Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MOBILE GAME, Harus Fun dan Memberi Tantangan

Bisnis permainan di telepon pintar kian menjanjikan. Para pelaku di bidang ini tak hanya mampu merengkuh pasar domestik, tetapi juga konsumen dunia. Kendati diincar banyak orang, Muhammad Ajie dari Tinker Games mengakui proses pembuatan mobile games terbilang rumit.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 22 April 2014  |  11:03 WIB
CTO King Digital Thomas Hartwig, CEO Riccardo Zacconi, CEO Riccardo Zacconi, COO Stephane Kurgan dan Chief Creative Officer Sebastian Knutsson merayakan pada IPO pembuat game Ponsel Raja Digital Entertainment Plc di lantai Bursa Saham New York, 26 Maret 2014.  - Reuters
CTO King Digital Thomas Hartwig, CEO Riccardo Zacconi, CEO Riccardo Zacconi, COO Stephane Kurgan dan Chief Creative Officer Sebastian Knutsson merayakan pada IPO pembuat game Ponsel Raja Digital Entertainment Plc di lantai Bursa Saham New York, 26 Maret 2014. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis permainan di telepon pintar (mobile games) kian menjanjikan. Para pelaku di bidang ini tak hanya mampu merengkuh pasar domestik, tetapi juga konsumen dunia.

Kendati diincar banyak orang, Muhammad Ajie dari Tinker Games mengakui proses pembuatan mobile games terbilang rumit. Ada beberapa divisi yang terlibat, yaitu divisi seni (art division), pemrograman (programming), musik, dan pemasaran (marketing).

Sebelum memproduksi sebuah game, para pengembang harus menentukan target konsumen. apakah permainan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, atau dewasa. Tinker Games sendiri membidik pasar remaja dan anak-anak.  

Namun demikian, menurut Ajie, elemen paling penting dari proses pembuatan permainan adalah faktor menarik (fun) atau tidaknya sebuah game. “Jika game yang akan dibuat terasa tidak menarik bahkan oleh pengembagnyanya sendiri, maka ide itu harus dirombak ulang sampai mencapai titik yang diharapkan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Ghalib. Pemimpin Solite Studio ini menuturkan menarik atau tidaknya sebuah permainan pertama kali dilihat dari tampilan atau visual karakter dan latar belakang permainan. Oleh karena itu, pengembang harus memiliki tenag avisual art yang berkualitas.

Selain itu, elemen lain yang harus dimiliki sebuah game adalah tingkat kerumitan di tiap-tiap level. Pengembang harus mampu menantang pengguna untuk menyelesaikan tantangan. Jumlah level setiap game pun berbanding lurus dengan permintaan konsumen. “Awalnya Save the Hamster hanya dibuat 45 level. Namun, karena permintaan terus naik, kami menambah menjadi 200 level,” katanya.

Waktu memproduksi mobile games bervariasi. Jangka waktu tersebut tergantung pada tingkat kerumitan tiap-tiap permainan. Ajie mengaku perusahaannya membutuhkan waktu sekitar 3—4 bulan untuk menyelesaikan sebuah game. Di sisi lain, Ghalib butuh waktu 4—5 bulan agar permainan tersebut bisa diunduh oleh pengguna.

Selain proses produksi, tahap penting dari bisnis mobile games adalah pemasaran. untuk menarik perhatian konsumen, Ghalib dan Ajieeee merilis dua versi game. Pertama versi percobaan (trial) yang bisa diunduh secara cuma-cuma. Kedua adalah versi penuh yang mewajibkan pengguna untuk membayar sejumlah uang.

Kendati jumlah peminat game gratis masih lebih tinggi ketimbang game berbayar, Ghalib dan Ajie mengaku optimis untuk meraih untung dari bisnis ini. “Pada mulanya kami coba perkenalkan game ke konsumen secara gratis. Nanti, ketika konsumen merasa permainan tersebut menarik, mereka secara suka rela akan membayar untuk memainkan game kesayangan mereka.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top