Gwynne Shotwell, Perjalanan Presiden SpaceX 'Menembus Luar Angkasa'

Sosok seorang insinyur wanita bersetelan rapi dahulu menginspirasinya menggeluti bidang teknik mesin yang jarang diterjuni kaum hawa. Gwynne Shotwell, Presiden dan COO SpaceX, berharap dirinya juga bisa menjadi inspirasi perempuan muda generasi saat ini.
Renat Sofie Andriani | 04 Juni 2018 10:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sosok seorang insinyur wanita bersetelan rapi dahulu menginspirasinya menggeluti bidang teknik mesin yang jarang diterjuni kaum hawa. Gwynne Shotwell, Presiden dan COO SpaceX, berharap dirinya juga bisa menjadi inspirasi perempuan muda generasi saat ini.

Gwynne telah menjadi bagian dari SpaceX tak lama sejak perusahaan transportasi luar angkasa ini didirikan pada 2002. Sebagai pendiri, mungkin Elon Musk adalah jantung dan jiwa perusahaan ini. Tapi Gwynne-lah pemimpin sesungguhnya yang menjadi otak perjalanan SpaceX.

Karirnya mengangkasa dan waktunya dihabiskan untuk mewujudkan SpaceX menjadi perusahaan pertama yang mengangkut manusia ke dan dari Mars.

Meski disadarinya akan butuh waktu untuk mencapai tujuan 'gila' tersebut, namun Gwynne sepertinya tidak ingin membuang waktu untuk memberi tahu wanita lain bahwa mereka juga dapat mencapai kesuksesan yang telah ia capai.

Pesona Insinyur Mesin

Lahir di Evanston, Illinois pada 23 November 1963, Gwynne menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa kecil bernama Libertyville. Tak hanya dikenal berprestasi, ia juga menjadi bagian dari tim basket dan cheerleader pada masa sekolah menengahnya.

Meski berotak encer, Gwynne merasa bimbang dan tidak benar-benar tahu arah hidupnya selepas bersekolah. Ini berubah saat ia menghadiri diskusi panel yang diselenggarakan Society of Women Engineers (SWE) pada 1979.

“Dulu saya adalah seorang remaja yang suka menggerutu. Saya tidak ingin berada di acara itu. Tapi kemudian, saya melihat seorang insinyur teknik wanita duduk di dalam panel. Saya terpesona dengan apa yang dia katakan,” kenang Gwynne pada suatu kesempatan.

“Dia memiliki perusahaan sendiri, mengembangkan bahan-bahan konstruksi yang ramah lingkungan, [dan] juga berperan dalam bidang energi surya. Saya terpesona dengan apa yang ia lakukan, dan juga menyukai setelan yang dikenakannya,” lanjutnya, seperti dikutip Satellite Today.

Setelah diskusi panel berakhir, Gwynne mendatangi wanita tersebut dan berbicara tentang setelannya dan hal-hal yang dia lakukan.

“Saya meninggalkan acara itu dan berpikir saya [juga] bisa menjadi seorang insinyur mesin. Saya tidak tahu apakah saya akan mendatanginya jika dia tidak berbusana sedemikian rupa,” kata Gwynne.

Ruang Angkasa

Dilansir dari Born 2 Invest, Gwynne akhirnya mengambil mata kuliah teknik mesin dan matematika terapan masing-masing untuk gelar sarjana dan masternya di Northwestern University.

Setelah lulus, ia bekerja di industri otomotif dan bahkan memasuki program pelatihan manajemen di Chrysler. Merasa industri ini bukanlah panggilan jiwanya, Gwynne memutuskan meninggalkan Chrysler.

Ia kemudian mencoba peruntungan di industri kedirgantaraan melalui The Aerospace Corporation di El Segundo, California. Mungkin inilah bidang yang ia cari. Ia pun bekerja untuk industri dan perusahaan itu di antaranya dalam hal desain pesawat ruang angkasa dan integrasi pesawat ulang-alik.

Sepuluh tahun kemudian, Gwynne meninggalkan Aerospace dan menerima tawaran perusahaan pembuat roket, Microcosm, Inc., untuk sektor sistem ruang angkasa.

Karirinya di Microcosm telah bertahan selama empat tahun sebelum ia bertemu seorang temannya, mantan karyawan Microcosm yang pindah ke SpaceX.

Melalui temannya itu, Gwynne berkesempatan berbincang dengan pendiri SpaceX, Elon Musk. Saat itu, SpaceX hanyalah sebuah perusahaan kecil yang baru memiliki 10 karyawan. Kesempatan ini membuka peluang baginya untuk ambil bagian dalam SpaceX.

