Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Miliarder Pendatang Baru, Sheldon Lavin, Pemasok Daging McDonald's yang Tertutup

Daging dibekukan dengan cepat dan kemudian dikirim, siap untuk dipanaskan kembali dan diberi acar, saus khusus, dan roti burger.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 09 Desember 2020  |  11:25 WIB
Sheldon Lavin
Sheldon Lavin

Bisnis.com, JAKARTA - Dari Chicago hingga China, setiap hari jutaan daging patti Big Mac dan McChicken meluncur dari ban berjalan di lusinan pabrik milik produsen kontrak OSI.

Daging dibekukan dengan cepat dan kemudian dikirim, siap untuk dipanaskan kembali dan diberi acar, saus khusus, dan roti burger.

Meskipun hanya sedikit yang mengetahuinya, OSI, salah satu perusahaan swasta terbesar di Amerika Serikat, adalah salah satu pemasok daging terbesar dan tertua untuk McDonald.

Perusahaan yang berbasis di Aurora, Illinois ini diam-diam telah memproduksi rantai pasokan ikonik selama lebih dari setengah abad dan sekarang distribusinya tersebar di lebih dari selusin negara.

Dilansir melalui Forbes, OSI dikendalikan oleh miliarder Sheldon Lavin yang bekerja dalam diam. Executive chairman berusia 88 tahun ini merupakan pemilik dari sebagian besar bisnis OSI senilai US$6,3 miliar (dari perkiraan penjualan 2019).

Dengan kekayaan pada kisaran US$3 miliar, Lavin yang memulai debutnya di daftar miliarder The Forbes 400 tahun ini merupakan individu yang sangat jarang tampil di hadapan pers.

Lavin, konsultan keuangan yang berubah menjadi maestro makanan siap saji ini, bergabung dengan raksasa pemrosesan daging OSI Group, yang dulu bernama Otto & Sons, pada tahun 1970 ketika dia membantu mengatur pembiayaan untuk pabrik pengolahan daging milik perusahaan di Chicago.

Selama bertahun-tahun, dia menjadi pemilik mayoritas OSI, membantu perusahaan berkembang ke 17 negara.

OSI merupakan pemasok daging sapi pertama ke McDonald's sejak tahun 1955 dan tetap menjadi salah satu pemasok utamanya. Pada 2019, perusahaan menandatangani kemitraan dengan Impossible Foods untuk membuat protein nabati.

Lavin-lah yang mendorong OSI untuk mengikuti McDonald's ke pasar luar negeri. Dimulai dengan pabrik di Jerman dan Spanyol, diikuti oleh Amerika Latin dan kemudian Eropa Timur saat Tirai Besi jatuh.

Dia mencoba memprediksi ke mana rantai pasokan ini akan pergi selanjutnya dan terus menjelajah ke seluruh dunia untuk bertemu dengan pengemas daging lokal untuk mengukur prospeknya.

“Setiap kali McDonald's pergi ke negara baru, mereka menghubungkan 'lokomotif' mereka dan menarik rantai pasokan mereka,” kata Lavin pada Harvard Business Review pada 2001.

“Kami mencoba mengikuti McDonald's dan mendapatkan semua pasokan yang kami bisa. Kami menggunakan istilah 'McDonaldized' karena kami memahami tujuan McDonald's, mengetahui sistem dan apa yang dibutuhkan perusahaan, serta mengetahui cara menghadapinya," tambahnya.

OSI mulai menambah pelanggan baru sekitar tahun 1992. Dalam 8 tahun, 15% dari penjualannya, atau US$650 juta, berasal dari KFC dan Pizza Hut, serta perusahaan makanan kemasan seperti ConAgra, Tesco dan Nestlé.

“Memperluas dan mendiversifikasi bisnis mungkin adalah satu-satunya bagian yang paling menarik,” kata Lavin pada 2013.

“Saya bangga dengan fakta bahwa kami telah mengelilingi dunia dan bahwa kami telah membawa budaya OSI ke luar negeri, sementara itu, terus berkembang secara substansial bisnis McDonald's kami di manapun kami berada," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging sapi McDonalds tokoh bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top