Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konsumen Kian Sadar Santapan Sehat, Katering Organik Berkembang

Tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat membuat bahan pangan organik naik daun. Banyak pelaku usaha yang memanfaatkan hal ini dengan cara memproduksi makanan olahan organik.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 04 Februari 2014  |  13:58 WIB
  Makanan organik dibuat dari tanaman organik.
Makanan organik dibuat dari tanaman organik.

Bisnis.com, JAKARTA - Tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat membuat bahan pangan organik naik daun. Banyak pelaku usaha yang memanfaatkan hal ini dengan cara memproduksi makanan olahan organik yang bernilai gizi tinggi. Selain mengampanyekan gaya hidup sehat ke masyarakat, mereka juga mendulang untung yang cukup besar.  

Produk organik adalah bahan-bahan yang diproduksi tanpa menggunakan bahan-bahan kimia, seperti pestisida kimia, pupuk sintetis, rekayasa genetika, antibiotik, hormon pertumbuhan dan bahan-bahan kimia lainnya. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari sayuran, buah-buahan, beras, daging ayam, hingga bumbu dapur.

Manfaat terbesar dari makanan organik adalah mereka bernilai gizi yang lebih tinggi. Hal itu bisa terjadi karena dalam proses tumbuhnya, bahan makanan tersebut tak diberikan pestisida ataupun suntikan hormon di dalamnya. Proses makanan organik hanya melalui proses alami.

Popularitas produk organik di Indonesia kian berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengaplikasikan gaya hidup sehat. Tak hanya berguna bagi masyarakat, munculnya produk organik juga membuka peluang usaha baru, khususnya di bidang kuliner. 

Kesadaran masyarakat menyantap makanan sehat menjadi peluang gurih bagi pengusaha katering. Agar mendapatkan asupan gizi yang maksimal, pebisnis katering tak lupa memanfaatkan bahan-bahan organik yang baik untuk kesehatan. Hal inilah yang dilakukan oleh Adetya Herdini Hutami, 30. Meskipun baru berbisnis katering organik setengah tahun lalu, orderan konsumen tak henti-hentinya datang.

Adetya menuturkan dia dan suaminya telah menggalakkan gaya hidup sehat sejak lama. Untuk menjaga nutrisi, dia pun memasak makanan yang akan disantap oleh dia dan keluarga. Suatu hari, Adetya bertemu dengan sahabatnya yang berdomisili di Bali, Reshi, yang juga sadar akan hidup sehat. Dia mengajak Reshi berbisnis katering organik.

Akhirnya, berdirilah TRF Homemade pada 2013. Awalnya, mereka menyediakan aneka menu sarapan sehat berbahan organik. “Tingginya aktivitas masyarakat membuat banyak orang yang tidak sempat menyantap sarapan. Kami coba tawarkan menu sarapan yang bervariasi dan tentunya kaya nutrisi,” katanya.

Tentang penggunaan bahan organik, Adetya menuturkan bahan  organik memiliki manfaat jangka pendek dan jangka panjang. Manfaat jangka pendek dari kebiasaan mengonsumsi bahan-bahan organik akan membuat daya tahan tubuh meningkat. Sedangkan manfaat jangka panjang, tubuh akan terbebas dari racun berbahaya yang berasal dari pestisida, bahan pengawet, hingga tambahan hormon di daging hewan.

Dari bahan-bahan organik tersebut, Adetya dibantu dua orang karyawan, memasak sendiri menu  makanan untuk konsumennya. “Agar tak bosan, saya mengganti menu sarapan setiap hari. Selain katering untuk sarapan, saat ini TRF Food juga menyediakan menu makan siang, snacksmoothiesbuah, dan susu organik,” katanya.

Kendati saat ini sudah banyak vendor yang menjual sayuran, beras, dan daging organik, Adetya mengaku masih sering kesulitan mendapat bumbu-bumbu organik di Indonesia. “Di Indonesia jarang sekali ada yang jual bumbu masakan organik. Makanya, saya cukup sering berbelanja bahan organik di Malaysia. Saya berprinsip hidup sehat tak boleh setengah-setengah.”

Adetya menyediakan tiga paket katering yaitu paket langganan tiga hari dan enam hari. Konsumen bisa memilih untuk berlangganan menu sarapan, makan siang, atau keduanya. “Menu sarapan terdiri dari menu utama, jus sehat, dan salad. Sedangkan paket makan siang terdiri dari makanan utama, infus water, dan roti,” ujar perempuan yang juga memiliki butik fesyen ini.

Untuk mendapatkan menu organik tersebut, konsumen harus merogoh kocek mulai dari Rp300.000—Rp750.000. Adetya tak menampik harga yang ditawarkan termasuk tinggi. Oleh karena itu, bisnis katering organik ini masih menyasar kalangan atas. “Setelah setengah tahun berjalan, konsumen kami mulai terbentuk yaitu dari kalangan atas. Ini terlihat dari 10 orang yang tanya harga, hanya satu orang yang berkomentar kalau harga yang kami tawarkan terlampau mahal.”

Pelanggan TRF Homemade adalah karyawan yang berkantor di wilayah Jakarta Selatan. Jika dulu Adetya hanya memiliki 5 orang pelanggan, kini total ada 25—30 orang. Jumlah tersebut adalah kuota yang ditargetkan setiap hari oleh Adetya. “Mereka mengonsumsi makanan sehat karena ingin memulai gaya hidup sehat, tetapi tidak punya waktu untuk memasak sendiri,” katanya.

Ketika ditanya soal margin keuntungan, Adetya mengaku laba yang didapat dari bisnis ini cukup besar. Margin keuntungan bisa mencapai 30%—40%. Untuk meningkatkan pemasukan, dia juga beberapa kali ikut bazaar makanan untuk menjaring konsumen baru.

Melihat besarnya keuntungan yang bisa diraih yang terus meningkatnya jumlah masyarakat yang sadar akan pola hidup sehat, Adetya yakin bisnis katering organik ini akan cerah di masa depan. “Saya melihat saat ini banyak pelaku usaha katering yang menawarkan menu sehat, tetapi tak spesifik menggunakan bahan organik. Peluang bisnis makin terbuka karena banyak orang yang mulai tahu manfaat produk organik.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha organic catering
Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top