Sandria Sarim: Karakter, Kunci Utama Gapai Tujuan Hidup

Persiapan untuk menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) gencar dilakukan semua sektor, tak terkecuali perguruan tinggi. Memasuki era pasar bebas Asean, manajemen perguruan tinggi dituntut untuk mencetak sarjana yang berkualitas dan siap bersaing dengan tenaga kerja asing.
Fajar Sidik | 06 September 2015 07:30 WIB
Pembantu Rektor di Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) Sandria Sarim. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Persiapan untuk menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) gencar dilakukan semua sektor, tak terkecuali perguruan tinggi. Memasuki era pasar bebas Asean, manajemen perguruan tinggi dituntut untuk mencetak sarjana yang berkualitas dan siap bersaing dengan tenaga kerja asing.

Melihat pentingnya daya saing lulusan perguruan tinggi di Indonesia, membuat Pembantu Rektor di Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) Sandria Sarim—yang pada awalnya berprofesi sebagai engineer—  untuk mengabdikan hidupnya secara penuh di dunia pendidikan.

Kiprah Sandria di dunia pendidikan ini tidak lepas dari pengamatannya tentang kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang terkendala kurang percaya diri atau minder kepada sarjana lulusan luar negeri. Tantangan ini ditambah dengan kendala bahasa yang membuat kebanyakan para lulusan ini semakin menutup diri dari pergaulan internasional. Kesimpulannya, masalah karakter dan keahlian berbahasa merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh sarjana lulusan dalam negeri.

Hal ini membuat Sandria akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kariernya sebagai insinyur mesin di PT Dirgantara Indonesia pada 1999. Pada tahun yang sama, dia langsung bergabung di Sekolah Tinggi Teknologi Texmaco dan menjabat sebagai pembantu rektor.

Pada 2002, dia mendapat tanggung jawab untuk menduduki posisi rektor. Terhitung sejak 2004, hingga sekarang dia setia mengabdi di ITHB. (Selly Astari Octaviani & Fajar Sidik)

Dia berprinsip tingkat pendidikan di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan pendidikan di luar negeri. Menurutnya, masalah yang perlu diselesaikan adalah kesiapan mental dan karakter diri mahasiswa dalam menghadapi persaingan global.

Menjadi wajar jika kemudian pembentukan karakter mahasiswa menjadi fokus perhatian manajemen ITHB. Salah satu cara yang dilakukan adalah pada masa orientasi kuliah, para mahasiswa wajib mengikuti program outbound dan penanaman budaya ITHB selama tiga hari berturut-turut, yang dipimpin oleh rektor dan dosen. “Kami sangat menghindari ospek yang mengandung perploncoan, senioritas, dan lainnya karena tidak bermanfaat bagi karakter mahasiswa. Justru sebagai gantinya, kami ajak mahasiswa untuk membuat business plan, sehingga mereka bisa menyiapkan diri setelah lulus,” tutur Sandria.

Menurutnya, lulusan yang berkualitas bukan hanya yang menggenggam Indeks Prestasi Kumulatif tinggi. Namun, harus berkarakter yang baik sehingga dapat menciptakan lingkungan yang sehat baik di perusahaan yang didirikan sendiri, atau tempat di mana dia bekerja. Terdapat tiga karakter yang menjadi fokus manajemen ITHB, pertama , karakter pada diri individu yang bertanggung jawab, berpikir positif, percaya diri, dan berpikir terbuka. Kedua, saat
berkarier memiliki orientasi pada tujuan dan hasil, efisien, pekerja keras, tangguh, aktif, dan dapat diandalkan. Ketiga, terhadap orang lain, harus berkarakter kuat, berkemampuan interpersonal, rendah  hati, sopan, peduli, dan berpengaruh.

Untuk mengimplementasikan berbagai karakter tersebut, perguruan tinggi yang berdiri pada 2002 ini menyeleksi dengan ketat tenaga pengajar, dan karyawan pendukungnya. Seluruh tenaga pengajarnya minimal meraih gelar master dari luar negeri. “Para dosen itu yang mengetahui situasi dan kondisi pendidikan di luar negeri, baik sebagai pengajar maupun mahasiswa. Dari pengalaman itu mahasiswa dapat mendapatkan gambaran bagaimana proses pendidikan di luar negeri. Yang paling penting para dosen memiliki kemampuan mengajar, panggilan hati untuk mengajar,” katanya.

Dari panggilan hati ini yang membuat Sandria terus menekuni dunia pendidikan, meskipun dari sisi keuangan tidak begitu menjanjikan. Kepuasan batin yang menjadikannya tetap bertahan untuk memberikan pendidikan yang baik kepada para mahasiswa.

Berbagai terobosan terus dilakukannya selama menjadi dosen di ITHB, salah satunya adalah membuat perubahan pada program semester akhir jurusan desain komunikasi visual (DKV). Tugas akhir atau skripsi yang umumnya dibuat setelah job training , justru harus diselesaikan mahasiswa sebelum melakukan magang kerja.

Tindakan ini berlatar belakang  dari kasus mahasiswa yang tidak kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliah setelah mendapatkan posisi yang menggiurkan di tempatnya bekerja magang. “Kami sampai terpaksa mengirimkan surat ke perusahaan itu, meminta mahasiswa kami kembali untuk menyelesaikan dulu kuliahnya, baru nanti bekerja lagi di perusahaan itu,” tuturnya.

Dari total 1.500 lulusan ITHB, hingga saat ini hampir 50% mahasiswanya telah diterima bekerja di berbagai perusahaan. “Kami wisuda September, rata-rata Januari sudah banyak yang diterima kerja,” katanya. Lulusan ITHB diakui Sandri banyak dicari berbagai perusahaan, terutama karena karakter yang terbentuk pada setiap individunya sangat mendukung bagi pengembangan budaya perusahaan.

WAKTU SENGGANG

Di waktu senggangnya, Sandria mengaku hobi berolahraga. Olah raga yang menjadi favoritnya adalah bulu tangkis. Olah raga ini dirasakannya cukup membantu meningkatkan kebugaran tubuh. “Sekarang sudah tidak rutin, paling hanya olahraga ringan di pagi hari agar tubuh bisa tetap fit,” katanya.

Meskipun usianya tidak lagi muda, Sandria masih terlihat cukup segar bugar bahkan tidak memiliki banyak pantangan dalam urusan makan dan minum. Baginya semua jenis makanan sama saja selama menyehatkan bagi tubuh akan disantapnya tanpa harus pilih-pilih.

Bapak dari tiga orang anak ini mengaku saat ini hanya fokus pada aktivitas mengajar dan menghabiskan banyak waktu bersama mahasiswa dalam berbagai kegiatan.“Saya bersyukur memiliki banyak mahasiswa yang berprestasi dan penuh semangat di usia muda. Dengan begitu, saya juga mendapatkan suntikan semangat dari mereka sehingga masih terasa tetap muda,” ungkapnya.

Pribadi yang dikenal sangat religius ini berprinsip bahwa kehidupan ini mengalir, dan semua langkah yang dilakoninya merupakan jalan yang terbaik dan diatur oleh Tuhan.

Filosofi hidup seperti itulah yang dipegangnya sejak dulu, sehingga dia tidak merasa perlu untuk mensyukuri apa yang sudah didapatkan saat ini, dan tetap berupaya meraih yang terbaik. “Yang terpenting adalah bagaimana segala pemberian yang saya terima dapat bermanfaat bagi orang banyak. Yang bisa saya lakukan sekarang ini adalah dengan menjadi pengajar sekaligus pendidik, agar dapat menularkan ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang saya miliki.”

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (6/9/2015)

Tag : karakter, SOSOK
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top