Birokrasi dan Ego

"Kekuatan dan kecepatan adalah kaki dan tangan" (Ralph Waldo Emerson)
Pongki Pamungkas*
Pongki Pamungkas* - Bisnis.com 01 November 2019  |  06:39 WIB
Birokrasi dan Ego
Pongki Pamungkas - Jibi

Kalau bisa diperlambat, kenapa dipercepat? Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah? "Birokrasi, entah aturan siapa, telah menjadi format modern despotisme", kata  Mary Mc Carthy, novelis dan aktivis politik 1920-an. Despotisme dapat dikatakan sebagai tirani.

Padahal  sejatinya,"Kemampuan organisasi untuk belajar dan menerjemahkan pembelajaran ke dalam tindakan cepat adalah suatu keunggulan dalam berkompetisi", kata Jack Welch.

Indonesia belum lama  batal mendapatkan belasan investor besar dari China. Mereka memilih Vietnam dan beberapa negara lain di Asia Tenggara untuk berinvestasi. Salah satu penyebabnya adalah  birokrasi di negara ini akan mempersulit perjalanan bisnis mereka.

Kita sendiri terus saja mengalami kekesalan, betapa payahnya berurusan dengan pelbagai instansi pemerintahan dalam banyak segi legal formal urusan- urusan kita.

Padahal birokrasi pada dasarnya dibuat untuk hal yang baik. Dua fungsi utama,  dalam proses birokrasi adalah, fungsi kontrol (terhadap implementasi kebijakan- kebijakan yang ada), tanpa harus mengabaikan fungsi pelayanan.

Dan yang kemudian terjadi adalah fungsi kontrol yang otoriter, yang ekstrem berlebihan, sekaligus sama sekali mengabaikan fungsi pelayanan.

Dalam fungsi inilah soal kultur yang berbicara. Kultur birokrat dengan mentalitas korup, selain masalah ego, membuat birokrasi menjadi buruk.

Lalu timbullah  suap, atau pelicin. Penyuap ingin urusannya segera tuntas. Yang disuap, hanya baru melayani kalau sudah disuap.

Di sisi lain, soal ego pun membuat proses birokrasi tersendat. Pada umumnya, setiap orang memiliki ego, yang dalam beberapa kasus kadar ego ini sangat berlebihan. "Saya yang kuasa di sini. Tak boleh ada yang lewat tanpa persetujuan saya. Saya yang menentukan". 

"Tujuan akhir dari ego bukanlah untuk melihat sesuatu, melainkan menjadi sesuatu", kata Muhammad Iqbal, filsuf asal Pakistan, secara sarkatis.

Padahal, "Anda dapat menjadi pelayan sebagaimana perintah Yang Maha Kuasa, atau menjadi sandera karena ego Anda. Itu panggilan nurani Anda", kata Wayne Dyer.

Siapa yang salah? Sejatinya, yang paling bersalah adalah yang menerima suap, atau para birokrat yang buruk itu. Mereka mendapatkan amanah dari rakyat untuk mengelola manajemen pemerintahan. Mereka membuat kebijakan dan melakukan kontrol. Mereka harus melayani (masih adakah predikat 'abdi negara'?).

Kata Jack Welch, "Manakala Anda ditetapkan sebagai pimpinan, Anda bukan mendapatkan mahkota. Anda mendapatkan tanggung jawab untuk menyajikan hal terbaik bagi orang lain".

Mungkin, pada suatu saat, ketika kita berhadapan dengan birokrat yang buruk ini, ada baiknya kita coba bertanya kepadanya, "Apakah ini Anda, atau ego Anda?".

*Penulis buku-buku "Life and Management Wisdom Series":

  •  The Answer Is Love
  •  All You Need Is Love
  •  To Love and To be Loved
  •  Love of My Love

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reformasi birokrasi

Editor : Fajar Sidik
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top