Apa Kabar Putra Mahkota Samsung Jay Y. Lee Setelah Keluar dari Penjara?

Lebih dari satu tahun sejak menghirup udara bebas dari himpitan jeruji bui, apa kabarnya Vice Chairman Samsung Jay Y. Lee?
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  12:30 WIB
Apa Kabar Putra Mahkota Samsung Jay Y. Lee Setelah Keluar dari Penjara?
Jay Y. Lee - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Lebih dari satu tahun sejak menghirup udara bebas dari himpitan jeruji bui, apa kabarnya Vice Chairman Samsung Jay Y. Lee?

Pemimpin de facto Samsung ini semakin memperlihatkan tajinya saja sebagai pewaris tahta kerajaan teknologi asal Korea Selatan tersebut. Ia telah merancang rencana sedemikian rupa bagi Samsung agar tetap mendominasi pasar teknologi dunia.

Samsung dinyatakan akan mengejar investasi dalam bisnis-bisnis masa depan termasuk jaringan mobile generasi keenam dan semikonduktor sistem.

Langkah ini dilakukan seiring dengan upaya perusahaan menghadapi lingkungan bisnis global yang berubah dengan cepat dan telah berdampak pada kinerjanya.

Pekan lalu, pria yang bakal genap berusia 51 tahun itu mengadakan diskusi dengan para eksekutif Samsung tentang potensi kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan platform mengenai jaringan seluler 6G, teknologi blockchain, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Ini adalah pertama kalinya Lee secara terbuka membahas potensi teknologi 6G, ketika Samsung dan para pesaingnya, termasuk Apple dan Huawei Technologies, berlomba untuk mengkomersilkan layanan jaringan 5G.

“Kita harus menantang diri kita sendiri dengan sebuah resolusi untuk membuat landasan-landasan baru, bergerak melampaui ruang lingkup melindungi pencapaian kita di masa lalu,” tegas Lee dalam sebuah pernyataan yang dirilis Samsung pada Minggu (16/6/2019), seperti dilansir dari Bloomberg.

Pelajaran dari Penjara

Gambaran diri Lee saat ini berbanding terbalik dengan awal tahun 2017. Saat itu, sebagian besar foto-fotonya yang bertebaran di media massa memampangkan Lee dengan dua tangan terborgol.

Kawalan polisi terlihat kerap mengapitnya berjalan antara ruang pengadilan dan penjara. Ia didakwa terlibat dalam skandal korupsi yang berujung pada tergulingnya mantan Presiden Korsel Park Geun-hye.

Sempat meringkuk di penjara selama sekitar setahun, Lee akhirnya bebas setelah mendapatkan penangguhan penahanan pada Februari 2018.

Keputusan pengadilan tersebut mengirimkan gelombang kejutan di kalangan politik dan bisnis Negeri Ginseng. Keputusan itu juga memicu kembali debat publik yang intens seputar isu korupsi yang menyandung elite politik dan anggota keluarga konglomerat (chaebol).

Banyak aktivis yang berpendapat bahwa para konglomerat seperti Samsung, LG, dan Lotte harus menerima perlakuan lebih keras karena telah meningkatkan keuntungan dengan mengorbankan kepentingan publik.

Di sisi lain, pihak konservatif berpendapat bahwa pemimpin konglomerat, yang sebagian besar adalah cucu atau cicit dari pendiri perusahaan, tidak seharusnya dipenjara atau diberi sanksi karena berperan untuk ekonomi nasional.

Di luar pusat penahanan Seoul setelah bebas, Lee menyampaikan permohonan maafnya di depan para awak media karena telah mengecewakan banyak pihak.

“Satu tahun terakhir merupakan waktu yang sangat berharga untuk bercermin pada diri saya kembali,” tutur Lee pada Februari 2018, seperti dikutip dari Reuters.

Dengan berakhirnya masa penahanan tersebut, Lee dapat kembali menjalani peran strategisnya di Samsung, perusahaan yang telah dipimpin secara turun-temurun.

Saat itu Lee dipandang akan menghadapi tugas-tugas menantang untuk mencoba menemukan arah yang tepat bagi pertumbuhan perusahaan dan membuat keputusan investasi besar, terlepas dari kinerja Samsung yang tak terdampak oleh penahanannya.

