Sara Blakely, Antara Pakaian Dalam dan Richard Branson

Berawal dari penjaja mesin fax dari satu tempat ke tempat lain, Sara Blakely banting setir dan berhasil mendirikan kerajaan garmen spesialisasi pakaian dalam.
Renat Sofie Andriani | 16 Mei 2018 10:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Berawal dari penjaja mesin fax dari satu tempat ke tempat lain, Sara Blakely banting setir dan berhasil mendirikan kerajaan garmen spesialisasi pakaian dalam.

Minimnya pengetahuan berbisnis bahkan fesyen tak berarti terbatasnya ide. Bermodalkan tabungan senilai US$5.000, Sara mengeksekusi banyak langkah penting menuju terciptanya Spanx.

Bertahun-tahun kemudian, Spanx berkembang dan memproduksi berbagai jenis pakaian dalam baik untuk wanita - termasuk bra, legging, dan pantyhose - maupun pria.

Merek ini pun berkibar di puluhan negara. Pada 2012, Forbes mendapuknya sebagai miliarder wanita termuda di dunia yang meraup pundi melalui upaya sendiri.

Produk pakaian dalamnya jadi favorit berbagai tokoh dunia dan artis, mulai dari Oprah Winfrey, Michelle Obama, Jessica Alba, hingga Richard Branson.

Pentingnya Kegagalan

Lahir pada 27 Februari 1971, Sara berkeinginan mengikuti jejak profesi ayahnya yang seorang pengacara. Hanya menempati posisi bawah dalam ujian masuk sekolah hukum, Sara mencoba peruntungan di Disney World.

Ia lalu mendapatkan pekerjaan untuk menjual mesin fax. Profesi ini terbukti tak mudah, ia menerima banyak penolakan. Meski demikian, ia mampu bertahan selama beberapa tahun.

“Aku terus-menerus diusir keluar dari gedung-gedung. Orang-orang yang kutemui akan merobek kartu namaku tepat di depan muka,” kenang Sara, seperti dilansir dari CNN.

Tapi kegagalan maupun penolakan tak pernah menyurutkan tekadnya. Ia banyak belajar dari pengalaman ini.

“Ayah sering mendorong anak-anaknya untuk mengalami kegagalan. Aku tidak menyadarinya saat itu, tetapi sebenarnya dia hanya mendefinisikan ulang kegagalan. Kegagalan itu adalah tidak mencoba, bukan hasil,” lanjutnya.

Pola pikir macam itu, berikut pengalaman, mempersiapkannya menghadapi tantangan untuk memulai bisnis sendiri. Banyak orang menghindari risiko karena takut akan kegagalan, pandangan ini jelas tidak berlaku untuknya.

Ide Terciptanya Spanx

Setelah bertahun-tahun menjual mesin fax, Sara akhirnya memutuskan melakukan perubahan. Ia mengevaluasi kekuatannya dan menuliskan apa yang diinginkannya.

“Aku akhirnya menulis ingin menciptakan produk yang dapat dijual ke jutaan orang dan menjadikan mereka merasa lebih baik,” kata Sara.

Segala sesuatu memang akan ada saatnya. Ketika berusia 27 tahun, Sara tidak tahu harus mengenakan apa agar celana putih yang dipakainya terlihat licin dan tampilannya sendiri tetap baik dipandang.

Ketika ia menggunakan stoking dan sepatu terbuka, maka ujung jarinya akan terlihat jelas. Tetapi di sisi lain, ia menyukai hasil bentuk tubuhnya yang terlihat lebih ramping dengan mengenakan celana ketat.

Ia kemudian mendapatkan ide untuk memotong bagian kaki celana ketatnya. Inilah konsep versi awal pakaian dalam ketat untuk wanita yang akan membawa Sara ke jajaran pebisnis top dunia.

Jadi Favorit Oprah

Ia mulai melakukan riset untuk memproduksi pakaian dalam serta bagaimana mematenkan ide celana ketatnya. Sara menghabiskan sepekan mengunjungi pabrik-pabrik di North Carolina, dan akhirnya menemukan seseorang yang bersedia untuk membuat produknya.

Berita tentang produk baru ini menyebar luas dan menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah host ternama Amerika Serikat (AS) Oprah Winfrey.

