Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perjalanan Bisnis Goldman Sachs, Bank Raksasa AS yang Dirintis Mantan Salesman

Bank Raksasa AS Goldman Sachs dirintis oleh mantan salesman, hingga kini menjadi bank raksasa AS.
Goldman Sachs./Bloomberg
Goldman Sachs./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Goldman Sachs Group kini menjadi perbincangan. Usai, perusahaan investasi dan perbankan global tersebut melaporkan akan PHK lebih dari 3.000 karyawan, Kebijakan PHK bakal dijalankan mulai Rabu (11/1/2023).

Melansir dari Your Story, Senin (9/1/2023) PHK ini diprediksi akan berdampak pada sebagian besar divisi utama bank, salah satunya divisi perbankan investasi Goldman Sachs. Bank investasi ini mengalami terjun bebas dalam kesepakatan korporasi akibat dari pasar keuangan global.

Perusahaan ini terbagi menjadi dua divisi utama, pertama adalah Global Capital Markets dan yang kedua adalah Asset Management and Securities Services. Sebagai perusahaan yang menangani berbagai lembaga keuangan, pemerintah, dan individu kaya, tak heran jika perusahaan ini mengoperasikan lebih dari 40 kantor di seluruh dunia.

Lantas, sebenarnya seperti apa profil bisnis dari Goldman Sachs Group yang menjadi salah satu perusahaan perbankan investasi dengan pendapatan terbesar di dunia? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya. 

Profil Marcus Goldman

 

Melansir dari Reference for Business, perusahaan ini didirikan oleh Marcus Goldman, seorang guru sekolah Bavaria yang berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1848.

Setelah menghidupi dirinya sendiri selama beberapa tahun sebagai salesman di New Jersey, Goldman akhirnya pindah ke Philadelphia, di mana dia mengoperasikan toko pakaian kecil. 

Berdasarkan Goldman Sachs, setelah Perang Saudara, pada tahun 1869 Marcus pun pindah ke New York City, di mana dia mulai berdagang surat promes dan dan membuka kantor bawah tanah satu kamar di sebelah saluran batu bara di Lower Manhattan.

Adapun, hal yang melatarbelakangi dirinya membuat bisnis itu, sebab periode itu kredit bank yang ketat dan mahal, akhirnya Marcus menawarkan alternatif kepada pedagang lokal. Dia membeli surat promes mereka dan kemudian menjual catatan tersebut ke bank komersial New York. 

Sebagai informasi, "surat promes" alias surat sanggup bayar adalah suatu kontrak yang berisikian janji secara terinci dari suatu pihak untuk membayarkan sejumlah uang kepada pihak lainnya. Alhasil, dengan jasa yang dirinya tawarkan, dia menjadi pelopor dalam bidang bsinsi tersebut. 

Perkembangan Bisnis Goldman Sachs

Menantu Marcus, Samuel Sachs memutuskan bergabung dengan bisnis tersebut pada tahun 1882. Perusahaan tersebut berkembang menjadi kemitraan umum pada tahun 1885 sebagai Goldman, Sachs & Co. ketika putra Goldman Henry dan menantu Ludwig Dreyfus bergabung dengan grup.

Pada saat firma tersebut bergabung Bursa Efek New York pada tahun 1896, Goldman Sachs adalah pemimpin dalam penjualan kertas komersial. 

Seiring bertambahnya jumlah klien perusahaan, dia membuka kantor di Boston dan Chicago (1900), San Francisco (1918), dan Philadelphia dan St. Pada tahun 1897, Goldman Sachs pun menjalin hubungan dengan perusahaan keuangan di ibu kota besar Eropa, menyediakan berbagai layanan yang mencakup valuta asing, letter of credit, pengiriman emas, dan arbitrase. 

Selama seperempat abad berikutnya, Goldman Sachs berkembang menjadi salah satu bank investasi layanan lengkap terkemuka di Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinan mitra senior Sidney Weinberg, dikenal sebagai “Mr. Wall Street,” dirinya memang berkonsentrasi pada sisi pembiayaan bisnis. 

Perlu diketahui, bahwa Weinberg sendiri merupakan "orang luar" dalam bisnis keluarga Goldman. Dimulai pada tahun 1907 sebagai asisten porter dengan penghasilan US$2 per minggu, berkat ketekunan dan kecermatannya pada detail membuat Weinberg naik dengan cepat di Goldman, Sachs.

Sedangkan, Gus Levy yang bergabung dengan perusahaan pada tahun 1933 dan diangkat sebagai mitra pada tahun 1945, membangun kemampuan penjualan dan perdagangan ekuitas yang paling hebat di industri, memelopori praktik perdagangan blok di dunia.

Secara singkat, dengan keberhasilan perusahaan Goldman Sachs yang mampu mengelola beberapa penawaran saham industri energi yang besar. Kemudian, dilanjutkan dengan Goldman Sachs melakukan diversifikasi pada akhir tahun 1981 dengan menyerap perusahaan perdagangan komoditas J. Aron & Company, yang berfokus pada industri logam mulia, kopi, dan valuta asing. 

Akuisisi perusahaan atas Aron akan memberikan pijakan yang kuat di pasar Amerika Selatan, area pertumbuhan selanjutnya bagi perusahaan. 

Pada bulan Mei 1982, di bawah kepemimpinan partner John Weinberg, anak dari mendiang Sidney Weinberg, firma tersebut mengambil alih bank pedagang yang berbasis di London, First Dallas, Ltd., yang kemudian berganti nama menjadi Goldman, Sachs, Ltd.

Meski, beberapa kali mengalami krisis, namun perusahaan ini mampu melakukan strategi berupa perluasan pasar perusahaan perbankan investasi di luar negeri hingga pada tahun 1998, perusahaan mulai mempermainkan ide untuk go public.

Pada awal Mei 1999, perusahaan terdaftar di Bursa Efek New York, mengumpulkan US$3,6 miliar atau setara dengan Rp56,1 triliun. Perusahaan menjual sekitar 69 juta saham, tepat di bawah 12,5 persen saham perusahaan. 

Perusahaan Mulai Mengintegrasikan Teknologi

Pada tahun 2014, Goldman Sachs meningkatkan fokus dan investasinya pada teknologi, meluncurkan platform terdepan seperti Marquee untuk memajukan perdagangan, keamanan data, manajemen data besar, dan kemampuan untuk menilai spektrum risiko yang luas. 

Pada tahun 2016, Marcus oleh Goldman Sachs diluncurkan, sebuah platform yang dirancang untuk membantu orang mengelola utang mereka dengan lebih baik dengan memberikan pinjaman pribadi tanpa biaya dengan suku bunga tetap. 

Pada 2017, perusahaan mengintegrasikan platform setoran online konsumen ke dalam Marcus. Hal ini menjadi  langkah signifikan pertama perusahaan ke pasar arus utama, di mana penemuan Marcus menjadi contoh banwa Goldman Sachs terus berupaya untuk tetap gesit dan meraih peluang baru.

Terakhir, pada tahun 2019, perusahaan membentuk Grup Keuangan Berkelanjutan untuk mendorong inovasi dan menangkap peluang baru dengan menyediakan klien dengan keahlian keberlanjutan yang komprehensif di bidang pembiayaan, penasehat, manajemen risiko, dan manajemen aset. 

Inisiatif keberlanjutan perusahaan mencakup target US$750 miliar atau setara dengan Rp11.688 triliun di sembilan bidang pembangunan berkelanjutan dalam transisi iklim dan pembiayaan pertumbuhan inklusif pada tahun 2030, memperdalam komitmen jangka panjang untuk upaya ini.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper