yang dia gunakan antara lain serbuk kayu bulian, kulit jengkol, buah pinang, dan daun alpukat.

Omzet pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Jambi ini rata-rata mulai dari Rp50 juta sampai dengan Rp75 juta per bulan dengan dibantu pekerja tetap sebanyak 8 orang. Jika permintaan tinggi biasanya dia mempekerjakan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya di Kelurahan Thehok, Jambi Selatan. Kisaran harga produk yang dijual antara Rp75.000 sampai Rp15 juta.

Batik tulis berbahan sutra menjadi produk yang paling mahal dengan waktu minimal pengerjaan 2 bulan. Produk lain di antaranya baju pria, baju wanita, long dress, asesoris batik, dan selendang.

Batik yang diproduksi tidak pasaran, semua sesuai dengan keinginan pembeli. Setiap pesanan selalu berbeda warna dan motif. Hal ini dimak sudkan agar produksinya eksklusif.

Niatnya memang mulia, fokus untuk mempelopori kewirausahaan dan berbagi ilmu kepada orang lain terutama generasi muda. Anak pertama dari dua bersaudara ini memiliki 15 mahasiswa binaan dan 25 orang lainnya dari kalangan umum.

KLAIM BATIK KLASIK

Menjamurnya bisnis batik membuat orang tidak segan-segan untuk menciptakan motif hasil kreasinya sendiri. Stereotip batik yang dulu dikenal formal dan terkesan hanya untuk orang tua menjadi luntur dengan beragam warna dan motif yang diciptakan untuk digemari kaum muda. Namun, membuat motif batik juga harus ada etikanya.

Pembina Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) Poppy Dharsono mengungkapkan setiap orang berhak membuat desain motif batik sendiri. Kebebasan ini dinilai bagus untuk membudayakan penggunaan batik pada masyarakat.

“Namun, motif batik yang telah diciptakan tidak boleh diklaim sebagai motif batik klasik asli suatu daerah,” ujarnya kepada Bisnis, barubaru ini.

Perlu diingat, motif batik hasil kreasi sendiri tergolong batik kontemporer, bukan batik klasik. Jadi, tidak semestinya batik tersebut bisa diklaim sebagai ciri khas suatu daerah.

Dia melanjutkan, motif batik yang diciptakan hendaknya sesuai dengan motif batik lama suatu daerah. Tentu saja untuk menciptakan motif batik diperlukan riset agar tidak menyalahi pakem dan budaya.

Dalam menciptakan motif, pelaku usaha harus melakukan riset pasar untuk menentukan target usia dari calon pembeli, daerah, dan kelas ma syarakat. Ketiga hal ini sangat penting untuk menentukan bahan dan metode batik yang digunakan.

Batik yang menggunakan metode tulis dan berbahan kain sutra tentu saja akan mempunyai banderol harga yang lumayan mahal dibandingkan dengan harga batik cap.

Menurutnya, pembuatan batik yang ideal diharapkan menggunakan pewarna dari bahan alami. Selain tidak merusak lingkungan, hasil batik yang menggunakan pewarna ini bisa terlihat lebih natural.

Adapun, dalam menjalankan proses produksi pelaku usaha harus memperhatikan sistem air limbah. Jangan sampai sisa produksi ini berdampak terhadap ekosistem pada lingkungan sekitar.

“Usaha batik sekarang banyak yang memberdayakan masyarakat sekitar untuk bekerja, saya pikir ini bisa dicontoh!,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kreatif batik motif
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top