Dewi Motik, Ahli Menentukan Skala Prioritas

Khalayak mengenal Dewi Motik sebagai tokoh perempuan dengan segudang prestasi. Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) juga dikenal sebagai pribadi yang mandiri, dan sejak muda terbiasa mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.
Tisyrin Naufalty Tsani | 28 Februari 2016 00:20 WIB
Dewi Motik - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Khalayak di Tanah Air mengenal Dewi Motik sebagai tokoh perempuan dengan segudang kegiatan dan prestasi. Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) juga dikenal sebagai pribadi yang mandiri, dan sejak muda terbiasa mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.

Padahal, perempuan kelahiran Jakarta, 10 Mei 1949 ini lahir di tengah keluarga papan atas dan tinggal di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Pendidikan tinggi, dan keluarga yang hangat, serta taat beragama membentuk karakter Dewi menjadi perempuan yang memiliki empati yang besar terhadap lingkungannya.

Dia mengenag orang tuanya sangat sibuk bekerja, tetapi masih sempat meluangkan waktu yang cukup untuk memperhatikan anak-anaknya. “Bahkan saat ada tamu, Ayah tetap bisa menemani saya belajar,” katanya.

Dia mengatakan justru saat itu si tamu yang menunggu proses belajar selesai sembari menyesap kopi. Nilai-nilai keluarga yang diterapkan ayah Dewi adalah ketaatan dalam beribadah. Seringkali Dewi diajak untuk menunaikan sholat berjamaah.

Dewi mengenang orang tuanya sebagai pasangan yang tidak banyak bicara, tetapi lebih banyak memberikan contoh melalui tindakan. Pendidikan formal yang tinggi dan pondasi agama yang kuat menjadi bekal Dewi untuk menghadapi tantangan kehidupan. Tak hanya itu, sejak kecil dia juga belajar bagaimana memiliki jaringan pergaulan yang luas.

Semua itu dibukakan jalan oleh ayahnya Basyaruddin Rahman Motik, yang pada zamannya dikenal sebagai pengusaha ekspor impor. Anak keempat dari 9 bersaudara ini seringkali diperkenalkan ayahnya kepada relasi yang datang dari mancanegara.

Otomatis, bergaul dengan orang asing mendorong Dewi untuk belajar dan menguasai bahasa Inggris. “Dari dulu saya sudah biasa salaman sama orang bule,” tuturnya.

Wirausaha Mandiri

Memasuki masa remaja, dia mulai mempelajari kisah Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai wirausaha yang hebat. Dewi pun berpikir bahwa menciptakan uang adalah hal yang indah. Dengan memiliki materi yang berkecukupan, seseorang juga memliki kemampuan lebih untuk membantu orang lain.

Kala masih remaja, pimpinan De Mono Group ini mendulang uang dari menjual kue buatannya dan bermain sulap. Sejak saat itu, jiwa wirausahanya semakin menyala. Saat menempuh pendidikan ke Florida, tepatnya di Jurusan Seni Rupa Florida International University, Miami, Amerika Serikat (1971 – 1974), dia sempat membawa beragam buah tangan buatan Indonesia yang unik sebagai hadiah Natal untuk teman-temannya.

Awalnya, barang-barang itu diniatkan sebagai oleh-oleh. Namun, saat melihat teman-temannya histeris dan mengucapkan kalimat, “I want to buy this to Chrismast gift for my sister,” otak bisnisnya langsung menyala dengan terangnya.

Di kampusnya dia membuka pameran barang-barang perhiasan yang disebutnya sebagai Oriental Bazar. Pengunjungnya sangat banyak, disertai dengan pesanan yang melimpah. Dari acara ini, Dewi meraup banyak keuntungan.

Sepulang menyelesaikan studi di Amerika Serikat, Dewi meneruskan usaha orang tuanya di bidang ekspor impor, dan juga beragam jenis usaha lainnya. Usaha garmen yang dipimpinnya bahkan sempat memiliki 3.500 karyawan.

Ibu dari dua anak yakni Moza Pramita dan Adimaz Prazeki Pramono ini, juga dikenal tidak sungkan berbagi ilmu dengan menikmati profesi sebagai dosen atau narasumber seminar.

Ke depan, dia punya tekad untuk lebih banyak berperan di bidang pendidikan. Menurutnya, melalui sektor ini, dia dapat lebih berkontribusi untuk mendorong generasi muda mencapai keberhasilan.

Membagi Waktu

Dewi mengaku keberhasilan yang diraihnya sampai saat ini tidak lepas dari upayanya untuk ‘menjaga’ hubungan baik dengan Tuhan dan sesama manusia. ”Orang yang paling berguna adalah yang paling banyak berbuat untuk orang lain,” ujarnya.

Di tengah kesibukan yang mendera, istri dari Pramono Soekasno itu sudah terbiasa dengan urusan membagi waktu antara keluarga dan bisnis. Salah satu bukti adalah kedua anaknya mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.

Untuk urusan membagi waktu dengan keluarga, Dewi meneladani hal positif yang dilakukan oleh orang tuanya. Menurut Dewi, sejak kecil kedua anaknya sudah dikenalkan dengan aktivitasnya. Dewi kerap mengajak anaknya rapat atau meninjau ke pabrik.

Pada dasarnya, semua orang dikaruniai waktu yang sama sebanyak 24 jam, yang membedakan adalah kemampuan setiap orang dalam menentukan skala prioritas untuk kegiatannya. “Jangan sok sibuk,” tegasnya.

Dia menilai kesibukan selalu dijadikan alasan bagi para ibu yang bekerja untuk tidak melakukan kewajibannya, seperti memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Padahal, menyusui pada dasarnya dapat dilakukan di mana saja, tak harus dengan duduk manis di kamar. Buktinya, Dewi berhasil melakukannya meski sejak muda hingga kini tidak pernah berkurang kesibukannya.

BIODATA
Nama : Sri Puspa Dewi Motik Pramono (Dewi Motik Pramono)
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 10 Mei 1949
Pendidikan :

  • S-1 Home Economic IKIP Rawamangun.
  • S-1 Bachelor of Art di Florida International University Miami Florida, Amerika Serikat.
  • S-2 Pengkajian Ketahanan Nasional di Univeritas Indonesia.
  • S-3 Pendidikan dan Kependudukan & Lingkungan Hidup di Universitas Negeri Jakarta.

Jabatan        :

  • Pimpinan Umum De Mono Group (LPKK DE MONO dan Koperasi De Mono).
  • Komisaris Utama PT Natifa Berkah Utama.
  • Ketua Kehormatan Presiden IWAPI Pusat.

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (28/2/2016)

Tag : iwapi, Dewi Motik Pramono
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top