Astra Honda Motor Mendorong Lulusan SMK Berdaya

Dukungan pendidikan vokasi ini dilakukan Astra melakukan injeksi kurikulum sepeda motor di 78 SMK se Jawa Tengah, sedangkan secara nasional telah merangkum lebih dari 653 sekolah.
Anggara Pernando | 31 Desember 2017 08:12 WIB
Ilustrasi pendidikan vokasi. - Istimewa

Bisnis.com, SEMARANG - Mata Abdul Hamid, 23 tahun, berbinar. Pandangannya terarah pada satu kotak peralatan mekanik yang terletak di hadapannya.

“Kotak inilah yang jadi penyemangat saya untuk mewujudkan cita-cita,” ujar Hamid sambil mengenang proses perjalanan usaha bengkelnya pada Bisnis.com di Batang, Jawa Tengah, Sabtu (30/12/2017).

Dia memang tengah berada di jalan lurus untuk menggapai impian yang sudah dibangunnya sejak tamat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Teknik Sepeda Motor 4 tahun lalu. Berbekal special tools mekanik itu, dia memutuskan membuka usaha bengkel sendiri.

Saat sekolah, Abdul termasuk siswa cakap dalam praktek perbaikan sepeda motor. Begitu pun ketika lulus.

Dia merupakan satu di antara 10 alumni SMK 3 Muhammadiyah, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jateng, yang mendapat beasiswa mengikuti pelatihan memperbaiki sepeda motor (pendidikan vokasi) dengan teknologi terbaru. Kesempatan pelatihan dan dilanjutkan dengan uji kompetensi digelar di sekolahnya.

Program vokasi ini merupakan kegiatan kolaborasi yang digelar sekolah dan industri sepeda motor. Dengan konsep link and match diharapkan para alumni SMK bisa menjadi tenaga kerja terampil dan dapat langsung terserap oleh industri. Selain pemenuhan kebutuhan, program kompetensi juga mendorong peserta dapat memulai usahanya sendiri (entrepreneurship).

"Setelah lulus uji kompetensi saya diberi kesempatan magang ikut AHASS [Astra Honda Authorized Service Station/bengkel resmi Astra Honda Motor]," kata Hamid.

Dia menceritakan selepas 3 bulan magang, dia memutuskan membuka bengkel mandiri. Padahal dengan sertifikasi kompetensi dan pengalaman magang dari AHASS, ia bisa bekerja di bengkel besar. Apalagi saat itu ia sudah berada pada level teknisi tingkat dua.

Pada level dua ini, dia bisa mendapatkan pendapatan lebih besar. Bila pada level satu, pendapatan yang diterima seorang mekanik adalah 25%-30% dari biaya servis, maka pada level dua penghasilannya bisa mencapai 40 %. Sertifikasi uji kompetensi yang ia punya juga membuat Abdul dipinang beberapa bengkel untuk bekerja.

Penghasilan besar sempat membuat Hamid tergoda. Apalagi, bekerja dengan orang akan lebih enteng dibanding membuka usaha sendiri. Tak perlu takut rugi. Tak pula pusing memikirkan manajemen bisnis dan pengembangan usaha. Namun, ternyata pesan dari salah seorang mentor ketika mengikuti uji kompetensi justru lebih kuat mendorong hatinya.

Saat itu, mentor yang memandunya menyarankan agar ia mempertimbangkan untuk membuka usaha sendiri seusai mengikuti pelatihan dan program magang. Selain karena melihat kepiawaian Hamid dalam memperbaiki, sang mentor pun menganggapnya memiliki bakat untuk memulai usaha sendiri.

Hamid sempat ragu. Dia menyampaikan kegalauan itu pada orang tua. Saat itulah, ibu Hamid yang juga punya usaha warung kecil-kecilan memberi pesan. “Selagi muda dan belum bekeluarga, lebih baik kalau mencoba membuka usaha,” begitu pesan ibunya.

Pesan itu menjadi obat mujarab menguatkan hatinya untuk membuka usaha bengkel. Tak hanya doa, orang tuanya juga mendukung keinginannya untuk membuka bengkel dengan memberi pinjaman modal yang diperoleh dari tabungan orang tuanya. "Dimulai dari beli kompresor, sewa tanah dan renovasi. Kalau alat sudah dari sekolah dulu dicicil.”

Keinginan Abdul membuka usaha bengkel sendiri makin menyala setelah ia mendapat beasiswa dari PT Astra International Tbk-Honda.

Beasiswa ini merupakan kelanjutan kerja sama SMK 3 Muhammadiyah Weleri yang sudah berlangsung sejak 2014. Selain mendapat beasiswa dan pelatihan, ia juga mendapat kotak berisi spesial tools berupa peralatan perbengkelan yang lengkap. "Saat mendapatkan kotak ini saya benar-benar bersyukur dan menguatkan semangat untuk membuka bengkel."

