Gabrielle ‘Coco’ Chanel, Anak Panti Asuhan yang Sukses Jadi Desainer Dunia

Siapa yang tak tahu merek Chanel? Diambil dari nama pendirinya, desain-desain busana Chanel memiliki siluet yang klasik tapi tetap modis.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 27 Juli 2018 15:45 WIB
Coco Chanel. - biography.com

Bisnis.com, JAKARTA — Siapa yang tak tahu merek Chanel? Diambil dari nama pendirinya, desain-desain busana Chanel memiliki siluet yang klasik tapi tetap modis.

Chanel memang menjadi desainer pertama yang melihat fesyen dari dua sisi, yakni klasik dan santai. Siluetnya menjadi inspirasi bagi banyak perancang busana saat ini. 

Dialah pionir membuat pakaian tanpa korset yang ketat dan membuat pakaian yang kasual menjadi trendi dan modis. Tidak hanya membuat pakaian, Chanel juga membuat parfum serta tas dan perhiasan.

Dia adalah ikon mode yang mudah bersosialisasi, sangat ambisius, gigih dalam membangun usaha tapi sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya. 

Besar di Panti Asuhan

Dilansir dari thefamouspeople.com, Gabriella Chanel yang akrab dipanggil Coco Chanel ini tidak memiliki kenangan masa kecil yang indah. Dia lahir pada 19 Agustus 1883.

Ibunya bekerja sebagai pencuci pakaian di rumah sakit amal yang dikelola oleh para biarawati di Saumur, Prancis. Ayahnya, Albert Chanel, adalah seorang pedagang jalanan yang menjual pakaian kerja dan pakaian dalam untuk mencari nafkah.

Coco kecil hidup dalam kemiskinan. Saat masih berusia 12 tahun, ibunya meninggal dunia karena penyakit bronkitis yang dideritanya.

Sang Ayah lalu memasukkannya ke panti asuhan Aubazine di Prancis Tengah. Coco mengalami masa-masa sulit di Aubazine, karena tempat tersebut memiliki peraturan yang sangat menuntut.

Tidak tahan tinggal di Aubazine, dia pun akhirnya melarikan diri dan tinggal di asrama untuk gadis-gadis Katolik di kota Moulins.

Meski Aubazine menjadi tempat tinggal yang tidak menyenangkan baginya, tapi pelajaran menjahit yang diajarkan kepadanya di sana selama enam tahun membuat Coco memperoleh pekerjaan sebagai seorang penjahit di Moulins.

Saat memiliki waktu luang, dia sering bernyanyi di kabaret yang sering dikunjungi oleh tentara. Coco debut di panggung dengan bernyanyi di sebuah kafe di Moulins, La Rotonde.

Dari acara itulah dia mendapatkan nama 'Coco', karena dua lagu yang dinyanyikannya "Ko Ko Ri Ko", dan "Qui qu'a vu Coco" merupakan singgungan ke kata Prancis untuk perempuan simpanan, cocotte.

Coco kemudian mengejar mimpinya untuk menjadi pemain teater musikal. Membulatkan tekad pada 1906, dia pun akhirnya pergi ke kota resor spa, Vichy, dan mencoba mencari perutungan sebagai pemain panggung.

Namun, dia segera menyadari bahwa menjajaki karier panggung bukanlah hal yang mudah dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke Moulins.

Awal Berkarir Sebagai Desainer

Coco mendapatkan dukungan dari kekasihnya, Kapten Arthur Edward Capel, untuk meneruskan aktivitas menjahitnya. Capel dikenal memiliki gaya berpakaian yang rapi dan stylish, sehingga akhirnya menginspirasi siluet pakaian Coco.

Bahkan desain tempat parfum Coco ‘Chanel 5’ terinspirasi dari pernak-pernik yang dibawa oleh Capel. Coco dikatakan terinspirasi dari garis-garis persegi panjang dan miring dari botol-botol perlengkapan mandi yang dibawa Capel dalam tas bepergian kulitnya atau desain indah dari botol wiski.

Pada 1913, dengan bantuan Capel, Coco membuka butik pertamanya di Deauville. Dia memperkenalkan berbagai pakaian santai dan pakaian olahraga.

Lantaran desainnya memberikan pilihan pakaian yang berbeda dengan yang dikenakan para perempuan saat itu, butiknya berhasil menarik perhatian dan sangat sukses.

Pada 1915, Coco kemudian membuka butik keduanya di Biaritzz. Butik keduanya ternyata sukses besar karena berjalan sangat baik dan membawa keuntungan yang luar biasa.

Pada 1919, dia sudah teregistrasi sebagai seorang penjahit perempuan dan mendirikan rumah modenya sendiri di Cambon, salah satu distrik paling modis di Paris.

Sejak itu, bisnisnya terus berkembang. Pada 1935, Coco bahkan dapat mempekerjakan 4.000 orang.

