Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hati-hati, Ini Cara Menghindari Malapetaka Influencer Marketing

Banyak pemasaran baru di bidang Influencer Marketing tidak menyadari ada banyak penipuan merajalela.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  15:28 WIB
Influencer marketing semakin marak dan sering digunakan perusahaan untuk menarik minat konsumen - CC0
Influencer marketing semakin marak dan sering digunakan perusahaan untuk menarik minat konsumen - CC0

Perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan dalam Influencer Marketing sangat tipis.

Bisnis.com, JAKARTA -- Influencer Marketing biasanya berjalan dengan salah satu dari dua cara, menghasilkan kesuksesan yang gemilang dengan return mengejutkan atau justru berakhir dengan kegagalan epik di mana perusahaan membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk pulih.

Dilansir melalui Entrepreneur, sebuah survei pada 2019 melaporkan bahwa sekitar 17% perusahaan yang disurvei berencana menghabiskan 50% dari anggaran pemasaran mereka untuk influencer pada 2020.

Influencer Marketing nyatanya membawa ROI positif dan 90% pemilik bisnis menganggap hasil dari metode pemasaran ini lebih baik daripada atau sebanding dengan sebagian besar saluran pemasaran lainnya.

Namun, masalah akan muncul ketika Influencer Marketing dengan keliru.

Fakta bahwa sistem pemasaran ini bergantung pada sifat viral dari konten media sosial, berarti bahwa pekerjaan yang buruk dapat dengan sangat mudah membunuh citra sebuah brand.

Kiat di bawah ini dimaksudkan untuk memandu pemilik bisnis dan marketer untuk melakukan Influencer Marketing dengan tepat.

1. Buat garis besar tujuan iklan Anda

Sasaran iklan atau campaign adalah pedoman yang dapat Anda buat saat memilih untuk berinvestasi di Influencer Marketing.

Targetnya mungkin mendapatkan brand awareness, followers di media sosial, konten, penjualan atau unduhan aplikasi, atau pelanggan yang berlangganan buletin dan email.

Jika target Anda misalnya kreasi konten, akan jauh lebih bermanfaat untuk mencari influencer dengan produksi konten yang bagus; memiliki keterampilan desain atau keterampilan fotografi. Alasannya sederhana; orang akan menilai konten Anda berdasarkan konten yang diposting secara teratur di platform tempat diiklankan.

Jika target Anda adalah brand awareness, jangkauan atau reach menjadi metrik yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Namun, cara Anda mendefinisikan dan mengidentifikasi jangkauan yang relevan adalah hal berbeda, dengan memilih influencer yang tepat.

2. Pilih influencer yang tepat

Iklan Pepsi yang melibatkan Kendall Jenner pada tahun 2017 adalah kegagalan epik dan menyoroti beberapa kesalahan yang dilakukan tim marketing perusahaan. Iklan tersebut mencoba mempromosikan keberagaman dengan menampilkan Pepsi sebagai simbol keberagaman dan memberikan dukungan untuk gerakan BLM.

Pilihan mereka atas Kendall, seorang wanita kulit putih sebagai 'pahlawan' paada iklan mereka membuat marah banyak orang dan menyebabkan Pepsi mencabut iklan tersebut dengan permintaan maaf.

Metrik utama yang harus Anda pertimbangkan saat memilih Influencer adalah Jangkauan, Tingkat Engagement, Relevansi, Keaslian, Kualitas Konten, Frekuensi Konten, Keandalan, Kualitas Audiens, dan Nilai Influencer.

Jangkauan berbicara tentang ukuran audiens yang dimiliki influencer dalam hal pengikut mereka, tetapi kekuatan jangkauan influencer ditentukan oleh tingkat engagement mereka.

Influencer ideal adalah tokoh yang dianggap sebagai ahli di ceruk yang relevan, yang telah membangun kepercayaan dan loyalitas di antara para penggemar dan pengikut di media sosial, serta figur yang menjaga engagement dengan pengikut mereka.

3. Hindari penipuan influencer

Banyak pemasar baru di bidang Influencer Marketing tidak menyadari ada banyak penipuan merajalela.

Menghindari situasi seperti ini adalah kunci sukses di era ini. Salah satu cara terbaik untuk menghindari penipuan influencer adalah mencoba mencari tahu sumber engagement.

Jika Influencer memiliki sangat sedikit konten yang diposting dibandingkan dengan angka followers mereka atau jika tingkat engagement followers sangat rendah, ini merupakan tanda peringatan.

4. Buatlah penawaran yang realistis

Pada tahun 2018, brand pakaian Sunny Co. memulai kampanye pemasaran di Instagram untuk mempromosikan edisi baju renang bertema Baywatch, The Pamela.

Tawaran promosi mereka menjanjikan pakaian renang untuk semua orang yang memposting ulang konten dan menandainya dengan handle media sosial resmi mereka dalam 24 jam pertama. Tidak disangka iklan tersebut menjadi viral dengan lebih dari 30.000 orang berpartisipasi dalam beberapa jam.

Sunny Co. tidak dapat memenuhi tawaran yang mereka ajukan dan pada akhirnya dicabut, menyatakan bahwa mereka berhak untuk membatasi tawaran tersebut. Hal ini menyebabkan malapetaka pemasaran untuk brand, karena pelanggan mengamuk di internet adalah mimpi buruk untuk perusahaan manapun.

Meskipun ini bukan bentuk Influencer Marketing, banyak brand diketahui masih melakukan penawaran melalui Influencer.

Menghindari peristiwa seperti ini wajib dilakukan karena dapat merusak brand dan merusak kepercayaan pelanggan di masa mendatang. Lebih aman menepati janji yang bisa Anda penuhi.

Influencer Marketing mungkin merupakan model baru, tetapi hal itu tidak boleh dianggap remeh. Konsep ini harus diuji, diteliti, dan dievaluasi sebelum brand atau perusahaan apa pun terlibat di dalamnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

marketing online tips bisnis Influencer
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top