Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inspirasi T.P. Rachmat & Sudono Salim

Kali ini, saya hendak bercerita tentang Theodore Permadi Rachmat (74 tahun) dan mendiang Sudono Salim, dua sosok pebisnis yang begitu populer di Indonesia. Keduanya punya latar belakang kehidupan berbeda, tetapi sama-sama mempercayai nilai-nilai utama dalam berbisnis.
Hery Trianto
Hery Trianto - Bisnis.com 19 Januari 2018  |  10:31 WIB
Hery Trianto - Bisnis
Hery Trianto - Bisnis

Kali ini, saya hendak bercerita tentang Theodore Permadi Rachmat (74 tahun) dan mendiang Sudono Salim, dua sosok pebisnis yang begitu populer di Indonesia. Keduanya punya latar belakang kehidupan berbeda, tetapi sama-sama mempercayai nilai-nilai utama dalam berbisnis.

Terus terang bertemu dengan orang-orang hebat sangat menyenangkan. Kita bisa mendapatkan banyak inspirasi, pelajaran hidup, dan syukur-syukur trik dan tips bagaimana meraih sukses. Celakanya, saya tidak pernah bertemu Sudono Salim, tetapi cukup banyak mengikuti sepak terjang semasa hidupnya, lalu dengan cara paling mudah membaca artikel maupun buku terkait dengan kiprah pebisnis ini.

Dengan T.P. Rachmat, saya baru dua kali bersua, pertama saat ia diundang buka puasa bersama tahun lalu, dan saat perayaan ulang tahun ke-25 PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batubara yang ia miliki bersama pengusaha Edwin Soeryadjaya dan Garibaldi Thohir. Christian Ariano Rachmat, putra sulungnya, adalah wakil direktur utama Adaro.

Mantan Chief Executive Officer PT Astra International Tbk ini, adalah sosok yang rendah hati dan lembut dalam bertutur kata. Bahkan, Profesor Rhenald Kasali menyebut Pak Teddy panggilan akrab T.P. Rachmat sebagai ‘guru besar ilmu manajemen sebenarnya’. Sebagai guru besar, tentu saja punya ilmu dalam dan mumpuni.

Dalam pidato penghargaan Indonesia Most Admired CEO 2017 oleh Majalah Warta Ekonomi, akhir tahun lalu, T.P. Rachmat menyatakan, membangun bisnis adalah membangun values. Bisnis yang dibangun tanpa values niscaya berantakan dan tidak akan bertahan lama.

Tanggung jawab kita sebagai pemimpin, tidak hanya berhenti sampai menghasilkan kinerja finansial yang luar biasa, tapi juga menjadi bagian dari bangsa untuk membangun generasi yang memiliki values yang kokoh. Values yang dimulai dengan integritas.

T.P. Rachmat mengutip kata-kata mendiang Benny Subianto, sahabatnya sejak sama-sama kuliah di Institut Teknologi Bandung pada 1965 sekaligus mitra bisnis dalam membangun Grup Triputra, kelompok usaha yang didirikan setelah dua orang itu pensiun dari Astra ‘We have to change with changing time, but we have to hold on to unchanged values.’

Kekuatan yang besar tanpa values yang kokoh membuat manusia menjadi serakah, kejam, cacat etika, dan cacat integritas. Kekuatan tanpa values akan mengerdilkan, melemahkan, bahkan bisa mematikan.

Isi pidato tersebut tidaklah panjang, tetapi sangat inspiratif. Pesan dari tokoh bisnis ini banyak dikutip media, disajikan utuh apa adanya. Menurut saya T.P. Rachmat memang istimewa. Dengan pengalaman begitu panjang, tak heran bila ia diminta menyampaikan petuah itu kepada 90 CEO Idaman terpilih.

Di luar values, salah satu orang terkaya di Indonesia itu juga menyebut soal purpose, bahwa hidup harus punya tujuan. Seperti dirinya, yang menginginkan Indonesia bebas dari kemiskinan. Menjadi penting, apa yang kita lakukan dari hari ke hari adalah mendekatkan pada purpose kita.

Saya sedang membayangkan T.P. Rachmat muda, yang telah menentukan tujuan hidupnya, bergabung dengan Astra sejak akhir 1960-an dengan membesarkan PT United Tractor Tbk, menjadi CEO Astra, mengundurkan diri pada 2002, lalu mendirikan Grup Triputra. Semua bukanlah sekonyong-konyong, tetapi karena purpose serta values yang kokoh –dan tentu saja integritas.

Hampir semua perusahaan besar dan berusia panjang mengagungkan values sebagai pegangan. Kita mengenal apa yang disebut nilai-nilai pendiri, yang kemudian dilestarikan dan menjadi patokan perilaku karyawanannya. Nilai kemudian dikomodikasi dalam sebuah perilaku ini, belakangan dikenal sebagai budaya perusahaan. Salah satu contoh adalah kepercayaan.

Mendiang Sudono Salim (Liem Sioe Liong) pernah ditanya kualitas apa yang penting dalam baginya. Dia menjawab, ‘dalam bisnis Anda harus jujur, jangan bohong atau curang. Jika orang baik kepada saya, saya selalu ingat itu. Jika Anda tidak berterus terang itu bisa menimbulkan masalah.’

Om Liem, demikian dia disapa mendapatkan begitu banyak kepercayaan dan mempertahankannya, di sebut xinyong dalam bahasa mandarin, sebuah kualitas yang sangat dihargai oleh para pengusaha Tionghoa perantauan di Asia Tenggara. Dia pernah mengatakan, yang pertama adalah kepercayaan, baru kemampuan.