“Lee harus memutuskan bisnis mana yang akan tumbuh untuk melanjutkan pertumbuhan kuat Samsung Electronics,” ujar Park Jung-hoon, fund manager di HDC Asset Management.

Putra Mahkota Samsung

Lahir pada 23 Juni 1968, Lee Jae-yong atau lebih dikenal dengan nama Jay Y. Lee adalah cucu pendiri Samsung, Lee Byung-chul. Sang ayah, Lee Kun-hee, yang masih berlaku sebagai Chairman Samsung Group merupakan konglomerat terbesar di Korsel.

Dengan gelar sarjana dari universitas bergengsi Seoul National University dan pendidikan di Harvard Business School, Lee telah dipersiapkan untuk mengambil alih perusahaan keluarga.

Ia disebut sebagai Putra Mahkota Samsung oleh media Korea Selatan dan dikenal menguasai tiga bahasa yakni Inggris, Korea, dan Jepang. 

Lee menjadi Presiden Samsung pada 2010 dan ditunjuk menjadi Vice Chairman Samsung Electronics pada 2012. Samsung Electronics adalah divisi perusahaan yang fokus pada pembuatan produk-produk elektronik mulai dari smartphone dan televisi hingga kamera dan hard drive.

Selain produk-produk elektronik, keluarga Lee juga mengendalikan perusahaan-perusahaan yang di antaranya membuat kapal dan obat-obatan, mengeluarkan kartu kredit, dan mengelola hotel.

Namun sejak ayahnya, Lee Kun-hee, mengalami serangan jantung pada 2014 dan terbaring di rumah sakit, ia dianggap sebagai pemimpin de facto seluruh grup Samsung.

Meski demikian, berdasarkan tradisi, Lee baru benar-benar bisa mengambil alih kepemimpinan kerajaan keluarganya setelah ayahnya meninggal.

Forbes menempatkan ayah dua anak ini di urutan 215 dalam daftar miliarder 2019 dan posisi ke-3 daftar 50 orang terkaya di Korea pada 2018, dengan kekayaan bersih senilai hampir US$6 miliar (sekitar Rp84 triliun, asumsi Rp14.000 per dolar AS).

Keputusan Berbisnis

Diketahui memiliki wawasan global dan pola pikir yang inovatif, Lee telah membuktikan dirinya berkemampuan apik dalam menavigasi masalah strategi jangka panjang.

Sebagai contoh, ia menjadi otak aksi akuisisi perusahaan audio otomotif asal Amerika Serikat Harman International Industries pada November 2016.

Kesepakatan bernilai US$8 miliar ini menandai langkah besar dalam pasar elektronik otomotif serta menjadi akuisisi asing dengan nilai terbesar sepanjang sejarah Samsung.

Selama masa pemerintahan Presiden Moon Jae-in, yang menggantikan Park Geun-hye setelah terguling, Lee dinilai akan lebih berhati-hati dalam mengambil langkah dan keputusan berbisnis.

“Dia mungkin akan sedikit lebih berhati-hati dalam berurusan dengan pemerintah, karena Samsung menggunakan kecerdasan tingkat tinggi mereka untuk mencari tahu siapa yang harus dilobi,” ujar Tom Kang, seorang direktur riset di Counterpoint Research, seperti dikutip dari Forbes.

Sejak Lee dibebaskan, Moon telah menawarkan rekonsiliasi dengan memintakan bantuan Lee dalam menciptakan lapangan kerja dan dalam kolaborasi ekonomi potensial dengan Korea Utara.

Lee memperlihatkan sikap kooperatifnya dengan turut serta dalam kunjungan bisnis ke Korut bersama Presiden Moon dan sejumlah pemimpin konglomerasi pada September 2018.

“Pemerintahan Moon telah mendorong para konglomerat Korea Selatan untuk membersihkan tindakan mereka dan memperbaiki tata kelola perusahaan, sehingga mereka sulit menolak permintaan presiden untuk ambil bagian dalam kunjungan tersebut,” ujar Analis Daiwa Capital Markets SK Kim, dikutip dari CNN.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
samsung

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top