 

Sayangnya, kondisi ini tidak berjalan terus menerus. Pada akhir 1930-an, usahanya mulai mengalami penurunan seiring dengan bermunculannya desainer-desainer baru. 

Perang Dunia II menjadi pukulan berat bagi Coco, yang akhirnya terpaksa menutup tokonya. Tidak hanya itu, dia juga dituduh menjadi mata-mata Nazi.

Pada 1945, setelah Perang Dunia II berakhir, Coco pindah ke Swiss. Dia tinggal di sana selama sekitar sembilan tahun sebelum akhirnya kembali ke Paris pada 1954.

Pada tahun yang sama, Coco membuka kembali rumah modenya di Paris. Tetapi, koleksi barunya tidak diterima dengan baik oleh orang Paris karena tuduhan mata-mata Nazi terus menghantuinya.

Namun, desainnya ternyata diterima dengan baik di Inggris dan AS.

Karya Coco Chanel yang Tak Terlupakan

Coco Chanel mewariskan karya-karya yang masih beredar dan ikonik sampai saat ini.

Pertama, parfum ‘Chanel 5’ yang banyak digunakan oleh selebriti maupun masyarakat biasa.

Kedua, desain legendaris gaun hitam sederhana. Desain gaun ini sering disebut sebagai kontribusi Coco Chanel pada leksikon mode dan menjadi gaun terlaris yang pernah dijual dari merek dagang Chanel.

Ketiga, tas Chanel yang ikonik, yang juga dikenal sebagai '2,55'—dinamai setelah tanggal pembuatan tas (Februari 1955). Tas ini membuat posisi tas lebih dari sekadar aksesoris dan pelengkap gaya. . 

Keempatdesain 'setelan jas' yang dijahit khusus untuk perempuan dan dianggap mendorong para perempuan untuk mengejar tujuan profesional mereka dengan gaya.

Kehidupan Pribadi dan Berbagai Kebohongan Coco Chanel

Coco Chanel berpacaran dengan mantan perwira kavaleri Prancis Etienne Balsan pada usia 23 tahun. Oleh sang kekasih, dia dimanjakan dengan kekayaan dan sering diberi hadiah dalam bentuk berlian, mutiara, dan gaun.

Meski dimanjakan dengan hadiah-hadiah mewah itu, rupanya Coco tidak merasa puas. Pada 1908, dia berselingkuh dengan teman Balsan yaitu Kapten Arthur Edward Capel.

 

Tetapi, hubungan keduanya juga tidak 'semulus' itu karena Capel justru menikah dengan bangsawan Inggris. Meski demikian, dia tidak pernah benar-benar putus dengan Coco.

Pada 1919, Capel meninggal dalam kecelakaan mobil. Saat itu, Coco merasa hancur dan mengaku kepada temannya bahwa dia telah kehilangan segalanya. 

Di Biarritzz, Coco juga sempat memiliki hubungan romantis dengan bangsawan Rusia bernama Dimitri Pavlovich. Namun, hubungan ini hanya bertahan sebentar.

Tidak berhenti dengan kontroversi hubungan percintaannya, kehidupan pribadi Coco Chanel penuh dengan kontroversi. Menurut biografi ‘Coco Chanel: The Legend and the Life’ karya Andre Palasse, ada dugaan bahwa anak saudara perempuan Coco yaitu Julia-Berthe sebenarnya adalah Coco dari Balsan.

Julia-Berthe diketahui meninggal bunuh diri.

Coco Chanel adalah satu-satunya perancang busana yang masuk dalam daftar majalah Time 100 orang paling berpengaruh di abad ke-20.

Selain itu, Coco Chanel tertangkap berbohong tentang dirinya untuk beberapa kasus. Salah satunya, dia mengaku dilahirkan di Auvergne padahal sebenarnya di rumah sakit tempat ibunya bekerja di Lembah Loire. 

Dia juga mengklaim lahir sepuluh tahun lebih lambat dibandingkan dengan tahun kelahirannya yang sesungguhnya. Kasus lainnya adalah Coco menyatakan dirinya dikirim ke tempat dua bibinya yang galak oleh sang ayah ketika ibunya meninggal, meski sebenarnya ke panti asuhan di Aubazine.

Dilansir dari nytimes.com, Coco Chanel meninggal pada 10 Januari 1971 di apartemennya di Hotel Ritz, yang sudah dia tinggali selama 30 tahun. Dia meninggal di usia 87 tahun.

Kematiannya diumumkan oleh teman-teman terdekatnya. Mereka mengatakan bahwa Coco Chanel meninggal dengan damai dan sebelumnya tidak dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Kematian Coco terjadi saat dia sedang mengerjakan koleksinya untuk ditampilkan dalam fashion show musim semi yang dijadwalkan digelar pada Januari 1971. Dia dimakamkan di Lausanne, Swiss.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
desainer

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top