Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bagaimana Tren Bisnis Makanan Beku dan Online di Pandemi Corona?

Pandemi virus Corona (Covid-19) berdampak pada gaya hidup masyarakat dalam mengonsumsi makanan segar menjadi makanan beku.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  20:45 WIB
Makanan beku menjadi incaran masyarakat di tengah pandemi virus Corona (Covid/19).
Makanan beku menjadi incaran masyarakat di tengah pandemi virus Corona (Covid/19).

Bisnis.com, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan masyarakat, termasuk dalam pola konsumsi. Hal ini kemudian berdampak pada industri makanan dan minuman. Banyak perusahaan mamin yang dibanjiri pesanan terutama untuk makanan beku, makanan dan minuman kemasan, serta makanan pokok.

Pasalnya, tidak sedikit masyarakat yang khawatir akan adanya penutupan jangka panjang dan kekhawatiran terhadap keruntuhan rantai pasok makanan saat pandemi Covid-19 terjadi. Situasi ini telah dikonfirmasi di cukup banyak wilayah di seluruh dunia dan telah menjadi tren secara global.

Sejumlah komponen makanan beku telah mengalami peningkatan pesanan yang cukup besar. Tepung, ragi, sup, makanan kaleng, dan makanan beku untuk beberapa produsen telah meningkat 100 persen.

Selain itu, pembelian produk makanan dan minuman secara online juga meningkat. Dengan pesanan tetap di rumah, penutupan beberapa bisnis ritel dan barang-barang makanan penting habis dari rak-rak toko karena pembelian panik, banyak konsumen telah beralih ke pembelian makanan secara online.

“Pembelian makanan online telah meningkat 25 persen selama tiga tahun terakhir tetapi, selama periode krisis (pandemi Covid-19), diperkirakan lebih dari setengah dari makanan yang dikonsumsi akan dibeli secara online,” tulis laporan yang dikutip dari Packagingdigest, Rabu (24/6/2020).

Produsen yang selama ini lebih mengandalkan jaringan rantai pasokan pusat distribusi tradisional yaitu -dari produsen ke pengiriman ke gudang lalu ke pengiriman pelanggan- kini mengembangkan jaringan langsung dari produsen-ke-konsumen.

“Hal ini untuk memudahkan orang membeli produk mereka tanpa keluar rumah. Tren ini kemungkinan akan berlanjut pasca-pandemi.”

Lantas apa yang akan terjadi saat situasi new normal atau kenormalan baru? Ke depan, perusahaan makanan dan minuman cenderung melihat bahwa akan terjadi sedikit pengurangan volume pada produk-produk yang terutama dibeli pada saat "pembelian panik."

Namun, seperti yang telah kita lihat sepanjang sejarah, konsumen cepat mengubah kebiasaan, sehingga beberapa tren makan selama krisis seperti pembelian makanan beku dan membeli makanan secara online, mungkin tetap akan berlangsung.

Orang masih akan lebih banyak makan dan minum di rumah, yang pada gilirannya, akan mempertahankan tingkat permintaan dan volume yang meningkat untuk produk yang dibeli konsumen selama masa pandemi seperti makanan beku dan makanan kemasan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makanan Makanan Beku industri makanan dan minuman
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top