Pada 1978, Om Liem pernah menjawab sebuah wawancara mengenai filosofi manajemen yang sangat terkait dengan nilai-nilai hidup yang dipercayainya. Menurut dia, semua didasarkan pada kerja keras, ketekunan, dan penghargaan terhadap sudut pandang lain. ‘Anda tahu saya percaya pada kerja tim, bukan kediktatoran.’

Salah satu pengagum Om Liem, yang juga pengusaha properti kawakan Ciputra, sangat salut padanya karena meyakini sebuah bisnis yang sama sama untung dan menerima serta sifat kesetiakawanan. Menurut Ciputra, dalam buku Liem Sioe Liong & Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto karya Richard Borsuk & Nancy Chng, Salim memiliki ‘semangat menggapai langit’ yang tidak semua orang punya dalam membesarkan Bogasari. ‘Saya mengagumi semangatnya. Dia punya visi.’

Karena values Om Liem inilah, Grup Salim bisa bertahan hingga sekarang. Kita semua tahu krisis 1998 hampir saja meruntuhkan raksasa bisnis ini. Mereka kehilangan PT Bank Central Asia Tbk lembaga keuangan terbesar ketiga di Indonesiam dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, tetapi kini bisnis Grup Salim telah kembali.

Putra bungsu Sudono Salim, Anthony, menjadi pemimpin pascakrisis 1998. Secara geografis Anthony kini bekerja di peta yang lebih luas, lebih sering bepergian ke benau-benua lain mengurus usaha yang terus berkembang. Ia bahkan disebut sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia, yang mencerminkan bisnis Salim masih terus berkembang.

Di atas beberapa prinsip bisnis yang dipercayainya, hidup Om Liem juga tak bisa lepas dari kemujuran. ‘Ada yang bilang, kalau tidak mujur, mau pandai, mau profesor Anda tidak jadi apa apa. Saya bekerja dan saya tumbuh. Andai saya di Afrika, Timur Tengah, bagaimana saya bisa bekerja? Waktu, tempat dan kemujuran….ketiga hal itu tidak bisa disepelekan.’

Pada bagian lain, T.P. Rachmat juga percaya bahwa orang-orang hebat punya satu kesamaan: mereka memiliki sense of mission yang sangat kuat. Angela Duckworth, seorang psikolog dari Amerika memperkenalkan istilah ‘grit, sebagai faktor penentu kesuksesan. Grit adalah gabungan dari purpose, passion, dan perseverance.

Adanya grit membuat orang akan konsisten, tahan uji, dan tidak mengenal lelah dalam mewujudkan misinya. Adanya grit membuat kita bangun paling pagi, pulang paling malam untuk memastikan eksesusi yang disiplin dan militan. Grit yang membedakan seorang pemimpin hebat dengan pemimpin biasa.

Tiga hal, purpose, sense of mission, dan values tadi, di tangan T.P. Rachmat, tak ubahnya sebagai mantra. Dia telah membuktikan banyak hal pada dunia bisnis dengan reputasi, tidak hanya saat menjadi CEO Astra, tetapi juga saat membangun bisnis sendiri, dan mulai mewariskan usaha kepada generasi kedua.

Kita lalu mengenal Triputa sebagai Astra kedua di Indonesia, menjadi konglomerasi dengan ‘etos kerja Astra’ yang begitu dikenal dalam dunia bisnis. Triputra memang belum sepopuler dan sebesar Astra, tetapi begitu menyebut T.P. Rachmat dibaliknya, orang segera mahfum.

Benang merah dari dua tokoh yang penuh inspirasi ini tak lain adalah bagaimana hidup dan bisnis seharusnya dijalani. Keduanya telah membuktikan apa arti sebuah sukses, dan orang lain bisa menjadikan teladan.

Bakat menonjol Sudono Salim adalah kemampuannya memilih mitra untuk melakukan melakukan sebuah bisnis yang tidak terlalu dipahami. Seorang pengusaha tidak bisa mengembangkan seluruh potensinya kalau tidak memiliki orang yang tepat untuk diajak kerja sama.

Lalu kita tahu, dia menggandeng Mochtar Riady untuk turut mengelola BCA. Dia lain waktu, dia bekerja sama dengan Ciputra yang dijuluki raja properti Indonesia untuk mengembangkan kawasan elit Pondok Indah di Jakarta.

Kedua mitra bisnis ini, sekarang juga berkembang dan sukses pada bisnisnya masing-masing. Mochtar adalah seorang baron dalam kerajaan bisnis Grup Lippo, dan Ciputra juga telah berkembang demikian pesat sebagai pengusaha dengan pencapaian membanggakan.

Demikian halnya dengan T.P. Rachmat, sejak 1998 mulai merintis usaha bersama mendiang Benny Subianto. Mereka membentuk Triputra Investindo Raya dan secara serius menanganinya pada 2002.

Lini bisnis Grup Triputra memiliki 14 subholding company di seluruh penjuru negeri, 4 kelompok bisnis utama seperti agribisnis, pertambangan, manufaktur, dan perdagangan jasa.

Dari lini agribisnis, Triputra memiliki anak usaha yang bergerak di bisnis crumb rubber processor, perkebunan sawit, karet, dan kayu. Perusahaan crumb rubber processor yang berada di bawah PT Kirana Megantara merupakan pemain kedua terbesar di dunia dengan 15 pabrik yang 100% produknya untuk ekspor.

Dari dua orang ini, kita bisa memetik inspirasi atas arti sebuah nilai dan tujuan hidup yang ternyata bermanfaat bagi banyak orang. Apalagi bila Anda seorang pemimpin dengan kekuasaan besar, yang semestinya juga memiliki tanggung jawab besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

beranda leadership astra
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top