Kiprah Riesye Berbisnis dan Melestarikan Budaya Nusantara

Bisnis.com, JAKARTA - Batik merupakan salah satu kerajinan lokal bernilai seni tinggi. Kombinasi antara corak etnik dan warna-warni yang membumi membuat kain yang populer di Pulau Jawa ini dilirik oleh banyak kalangan, baik dalam maupun luar negeri.Seiring berjalannya waktu, teknik pembuatan batik terus berkembang. Selain batik tulis dan cap, di era modern ini ada batik yang dihasilkan lewat mesin cetak (printing). Meski demikian, teknik batik tulis masih bertahan hingga saat ini. Batik tulis tak hanya memiliki karakteristik desain nan otentik. Produk ini tak sekadar mencitrakan semangat para pembatik, tetapi melestarikan seni batik khas Nusantara.
Feni Freycinetia Fitriani | 02 Juli 2014 12:14 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Batik merupakan salah satu kerajinan lokal bernilai seni tinggi. Kombinasi antara corak etnik dan warna-warni yang membumi membuat kain yang populer di Pulau Jawa ini dilirik oleh banyak kalangan, baik dalam maupun luar negeri.

Seiring berjalannya waktu, teknik pembuatan batik terus berkembang. Selain batik tulis dan cap, di era modern ini ada batik yang dihasilkan lewat mesin cetak (printing). Meski demikian, teknik batik tulis masih bertahan hingga saat ini. Batik tulis tak hanya memiliki karakteristik desain nan otentik. Produk ini tak sekadar mencitrakan semangat para pembatik, tetapi melestarikan seni batik khas Nusantara.

Tingginya nilai seni batik tulis banyak dilirik oleh pelaku usaha. Salah satunya adalah Riesye Sapi’i. Perempuan berusia 63 tahun ini menyediakan aneka corak kain dan busana yang terbuat dari batik tulis sejak 1980.

Alasan Riesye terjun ke bisnis ini tak lain karena kecintaannya akan kain batik. Selain gemar membeli batik dari berbagai daerah, dia juga menyimpan batik-batik tua milik orang tua dan neneknya.

Sayang, banyak di antara kain tersebut yang rusak dan usang dimakan waktu. Dia lantas menggunting kain-kain tersebut dan menyambungkannya menjadi sebuah baju dengan metode patchwork. Tak disangka, banyak teman-teman Riesye memuji hasil karyanya. Bahkan, ada beberapa orang yang minta dibuatkan produk serupa.

“Zaman dulu batik itu belum populer seperti sekarang. Saya berani menekuni bisnis ini semata-mata karena kecintaan saya akan batik tulis. Lebih dari itu, saya ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ini ke masyarakat luas,” ujar pemilik Rumah Andries ini.

Riesye tak hanya menawarkan produk kain batik tulis. Lebih dari itu, dia juga mendesain baju-baju wanita. Untuk menarik perhatian konsumen, dia selalu mengikuti tren fesyen terkini. Hasilnya, kombinasi antara motif batik yang etnik dan potongan baju wanita yang modern mampu menghasilkan koleksi fesyen nan cantik.

Seiring berjalannya waktu, batik makin populer di mata masyarakat. Puncaknya adalah UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya asal Indonesia pada 2 Oktober 2009. “Sejak saat itu, perusahaan dan institusi pemerintah mewajibkan karyawan mengenakan batik di hari Jumat. Saya melihat ini sebagai peluang bisnis dan memproduksi kemeja batik untuk kaum pria mulai 2010,” tuturnya.

Kini, Rumah Andries memiliki berbagai variasi produk a.l. baju (dress), blazer wanita, blus, selendang, kain, hingga kemeja pria. Produk tersebut memiliki harga bervariasi, yaitu mulai dari Rp750.000—Rp2 juta untuk pakaian pria dan wanita dan Rp500.000 untuk selendang batik berbagan sutra. Adapun kain batik tulis dijual mulai dari Rp500.000—Rp30 juta per meter. “Harga kain tergantung dengan kerumitan desain dan pewarnaan batik tulis,” katanya.

Untuk produksi batik, Riesye bekerja sama dengan perajin batik yang ada di Pekalongan dan Sragen. Dia mempertahankan proses batik tulis dan cap untuk membuat semua koleksi batik. Hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian batik dan membuka lapangan pekerjaan.

“Saat ini banyak mesin-mesin printing batik bermunculan. Namun, saya tetap memilih batik tulis atau setidaknya batik cap. Selain kualitasnya tak bagus, keberadaan mesin printing ini akan menghilangkan pekerjaan para perajin batik. Lantas, siapa yang akan melanjutkan seni membatik di Indonesia?” katanya.

Riesye mengambil motif-motif batik klasik atau yang populer dengan sebutan lawasan sebagai citra batik Rumah Andries. Hal ini dia lakukan lantaran banyak kain-kain batik lawasan yang sudah rusak dan usang. Setiap goresan motif batik tua tersebut memiliki nilai sejarah yang harus dijaga.

Untuk melestarikan batik-batik lawasan tersebut, dia menyuruh para perajin batik untuk menduplikasi motif-motif batik lawasan ke atas kain baru. Meski hasilnya tak 100% sama, dia merasa ini merupakan salah satu cara melestarikan motif batik bersejarah yang berusia puluha tahun tersebut.

Agar hasilnya maksimal, dia membawa batik-batik tersebut ke daerah asalnya. “Jika batiknya garutan, saya akan membawanya ke pusat batik di Garut. Begitu pula dengan batik asal Solo, Cirebon, dan lainnya. Hal ini tak lain karena mereka nyawa dari corak dan warna tidak hilang,” ujar perempuan yang memiliki 32 perajin batik ini.

Riesye mengeluarkan motif batik yang berbeda setiap tahun. Untuk tahun ini, dia mengeluarkan aneka desain motif parang yang elegan sekaligus klasik.

Di samping memiliki pembatik sendiri, Riesye juga dibantu oleh 8 orang penjahit. Uniknya, dia menggambar desain baju sendiri. Keahlian tersebut dia dapatkan secara otodidak. Dia memproduksi sekitar 50 baju dan menghasilkan 100—150 kain batik setiap bulan. “Saya membuat lebih banyak kain batik karena banyak desainer yang memesan ke saya,” katanya.

Tag : entrepreneurship, peluang usaha
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top