Korporasi Juga Butuh Idola

Mencontoh kisah sukses orang-orang besar bisa menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi manajemen korporasi. Tantangan terbesar biasanya datang dari dalam.
Inria Zulfikar | 23 November 2018 14:58 WIB
General Electric - cnbc.com

Bisnis.com, JAKARTA—Dalam tulisannya yang pernah dirilis Harvard Business Review, Jack Covert dan Todd Sattersten mengungkapkan bahwa korporasi tidak beda dengan manusia yang kerap dilanda kebimbangan dalam menjalani kehidupannya.

Tidak hanya itu, korporasi sering merasa tidak pede untuk menghadapi pesaing. Bila demikian bagaimana mereka bisa memenangkan kompetisi bisnis yang makin berdarah-darah?

Segudang data valid tidak malah membuat korporasi siap mempersenjatai dirinya untuk melumpuhkan lawan. Ia bahkan menjadi momok. Data justru membuat bingung manajemen. Akan kemana kita dengan itu semua?

Apa yang dikatakan dua penulis tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Cobalah kita simak buku-buku mengenai manajemen dan bisnis perusahaan selama tiga dekade terakhir, umumnya menggarisbawahi hal yang sama: Ketakutan tidak pernah lenyap dari sanubari korporasi meski jurus dan terapi sudah banyak ditawarkan kepada para CEO.

Kata’ perubahan’ tampaknya benar-benar membuat manajemen korporasi tidak berkutik. Segala niat baik untuk melakukan perubahan besar seolah kandas di tengah jalan begitu menghadapi tantangan baru.

Meminjam istilah Covert dan Sattersten, pebisnis lebih banyak mengumbar kata-kata dibandingkan dengan menyimak jurus-jurus mumpuni.

Menjawab Tantangan

Mencontoh kisah sukses orang-orang besar bisa menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi manajemen korporasi. Tantangan terbesar biasanya datang dari dalam. Seberapa pun kerasnya iklim persaingan di luar, pencapaian menuju cita-cita sangat tergantung dari sejauh mana kita bisa menaklukan tantangan internal.

Oleh karena itu, para pakar manajemen tidak bosan-bosannya memberikan tip bagi pimpinan perusahaan untuk tetap menggantungkan cita-cita setinggi langit. Tidak perlu malu untuk belajar dari pengalaman sukses para ‘pahlawan’.

‘Pahlawan’, dalam hal ini, tidak selalu terkait dengan orang yang berjasa dalam kehidupan atau negara. Bukan pula tokoh yang dianggap berjasa dalam perang kemerdekaan.

‘Pahlawan’ tersebut, menurut Covert dan Sattersten—keduanya pendiri 800-CEO-Read, perusahaan yang memfokuskan diri pada penjualan buku-buku bisnis—bisa saja berasal dari dunia rekaan.

Tak ayal, keduanya memasukkan tokoh-tokoh seperti Hercules dan Luke Skywalker yang kondang di panggung industri perfilman AS. Adapun pahlawan di dunia nyata yang disebut adalah Jack Welch, sang ikon dan legenda General Electric, raksasa manufaktur AS.

Dalam kaitan itu, rekomendasi yang disampaikan para pakar umumnya bertumpu pada benang merah serupa. Paling tidak ada enam hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini.

Pertama, sang pemimpin puncak harus memiliki tujuan yang jelas agar perusahaan berjalan sesuai harapan dan tidak justruzig-zag atau bak anak ayam kehilangan induk.

Kedua, bagaimana menyikapi pengalaman masa lalu.  Ketiga, segudang informasi di era Internet saat ini

perlu diwaspadai karena bila tidak disikapi secara bijaksana bisa bebenturan dengan keputusan-keputusan besar yang diambil manajemen.

Keempat, biarkan bias-bias bermunculan dalam proses pengambilan keputusan. Kelima, selalu bersikap positif terhadap perubahan. Keenam, mencari umpan balik.

Terjebak 

Dalam tiga dekade terakhir kita bisa melihat betapa upaya untuk mencontoh kisah-kisah sukses telah memerangkap banyak korporasi, terutama korporasi multinasional. Mereka berada dalam posisi ‘maju kena, mundur kena’.

Tentu kita masih ingat pada era 1980-an ketika Thomas Peters dan Robert Waterman (In Search of Excellence) menyimpulkan bahwa korporasi yang sedang mengikuti jejak keberhasilan pendahulunya sering terjebak pada langkahnya sendiri, karena tidak tepat dalam menggunakan data dan protokol.

Kemudian pada dekade berikutnya mulai terlihat ada perubahan sikap korporasi, seperti yang ditelaah Robert Kaplan dan David Norton (The Balanced Scorecard).  Kedua pakar tersebut, dalam tesisnya, mengungkapkan bahwa sikap bijak dan hati-hati dalam menggunakan data merupakan modal bagi manajemen untuk mengambil keputusan yang tepat.

Namun era bisnis terus berubah. Pendekatan lebih aktual ditawarkan Thomas Friedman (The Lexus and the Olive Tree, 1999). Dia menekankan bahwa perubahan besar yang terjadi bersamaan dengan globalisasi tidak perlu dipandang sebagai monster. Bagi Friedman, globalisasi justru membawa semangat kebebasan.

Dengan demikian keenam ‘prasyarat’ berkorporasi yang diulas sebelumnya bisa dengan mudah ‘nyambung’ dengan konteks bisnis saat ini.

Misalnya, tujuan yang jelas dalam berkoporasi menuntut adanya wisdom dalam proses pengambilan keputusan. Dari sini kemudian muncul action dalam lingkup internal yang sekaligus menuju ke suatu perubahan.

Seluruh proses tersebut ‘dikawal’ dengan pilar umpan balik yang dinamis untuk menjaga proses besar tadi tetap berjalan pada relnya.

Bila korporasi di negeri Paman Sam mengidolakan Jack Welch, dunia usaha nasional rasanya juga mempunyai banyak jago yang layak dijadikan contoh.

Yang jelas, tidak ada jalan pintas untuk mencapai kesuksesan. Semuanya mutlak didukung perencanaan, riset, investasi, SDM andal, dan kejelian berbisnis sang pemimpin.  

Tag : korporasi
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top