SpaceX dan Elon Musk

Dengannya bergabung, Gwynne otomatis menjadi karyawan kesebelas SpaceX. Ia dipercayai menduduki posisi wakil presiden departemen pengembangan bisnis.

Perannya di SpaceX terbukti menjadi langkah yang baik baginya. Perjalanan karirnya dan perusahaan mengangkasa.

Daftar tanggung jawab yang harus diemban Gwynne di SpaceX bertambah ketika dia harus berurusan dengan keuangan perusahaan, pemerintah, dan urusan-urusan hukum selain bertemu dengan para pelanggan.

Di bawah kontribusinya, SpaceX berhasil meraih kontrak penting pertamanya dengan National Aeronautics and Space Administration (NASA) senilai US$1,6 miliar. SpaceX diupah untuk membantu menyediakan dan mengirimkan pasokan-pasokan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Menyusul kesuksesan ini, Gwynee dipromosikan untuk posisi COO dan Presiden SpaceX. Sempat terbersit kecemasan dalam hati Gwynne bahwa penunjukannya dapat menimbulkan konflik internal. Namun Musk membantunya memasuki peran penting baru ini dengan berbicara kepada rekan-rekannya.

Gwynne memiliki pandangan tersendiri yang mendalam tentang bosnya ini. “Dia adalah pemimpin yang luar biasa. Dia lucu, sangat adil, dan bekerja sangat keras,” ungkap Gwynne, dikutip CNBC.

Tentang Seksisme

Industri satelit merupakan tantangan bagi setiap wanita yang ingin menapaki tangga karirnya. Meskipun industri ini didominasi tenaga pria, Gwynne bersyukur tidak memiliki pengalaman pribadi yang mengarah pada kesimpulan bahwa seksisme adalah hal yang lumrah di industri ini.

Namun bukan berarti ia sama sekali tidak pernah mengalami pengalaman serupa. Ketika ia baru lulus sarjana, ia mencoba melamar posisi magang untuk insinyur mesin pada sebuah perusahaan AC. Resumenya yang cemerlang serta merta memberinya posisi itu tanpa wawancara.

Sepekan sebelum ia memulai pekerjaannya, sang bos menghubungi untuk membahas posisi itu. Yang terjadi kemudian adalah bosnya terdengar terkejut mendengar suara yang ternyata adalah seorang perempuan di telepon.

“Dia kemudian berkata, 'tidak mungkin Anda dapat melakukan pekerjaan ini karena harus mengangkat benda-benda berat.' Saya pun menjawabnya 'Saya seorang atlet, saya bermain basket di sekolah menengah dan masuk tim lacrosse di perguruan tinggi, saya juga bisa menendang semua pria yang akan Anda pekerjakan untuk magang,” terang Gwynne.

Tetap saja, kemampuan Gwynne diragukan. Itulah satu-satunya pengalaman seksisme yang pernah ia rasakan. Tetapi ia yakin bahwa selanjutnya ia telah menancapkan kesan begitu kuat pada perusahaan-perusahaan kedirgantaraan yang ia temui.

“Saya yakin beberapa orang berpikir, 'Siapa dia?' Jika Anda kompeten, penuh persiapan, bermanfaat, dan bekerja di luar lingkup pengaruh Anda, Anda akan menemukan jalan.”

Untuk Generasi Masa Depan

Jadi, apa sarannya untuk wanita muda yang memulai karir mereka di industri dewasa ini?

“Anda tidak punya kendali apakah Anda akan menjadi orang paling pintar di perusahaan atau bahkan orang terpintar di ruangan itu pada waktu tertentu, terutama di perusahaan seperti SpaceX di mana ada banyak orang pintar,” ujar Gwynne.

“Tapi, Anda memiliki kendali pada seberapa siap diri Anda, seberapa keras Anda bekerja dan hasil seperti apa yang Anda dapatkan,” lanjutnya.

Ia menyadari bahwa untuk alasan apa pun, teknik bukanlah bidang yang menarik bagi kebanyakan perempuan. Ia kemudian menyoroti satu perusahaan yang memiliki pendekatan menarik atas sains dan teknik terhadap gadis muda.

“Ada banyak perubahan menarik yang terjadi. Contohnya, sebuah perusahaan mainan kecil bernama GoldieBlox, yang mencoba melakukan koneksi antara para gadis muda dengan teknik. Produk mereka memberi gadis-gadis kecil paparan fisika dan prinsip-prinsip teknik dasar,” lanjutnya.

“Saya rasa penting bagi saya menjadi seterbuka mungkin dan berharap menginspirasi wanita-wanita lain untuk turut ambil bagian dalam bidang yang mengagumkan ini,” tutur Gwynne.

Tag : space.com
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top