Naik Gunung Kian Digemari, Bisnis Sewa Perlengkapan Mendaki Berkibar

Siapa sangka hobinya mendaki gunung, membawa Nining Purwaningsih pada bisnis sewa menyewa perlengkapan pendakian.
Eka Chandra Septarini | 07 Januari 2018 14:37 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Siapa sangka hobinya mendaki gunung, membawa Nining Purwaningsih pada bisnis sewa menyewa perlengkapan pendakian.

Sejak 2015, Nining yang kerap disapa Nona ini mulai putar otak agar hobi yang awalnya ditentang kedua orang tuanya, bisa menjadi sumber rezeki.

"Selama saya mendaki gunung seringkali orang tua kurang suka, karena saya perempuan dan pada saat itu dunia pendakian belum seramai sekarang, peminat pendaki perempuan masih sedikit. Saya juga berpikir bagaimana caranya agar hobi ini tidak hanya menghabiskan uang tapi juga bisa menghasilkan," ungkap Nona kepada Bisnis.

Dari situlah, tercetus ide awal membentuk persewaan peralatan pendakian dan kemping yang diberi nama @nona_petualang guna menyalurkan hobi sekaligus sebagai sumber rejeki baru dikala bisnis online shop dan warung kopi yang dirintisnya kandas di tengah jalan.

Peluang bisnis ini dirasakan Nona masih segar kala itu. Bisnis dunia pendakian masih minim terutama untuk persewaan alat, sementara itu peminat dunia outdoor semakin tahun semakin meningkat. Terlebih lagi, alat-alat untuk mendaki sudah dikenal dengan harganya yang mahal.
Dalam sekali pendakian dibutuhkan banyak peralatan mulai dari tenda, carier, sleeping bag, matras, nasting, kompor, headlamp, belum lagi peralatan pribadi seperti jaket hingga sepatu.

Bersama sahabat dekatnya Muhammad Fachrudi yang kini menjadi sang suami, Nona mulai membuat brosur dan menyebarkannya di kampus-kampus yang ada di Surabaya. Promosi online juga dilakukan melalui fanpage facebook dan instagram. Tapi ternyata respons customer di luar dugaan. Bisnis resmi dimulai tepat 3 hari sebelum tanggal 17 Agustus dengan permintaan yang melebihi kapasitas. Nona pun memilih untuk menjual beberapa barang pribadi untuk dijadikan modal.

Tren bisnis persewaan alat kamping baik dari segi pemain bisnisnya maupun konsumen peminatnya kian meningkat. Perbedaan tersebut dirasakan Nona jika dibandingkan dengan masa awal dia merintis usaha ini.

"Awalnya sebulan hanya ada 10 sampai 20 orang saja yang menyewa, sekarang dalam sebulan bisa mencapai 100 orang," ujar Nona.

Pergantian musim hujan ke musim kemarau menjadi momen sibuk bagi Nona. Pasalnya, masa-masa itu merupakan kesempatan untuk melakukan pendakian dengan cuaca cerah yang membuat persewaan peralatan camping miliknya pun semakin laris manis. Begitu pun saat hari libur nasional yang bisa meningkatkan order hingga tiga kali lipat.

Harga sewa yang dipatok @nona_petualang pun tidaklah mahal, mulai dari Rp5 ribu per hari untuk sewa lampu tenda dan head lamp hingga Rp 25 ribu per hari untuk sewa tenda dengan kapasitas 4 orang.

"Pemasukan bersih rata-rata dalam satu bulan sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta. Jika dalam bulan tersebut terdapat libur panjang atau high season maka meningkat hingga 50%," cerita Nona.

Nona menyadari tantangan bisnis ini adalah bagaimana dirinya sebagai pelaku bisnis bisa konsiten untuk terus memperbaiki kualitas dan pelayanan sehingga tetap menjadi pilihan bagi pendaki yang akan naik gunung. Selain itu, regenerasi perlengkapan yang dimiliki pun tak kalah penting, mengingat setiap peralatan memiliki daur hidupnya sendiri.

"Peluangnya masih minimnya saingan sedangkan peminat dunia outdoor semakin hari semakin meningkat, tidak hanya diminati mahasiswa, namun para pelajar SMA sudah mulai meminati dunia pendakian," ujar Nona.

Selain itu ditunjang dari sisi lokasi di Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, semakin hari orang semakin penat dengan kesibukan dan keramaian kota. Liburan merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu dan menjadi peluang bagi bisnis termasuk persewaan alat kamping.

"Kami sediakan [peralatan] dengan harga sewa yang terjangkau namun berkualitas dan tetap memenuhi standart keamanan dan kenyamanan. Dan jangan lupa kalau mau kamping ingat Nona," tutupnya.

 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top