Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasangan Miliarder Sederhana Sosok Dibalik Vaksin Corona Pfizer

Pasangan Ugur Sahin dan Özlem Türeci telah menjadi miliader, karena menciptakan vaksin virus corona (Covid-19) Pfizer.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 November 2020  |  13:04 WIB
CEO BioNTech, Ugur Sahin, mendirikan firma bersama istrinya, zlem Treci, yang merupakan kepala petugas medis
CEO BioNTech, Ugur Sahin, mendirikan firma bersama istrinya, zlem Treci, yang merupakan kepala petugas medis

Bisnis.com, JAKARTA - Pfizer telah membuat sejarah dengan hasil uji coba vaksin virus corona yang sudah memasuki tahap terakhir.

Vaksin yang dikembangkan dengan mitra Jerman BioNTech ini memiliki kemanjuran lebih dari 90 persen, per data uji klinis awal.

Ini adalah vaksin tercepat yang pernah dikembangkan, dan kemanjurannya jauh lebih tinggi daripada yang diharapkan oleh 70 persen atau 80 persen ahli virologi. Itu kabar baik untuk masa depan pandemi - dan untuk pasangan miliarder asal Jerman di balik kesuksesan vaksin ini.

Dilansir melalui Insider, CEO BioNTech, Ugur Sahin, mendirikan firma tersebut bersama istrinya, Özlem Türeci, yang merupakan kepala petugas medis.

Pasangan itu melewati ambang batas miliarder pada bulan Juni, karena saham BioNTech melonjak setelah pakta kerja sama dengan Pfizer diumumkan. Lonjakan saham lain terjadi setelah data uji coba awal mengungkit kekayaan bersama mereka meningkat menjadi hampir US$4 miliar.

"Ini bisa menjadi awal dari akhir era Covid-19," kata Sahin kepada New York Times, seperti dikutip Kamis (12/11/2020).

Kedua pasangan ini bertemu secara tidak sengaja. Menurut The New York Times, Sahin bermigrasi ke Jerman dari Turki ketika dia berusia 4 tahun dan Türeci lahir di Jerman.

Sahin berasal dari Iskenderun, sebuah kota dekat perbatasan Suriah, sedangkan ayah Türeci berasal dari Istanbul. Türeci menggambarkan dirinya sebagai "Turki Prusia," menurut Guardian, mengutip kekagumannya pada aspek budaya Jerman.

Mereka datang ke dunia kedokteran melalui rute yang berbeda: Sahin, anak seorang pekerja pabrik mobil, diperkenalkan kepadanya dari buku sains. Sedangkan ayah Türeci adalah seorang ahli bedah, dan dia tumbuh menyaksikan ayahnya mengoperasi pasien.

Pasangan itu bertemu saat bekerja di rumah sakit universitas di barat daya Jerman. Sahin juga pernah bekerja di rumah sakit di Cologne.

Dia mendapatkan gelar MD dari University of Cologne pada 1990. Türeci mendapatkan gelar MD dari Fakultas Kedokteran Universitas Saarland.

Duo ini mendirikan perusahaan farmasi pertama mereka pada 2001, Ganymed Pharmaceuticals, dengan dukungan dari miliarder - dan kembar identik - Thomas dan Andreas Strüngmann.

Perusahaan yang berfokus pada peran antibodi dalam mengobati kanker ini kemudian diakuisisi oleh Astellas Pharma dengan nilai sekitar US$1,4 miliar pada 2016.

Mereka menikah tahun berikutnya. Menurut Times, keduanya datang ke laboratorium saat pagi hari di pernikahan mereka pada 2002, pergi untuk melakukan upacara, dan kemudian kembali bekerja pada hari itu juga.

Mereka kemudian menjadi salah satu pendiri BioNTech pada tahun 2008, dengan Sahin sebagai CEO.

Türeci mengatakan pada 2017 bahwa ketika Sahin mengambil peran sebagai CEO BioNTech pada 2008; dia tetap menjabat sebagai CEO Ganymed. Sebelum akuisisi Ganymed, dia juga bekerja sebagai penasihat ilmiah untuk BioNTech.

BioNTech, yang mulai menggunakan imunoterapi dalam vaksin kanker, juga didukung oleh si kembar Strüngmann. Türeci menjadi kepala petugas medisnya pada 2018.

CEO BioNTech, Ugur Sahin dan tureci pencipta vaksin corona

Menurut Times, Sahin membaca artikel dari The Lancet pada bulan Januari tentang wabah di Wuhan. Dia melihat potensi bahaya dan, menurut Reuters, melihat bagaimana kerja BioNTech pada mRNA dapat diterapkan untuk vaksin.

Saat itulah perusahaan yang memiliki 500 staf mulai mengerjakan senyawa potensial untuk "Project Lightspeed."

Seperti yang dilaporkan Andrew Dunn dari Business Insider, BioNTech telah mengerjakan vaksin flu potensial dengan Pfizer pada 2018. Saat Sahin mulai fokus pada penelitian virus corona, dia menelepon Kathrin Jansen, kepala penelitian vaksin Pfizer, pada Februari.

BioNTech bermitra dengan Pfizer pada bulan Maret, dan memulai penelitian vaksin pada manusia pada akhir April.

Pada bulan September, media mingguan Jerman Welt am Sonntag mencantumkan duo itu sebagai salah satu dari 100 orang Jerman terkaya - mereka berada di urutan ke-85.

Nilai perusahaan BioNTech mencapai US$25 miliar pekan lalu. Setahun yang lalu, jumlahnya sedikit di bawah US$3,4 miliar.

Sahin dikenal dengan pribadinya yang rendah hati dan kabarnya dia jarang sekali memeriksa harga saham perusahaan. Dia kerap bersepeda ke tempat kerja, kabarnya sering membawa helm dan ransel.

Hingga kini dia tetap mengajar di Pusat Medis Universitas Mainz; dia mulai mengajar di sana pada tahun 2014. Dan, di samping tugas BioNTech-nya, Türeci adalah presiden untuk Association for Cancer Immunotherapy.

Sementara nilai saham BioNTech melonjak, dan distribusi serta produksi vaksin meningkat, investor mengatakan kepada Times bahwa pasangan itu fokus pada kemajuan medis - bukan uangnya.

The New York Times melaporkan bahwa, setelah mendapatkan hasil ujicoba yang diinginkan, pasangan itu merayakannya dengan menyeduh teh Turki.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Vaksin pfizer tokoh bisnis Vaksin Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top