Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Para CEO di Pusaran Krisis Covid-19

Berbicara di rapat pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway awal Mei 2020, investor kaya raya Warren Buffett mengatakan ‘dunia telah berubah karena virus corona’. Sejurus kemudian ia menukas, dirinya telah membuat kesalahan dengan investasi pada industri penerbangan.
Hery Trianto
Hery Trianto - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  10:50 WIB
  Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menjadi narasumber diskusi bertema Semangat Baru Garuda di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/1/2020). - Antara
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menjadi narasumber diskusi bertema Semangat Baru Garuda di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/1/2020). - Antara

Berbicara di rapat pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway awal Mei 2020, investor kaya raya Warren Buffett mengatakan ‘dunia telah berubah karena virus corona’. Sejurus kemudian ia menukas, dirinya telah membuat kesalahan dengan investasi pada industri penerbangan.

Bekshire, perusahaan investasi milik Buffett, menjual rugi seluruh kepemilikan saham di empat maskapai penerbangan terbesar di Amerika Serikat untuk meraih US$4 miliar, dari modal US$8 miliar. Berdasarkan laporan tahunan, konglomerasi ini, memiliki 11% saham di Delta Air Lines, 10% American Airlines, 10% Southwest Airlines, dan 9% United Airlines.

Seperti dilaporkan Reuters, komentar Buffett ini hanya beberapa jam setelah Berkshire Hathaway mengumumkan rekor kerugian US$50 miliar pada kuartal pertama 2020. Perusahaan ini, memulai investasi di industri airlines pada 2016, setelah bertahun-tahun menghindarinya.

Saya mengenang salah satu ucapan Buffett jauh sebelum pandemi Covid-19, bahwa investasi sektor aviasi sama saja dengan menggali liang lahat, merujuk pada risiko operasi yang sangat besar, serta margin usaha yang sangat tipis, kurang dari 5%.

Artinya, industri aviasi memang tidak menjanjikan, kendati sangat dibutuhkan dalam mempercepat mobilitas manusia. Namun, sebagaimana manusia biasa, Buffett tak luput dari kesalahan yang kemudian diperparah oleh pandemi global sejak awal tahun dan nyaris menghentikan begitu banyak perjalanan udara.

Maskapai penerbangan rontok dalam beberapa bulan terakhir makin sering kita dengar. Bagaimana tidak terluka keuangan perusahaan bila 90% penumpang sirna? Ini pula kini yang menimpa flag carrier kita, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, seperti disampaikan oleh Dirut Irfan Setiaputra.

Pekan lalu, bersama Direktur Teknik Garuda Rahmat Hanafi, Irfan berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia, bercerita betapa perusahaan yang baru setengah tahun dipimpinnya berjibaku mengadapi penurunan revenue, ketika biaya tetap seperti sewa pesawat dan bunga utang sulit ditekan.

“Semua orang kerja dari rumah. Impact-nya dahsyat! Bila ada airline yang survived dalam kondisi sekarang, itu bohong,” keluh Irfan sambil mengatakan situasi bisa dipulihkan jika semua orang mau kembali bepergian menggunakan pesawat.

Garuda, saat ini mengoperasikan 144 pesawat berbagai tipe, dan baru 40 pesawat saja yang bisa terbang pada Juli, setelah bulan sebelumnya hanya 23 pesawat. Rute Jakarta—Bali yang biasanya ada 16 penerbangan sehari, kini hanya bisa dibuka satu penerbangan saja.

Irfan, diangkat menjadi dirut seperti berada pada situasi dan waktu yang salah. Namun, dia sudah mengambil tanggung jawab itu, setelah manajemen Garuda sebelumnya yang penuh dengan skandal diganti.

Hasilnya, Semester pertama 2020, emiten Bursa Efek Indonesia dengan kode GIAA merugi US$712 juta, setelah periode yang sama tahun sebelumnya mengantongi laba bersih US$24 juta. Apakah sayap Garuda kemudian berhenti?

Irfan menjawab tidak. Sebagai flag carrier, dia menyebut Garuda harus melindungi warga negara, memastikan mereka pulang dari berbagai penjuru dunia ketika pandemi. Sebagai contoh, Garuda pernah terbang ke Bangkok kosong dan kembali ke Jakarta hanya membawa puluhan penumpang.

Langkah Irfan untuk menjaga rute internasional ini jelas bukan pilihan mudah, kendati tak logis secara bisnis. Apalagi, maskapai penerbangan internasional lain memilih menutup rute dan memarkir pesawat untuk menekan biaya dan mencegah kerugian lebih besar.

Namun, sebagai CEO dia memang harus memutuskan. Rugi besar pada semester pertama tahun ini adalah ujungnya. Keuangan Garuda makin sulit, upaya mendapatkan dana talangan dari pemerintah sebesar Rp8,5 triliun menjadi upaya pamungkas dan belum cair juga hingga sekarang.

Dengan tipisnya permintaan, Irfan menempuh semua cara untuk mendongkrak pendapatan, dari optimalisasi penerbangan berjadwal, layanan kargo udara hingga penerbangan carter. Selain itu, negosiasi biaya sewa pesawat dilakukan, restrukturisasi utang, hingga implementasi efisiensi di seluruh lini operasional, termasuk menawarkan pensiun dini sukarela untuk 400 karyawan.