Tak tanggung-tanggung, Oprah menempatkan Spanx dalam daftar 'Hal-hal Favorit'-nya pada tahun 2000, hanya dua tahun setelah Sara memotong celana ketatnya.

Ini menjadi momen besar bagi Sara. “Dipilih sebagai hal favorit bagi Oprah adalah momen yang benar-benar menentukan dan mengagumkan untukku.”

Atasi Ketakutan

Perlahan namun pasti Sara mendulang pundi dan popularitas di mana-mana, apalagi setelah dinobatkan sebagai miliarder wanita termuda versi majalah Forbes pada tahun 2012.

Seiring dengan menanjaknya popularitas, ia harus mengatasi ketakutan terbesarnya yakni melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat dan berbicara di depan khalayak ramai.

“Aku merasa seperti salah satu cara terbaik yang dapat saya hadapi dari ketakutan saya dan melaluinya adalah rasa syukur, merasa terberkati serta untuk tujuan yang lebih tinggi. Tanpa kedua hal itu, akan jauh lebih sulit bagiku untuk mengatasi hal-hal yang membuatku takut,” ungkapnya, seperti dikutip Success.

“Banyak wanita yang tidak memiliki kesempatan terbangun di pagi hari dan menempuh pendidikan. Jadi aku harus bepergian dengan pesawat dan menghadapinya. Tapi tidak juga berarti aku masih tidak takut dengannya,” gelak Sara.

Richard Branson Pahlawan Bisnis

Pada 2004, Sara harus mengatasi halangan lain ketika muncul dalam sebuah reality show bersama Richard Branson berjudul “The Rebel Billionaire”, semacam persilangan antara “The Apprentice” dan “The Amazing Race”.

Saat itu juga Sara menekankan pada dirinya sendiri bahwa dia harus menggali lebih dalam dan bersyukur karena memperoleh kesempatan itu.

“Aku seperti berkata 'Aku ada di tempat ini, Aku diberi kesempatan ini. Mengapa tidak mau melakukannya?' Dan hal semacam itu mampu mengatasi ketakutanku,” tutur Sara.

Selanjutnya, pertemanan antara Sara dan pendiri Virgin Group tersebut berkembang sangat baik. Sara menganggap Branson sebagai teman dan pahlawan bisnisnya.

“Aku selalu mengagumi betapa baiknya dia. Untuk mencapai tingkat keberhasilannya dan kebaikannya adalah benar-benar mengagumkan. Aku sangat terkesan dengan biasnya untuk bertindak,” lanjutnya.

“Dia datang dengan sebuah ide, dan dia sudah bertindak dan melakukannya sementara orang lain masih berbicara tentang detail bagaimana itu akan dilakukan. Benar-benar menginspirasi untuk berada di sekitarnya,” kesan Sara.

Di sisi lain, Branson memuji ketajaman bisnis Sara yang dinilainya cemerlang. Sara dianggap memiliki keberanian luar biasa dan melabelinya sebagai inspirasi bagi wanita di seluruh dunia.

'Menularkan Kegagalan' Pada Anak

Pada tahun 2008, Sara menikah dengan Jesse Itzler, co-founder Marquis Jet. Pernikahan keduanya telah menghasilkan empat anak.

“Anak-anak masih sangat muda. Tapi aku sudah membicarakan hal [tentang kegagalan] dengan salah satu dari mereka. Aku menanyakannya tentang 'Apa yang telah kamu coba dan gagal pekan ini?'”, ujar Sara, dikutip Business Insider.

Meski ia mengakui konsep itu masih sulit untuk dibayangkan oleh anaknya, Sara membuat poin untuk merayakan usaha-usaha yang telah dilakukan sang anak, apakah itu di lapangan sepak bola atau di sekolah.

“Salah satu hal mengenai pengasuhan yang menurutku sangat penting adalah tidak memuji anak, tetapi memuji usahanya,” kata Sara.

“Dan jika dia melakukan hal-hal yang tidak dia kuasai, aku akan berbicara dengannya tentang apa yang ia peroleh dari pengalaman itu.”

Bagi Itzer sendiri, sang istri adalah 'Michael Jordan-nya pakaian dalam wanita'. “Dia orang paling mengagumkan, aku beruntung mendapat tempat barisan terdepan dalam hidupnya,” ucap Itzer.

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top