Meski sempat ragu di awal, Hamid akhirnya mantap. Dia pun makin bersemangat melanjutkan usaha bengkel yang sudah dirintis. Apalagi setelah dijalani, penghasilan dari usaha sendiri jauh lebih besar dibandingkan dengan saat ikut orang.

Dia pun senang karena merasa ijazah kompetensinya tidak mubazir meski tidak langsung bekerja bersama pelaku industri. Dengan ilmu dan sertifikat untuk teknologi terbaru yang diajarkan jelang ujian kompetensi membuat dirinya dapat memberikan pelayanan lebih kepada pelanggan.

Hamid berharap dalam beberapa tahun mendatang, usaha bengkelnya dapat berkembang lebih besar. Bahkan dirinya menargetkan dapat menjadi mitra resmi Honda untuk wilayah Kabupaten Batang. Dia juga berharap bisa membuka lapangan kerja baru bagi alumni SMK Muhammadiyah 3 Weleri.

Tak hanya Hamid. Semangat untuk membangun usaha sendiri dengan membuka bengkel juga menular pada penerima beasiswa dan pelatihan lainnya. Tedy Jaya, siswa SMK 3 Muhammadiyah lainnya, yang lulus uji kompetensi juga tergerak membuka bengkel sendiri.

Berbeda dengan Hamid, Tedy membuka bengkel di rumahnya. Untuk menambah nilai jual, dia mengkhususkan diri dalam memperbaiki dan restorasi motor tua seperti Honda CB. "Sampai sekarang bengkelnya masih ada di rumah," ujar Tedy.

Pelatihan dan pengembangan diri di bidang perbengkelan yang diperoleh Hamid dan Tedy merupakan salah satu bentuk program pembinaan kolaborasi pelaku industri dan SMK.

Kepala Wilayah Astra Motor Jateng, Yohanes Kurniawan, mengatakan saat ini penetrasi sepeda motor Honda di wilayahnya mencapai 85%.

Setiap bulan pihaknya menjual sekitar 40.000 unit dengan dominasi motor matik. Tingginya penetrasi motor Honda di wilayah ini membuat perusahaan berkewajiban memastikan tersedianya kemudahan bagi pelanggan dalam merawat sepeda motornya. Peran ini dapat disinkronkan dengan program pemerintah yang sesuai dengan Catur Dharma Astra.

"Hal yang mendasari kami melakukan pembinaan di 78 SMK Jateng berinduk dari filosofi Catur Dharma yang diwujudkan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi hingga lingkungan. Filosofi ini dipakai semenjak era pendiri kami Oom William Soerjadjaja dan dipakai hingga sekarang," kata Yohanes.

Dia memaparkan untuk dukungan pendidikan vokasi ini Astra melakukan injeksi kurikulum sepeda motor di 78 SMK se-Jateng. Sedangkan secara nasional telah merangkum lebih dari 653 sekolah.

Program ini tidak hanya dilakukan melalui injeksi kurikulum, tetapi siswa juga diikutkan dalam uji kompentensi yang dipandu langsung oleh mekanik-mekanik terbaik dari perusahaannya.

"Lulusan juga kami bantu salurkan ke jaringan dan mitra kami. Peserta bisa praktik kerja di bengkel AHASS seluruh Jawa Tengah yang mencapai 315-an bengkel, 152 dealer, serta 500 lebih toko sparepart  yang ada di Jateng," katanya.

Revitalisasi SMK melalui penguatan vokasi merupakan perintah langsung dari Presiden Joko Widodo. Melalui Instruksi Presiden Nomor 9/2016, Presiden Joko Widodo menginginkan revitalisasi menyeluruh agar seluruh siswa SMK yang tamat dapat langsung terserap oleh industri ataupun menciptakan lapangan kerja sendiri.

Instruksi ini mencakup keharusan dukungan kementerian, kepala daerah, hingga peran industri. Presiden sendiri menargetkan 1,4 juta tenaga terampil dapat disertifikasi dan memenuhi kebutuhan industri. Para peserta pendidikan kompetensi ini juga diarahkan 75% melakukan praktik dan 25% memahami teori.

“Investasi industri untuk ikut serta dalam pengembangan pendidikan kejuruan dan vokasi berbasis kompetensi, pada akhirnya akan bermanfaat bagi industri melalui tersedianya tenaga-tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja, sehingga dapat mengurangi biaya dan risiko produksi, selain meningkatkan daya saing industri,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menerjemahkan perintah Presiden.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
otomotif

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top