***

Tekanan bisnis dahsyat dalam situasi pandemi sekarang dialami hampir seluruh korporasi, tentu saja dalam skala berbeda tergantung bidang bisnisnya. Sektor transportasi dan pendukungnya, adalah bisnis dengan tantangan saat ini, mungkin terbesar sepanjang sejarah.

Seorang bankir senior bercerita, pada zaman normal, ada dua perusahaan yang begitu likuid sehingga sulit sekali didekati bank diberi kredit. Keduanya adalah PT Angkasa Pura 2 (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Akhirnya bank hanya bisa memberikan fasilitas pinjaman siaga bila sewaktu waktu memerlukan likuiditas, itupun kebanyakan nganggur dan menjadi undisbursed loan–kredit yang sudah disetujui tetapi belum dicairkan. Namun, pandemi telah memutar keadaan 180 derajat, betapa dana siaga itu begitu berguna.

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo adalah sosok lain yang mungkin mengalami tekanan sehebat Irfan. Bankir jebolan Bank Mandiri tersebut terpilih memimpin KAI pada 8 Mei 2020, hanya 3 minggu setelah pembatasan sosial berskala besar berlaku pada pertengahan Maret.

Sudah pasti penyebabnya adalah jumlah penumpang yang menurun drastis, dan ujungnya pendapatan dari penumpang terkoreksi. Hasilnya, dalam 6 bulan pertama tahun ini, PT KAI merugi Rp1,35 triliun dari periode sebelumnya laba Rp1,21 triliun.

Pendapatan perusahaan kereta ini pada periode tersebut turut drastis menjad Rp7,27 triliun, dari sebelumnya Rp10,7 triliun. Didiek menyebut, perusahaan yang dipimpinnya mengandalkan angkutan barang untuk bertahan, tetapi itu belum cukup menutup beban pokok pendapatan, beban usaha dan bebab keuangan.

Itulah mengapa dalam situasi darurat ini, PT KAI tengah berupaya mendapatkan dana talangan Rp3,5 triliun dari pemerintah untuk menjaga operasional perusahaan yang memonopoli bisnis angkutan kereta api tersebut. Kita belum tahu, bagaimana akhir prahara corona ini.

Menoleh ke korporasi swasta, mari mengamati Grup Astra. Pada 16 Juni 2020, PT Astra Internasional Tbk. mengangkat Djony Bunarto Tjondro menjadi Presiden Direktur menggantikan Prijono Sugiharto yang menjabat sejak 1 Maret 2010.

Djony, yang sudah lama disiapkan menjadi suksesor Prijono, datang dalam situasi susah. Dia sangat realistis, saat dalam sebuah kesempatan konferensi virtual, mengatakan ‘Astra tidak imun dengan krisis’.

Menurutnya, otomotif adalah sektor yang paling rentan, turun cukup dalam. Ini sangat masuk akal, mengingat dalam situasi normal Astra bisa menjual 45.000 unit mobil perbulan ketika puncak pembatasan sosial pada Mei hanya mampu melego 3.000 unit saja. Penjualan kemudian meningkat dalam bulan berikutnya, tapi tentu masih jauh dari level normal.

Krisis kali ini, menurut Djony, akan membawa bisnis Astra mundur sepuluh tahun, atau paling tidak delapan tahun. “Apapun, kendati sudah banyak melakukan diversifikasi usaha otomotif—yang sedang terpuruk—adalah mutiara Astra.”

Djony menekankan tim Astra di tengah kesulitan agar melakukan pengetatan biaya, melihat kembali belanja modal untuk menjaga cadangan kas. Pada saat yang sama, dia juga tak ingin timnya terlena dan tetap yakin dengan perekonomian ke depan.

Krisis, semestinya tidak merusak mindset jangka panjang termasuk jika ada peluang melakukan investasi, meskipun dalam jangka pendek efisiensi mesti dilakukan. Astra yang kini mememiliki lebih dari 200 perusahaan, sebagian besar juga terkena imbas krisis, tetapi tetapi ada juga yang jadi penyeimbang.

Hasilnya, hingga 6 bulan pertama tahun ini laba bersih Astra tercatat Rp11,4 triliun, tumbuh 16% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini tertolong oleh ‘faktor penyeimbang’ yang sempat disebut Djony, yakni hasil keuntungan penjualan saham PT Bank Permata Tbk.

Selebihnya, tentu saja kita akan melihat bagaimana Djony membawa perahu besar Astra untuk bertahan. Pun, ketika kinerja bisnis mundur ke satu dekade, penting untuk menjaga bisnis tetap berjalan.

Dalam situasi krisis, kapasitas pemimpin sebenarnya diuji. Pusaran krisis ini adalah medium paling sempurna untuk melihat apakah para CEO yang dipilih bisa membawa korporasi melalui situasi sulit dalam mode survival.

Sebagaimana nasihat Jack Ma, pendiri Alibaba, 2020 hanya tentang tahun untuk bertahan hidup. Jangan pernah bicara mimpi dan rencana, pastikan saja Anda tetap hidup, dan akhirnya bisa meraih keuntungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : News Editor
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top