Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

5 Pengusaha Ini Merebut Kembali Saham Perusahaannya

Menjual perusahaan seringkali merupakan keputusan terbesar yang pernah dibuat oleh seorang pendiri, dan seringkali juga yang tersulit.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  21:03 WIB
Produk Zico Coconut Water. -
Produk Zico Coconut Water. -

Bisnis.com, JAKARTA -- Banyak pendiri perusahaan bermimpi untuk menjual sebagian besar saham di bisnis mereka ke organisasi yang dilengkapi dengan modal dan sumber daya yang cukup.

Entah itu melibatkan pembeli korporat strategis atau firma ekuitas swasta, akuisisi ini dapat membantu skala perusahaan dan dapat berdampak bagus untuk neraca dan likuiditas perusahaan. Namun, menjual bisnis Anda sering kali berarti Anda kehilangan setidaknya sebagian kendali atas bisnis tersebut.

Banyak pendiri perusahaan menemukan bahwa mereka tidak setuju dengan arahan pemegang saham mayoritas dalam mengambil perusahaan mereka.

Entah itu masalah nilai kewirausahaan yang berbeda dengan pembelinya, atau keyakinan bahwa perusahaan tidak mendapatkan perhatian yang layak, ketidakbahagiaan mereka mungkin cukup untuk meyakinkan pemilik asli untuk membeli kembali sebagian besar saham perusahaan mereka.

Seperti dilansir melalui Entrepreneur, berikut beberapa pendiri perusahaan yang memutuskan untuk membeli kembali saham yang dijual dan pelajaran yang mereka dapatkan dari aksi korporasi tersebut.

1. Zico Coconut Water: Lebih besar bukan berarti lebih baik.

Mark Rampolla, pendiri Zico, menjual merek Zico Coconut Water ke Coca-Cola pada tahun 2013. Saat itu dia kemungkinan tidak membayangkan dirinya akan membelinya kembali enam tahun kemudian.

Setelah sembilan tahun yang berat menjalankan bisnis dan persaingan sengit dengan merek pesaing Vita Coco, menyerahkan kendali tampak seperti jalan yang tepat menuju profitabilitas.

Namun, Coca-Cola mengalihkan fokusnya ke merek "top" dengan jangkauan yang lebih global, hal itu menandakan waktu yang tepat untuk buyback.

Di antara banyak hal, Rampolla belajar bahwa dilusi yang didapat dari bergabung dengan perusahaan besar bisa berbahaya, terutama jika Anda benar-benar peduli dengan masa depan perusahaan yang Anda dirikan.

2. Charles Schwab Corporation: Inovasi mengalahkan birokrasi.

Charles Schwab & Co didirikan pada tahun 1971 dengan prinsip individualitas dan pendekatan yang tidak konvensional dalam dunia investasi.

Perusahaan berkembang begitu cepat sehingga tidak ada cukup dana untuk mengimbangi. Charles Schwab menjual mayoritas saham perusahaan pada tahun 1983 untuk 57 juta saham Bank of America (BoA).

Schwab terus berkembang, tapi Bank of America tidak berhasil sebaik itu.

Harga saham Schwab di BoA mulai terdepresiasi. Tiga tahun kemudian, Schwab berhutang untuk membeli kembali perusahaannya dan menyesuaikannya agar kembali sejalan dengan pendiriannya.

3. Chipotle: Tetap teguh pada visi bisnis

Ketika McDonald's berinvestasi sebesar US$50 juta di Chipotle pada akhir 90-an, jaringan restoran yang saat itu terdiri dari 14 restoran tumbuh secara eksponensial.

Bagi CEO dan pendiri Chipotle, Steve Ells, ini adalah kemenangan besar. Dia tiba-tiba mendapatkan uang, akses rantai pasokan, dan arahan bisnis dari salah satu usaha restoran paling sukses sepanjang masa.

Kurang dari satu dekade dan 500 restoran kemudian, McDonald's menjadi pemegang saham mayoritas, memiliki sekitar 90% perusahaan.

McDonald's menawarkan banyak ide yang diabaikan Chipotle. Dari waralaba hingga menu sarapan, dengan target membuat Chipotle menyerupai McDonald's.

Chipotle akhirnya membeli kembali sahamnya yang beredar serta mendapatkan kembali saham mayoritasnya (dan visinya) dari McDonalds.

4. Clark's Botanicals: Pelanggan yang utama

Dalam membuat keputusan untuk menjual 100 persen perusahaannya ke Warburg Pincus, Francesco Clark memahami bahwa dia harus menghilangkan egonya untuk ekspansi bisnis ke tingkat berikutnya.

Ironisnya, ego pula yang memotivasi buyback perusahaannya hanya beberapa tahun kemudian.

Kegembiraan yang datang dari penjualan tiba-tiba menguap ketika firma tersebut memberi tahu Clark bahwa mereka sedang dipaksa melakukan reorganisasi. Clark segera tahu dia harus merebut kembali kendali.

Pelanggan percaya pada produk Clark dan perusahaan tumbuh dapat secara organik. Clark tahu bisnis akan mempertahankan nilainya di bawah kepemimpinan yang tepat.

5. Cirque du Soleil: Uang itu penting… tapi bukan segalanya

Pendiri dan mantan CEO Cirque du Soleil Guy Laliberté memang belum membeli kembali perusahaannya dari pemegang saham mayoritas (termasuk perusahaan ekuitas swasta) yang dia jual pada tahun 2015.

Ketika sirkus membatalkan semua pertunjukannya dan memecat hampir semua karyawannya di tengah tekanan pandemi Covid-19, tampaknya perusahaan sirkus ini bergerak menuju keruntuhan.

Mengingat keadaan yang sama, pendiri lain dengan keterikatan pada bisnis mereka mungkin tergoda untuk melakukan buyback sesegera mungkin.

Laliberté sedang dalam proses menyusun penawaran dengan bantuan beberapa mitra keuangan, tetapi dia membuat keputusan waktu dan pembiayaan berdasarkan prospek masa depan, bukan kesulitan yang ada saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi perusahaan tips bisnis
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top