Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Historia Japan Airlines, Bantu Jepang Bangkit Pascaperang Dunia II

Historia Japan Airlines, mengudara sejak 1951, membantu Jepang bangkit pasca- Perang Dunia II
Pesawat Japan Airlines tengah parkir di Bandara Haneda, Jepang./Bloomberg
Pesawat Japan Airlines tengah parkir di Bandara Haneda, Jepang./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Jepang mengawali 2024 dengan sejumlah tantangan besar, mulai dari gempa besar dengan tsunami, dan terbakarnya salah satunya pesawat milik maskapai penerbangan Japan Airlines (JAL).

Japan Airlines terbakar di Bandara Haneda, Tokyo, Jepang, Selasa (2/1/2024) waktu setempat.

Pesawat tersebut dilalap api saat sedang mendarat pada landasan pacu Bandara Haneda setelah menabrak pesawat lain milik penjaga pantai dan laut atau Coast Guard.

Mengutip pemberitaan dari Bloomberg pada Selasa (2/1/2024), seorang juru bicara Japan Airlines menyebutkan, seluruh 367 penumpang, termasuk 8 balita serta 12 awak kabin pesawat tersebut telah berhasil dievakuasi dengan selamat.

Sementara 5 dari 6 awak pesawat Cost Guard yang tertabrak pesawat Japan Airlines masih hilang, sedangkan 1 orang lainnya lolos dan mengalami luka berat. 

Adapun, penerbangan bernomor JL516 itu disebutkan menggunakan pesawat jenis Airbus A350-900 yang dengan umur operasi 2 tahun.

Historia Japan Airlines

Mengutip laman resmi Japan Airlines, perusahaan maskapai penerbangan ini didirikan pada 1 Agustus 1951, ketika pemerintah Jepang menyadari perlunya sistem transportasi udara yang dapat diandalkan untuk membantu pertumbuhan Jepang setelah Perang Dunia II.  

Maskapai ini didirikan dengan modal awal 100 juta yen dan perusahannya berkantor pusat di Ginza, Chūō, Tokyo.  

Antara 27 dan 29 Agustus, maskapai ini mengoperasikan penerbangan undangan dengan Douglas DC-3 Kinsei, yang disewa dari Philippine Airlines. Selanjutnya, pada 25 Oktober, maskapai berkode JAL itu mulai melayani penerbangan domestik pertama Jepang pascaperang diresmikan, menggunakan pesawat Martin 2-0-2, bernama Mokusei, dan awaknya disewa dari TALOA, anak perusahaan Northwest Orient Airlines.

Pada 1 Agustus 1953, Pemerintah setempat meloloskan Undang-Undang Perusahaan Japan Airlines yang membentuk Japan Airlines milik negara baru pada 1 Oktober, yang mengambil alih seluruh aset dan liabilitas pendahulunya.  

Kemudian pada 1953, jaringan JAL meluas bagian Jepang lainnya, ke arah Utara dari Tokyo hingga Sapporo dan Misawa, dan ke arah Barat hingga Nagoya, Osaka, Iwakuni, dan Fukuoka.

Pada 2 Februari 1954, maskapai ini memulai penerbangan internasional, membawa 18 penumpang dari Tokyo ke San Francisco dengan pesawat Douglas DC-6B Kota Tokyo melalui Pulau Wake dan Honolulu.  

Terus berkembang, sepanjang tahun 1960-an, JAL terbang ke banyak kota baru, termasuk Moskow, New York, dan Busan hingga ke Eropa melalui Anchorage dimulai pada tahun 1961. 

Pada 1965, Japan Airlines berkantor pusat di Gedung Tokyo di Marunouchi, Chiyoda, Tokyo dan memulai perjalanan melalui rute transpasifik yang diperpanjang ke Timur dari San Francisco ke New York pada November 1966 dan ke London pada 1967. Namun, penerbangan antara San Francisco dan London berakhir pada bulan Desember 1972.

Selanjutnya, pada 1972, berdasarkan konstitusi penerbangan yang diberlakukan oleh pemerintah Jepang, JAL diberikan status maskapai penerbangan untuk mengoperasikan rute internasional. Maskapai ini juga ditunjuk untuk mengoperasikan rute utama domestik untuk bersaing dengan ANA dan Toa Domestic Airlines.

Kemudian pada 1975, JAL mendirikan anak perusahaan baru, Japan Asia Airways, tepatnya pada 8 Agustus 1975. Selama beroperasi pada 1970-an, maskapai ini membeli Boeing 747 dan McDonnell Douglas DC-10 untuk mengembangkan rutenya di Jepang dan negara lain.

Pada 1978, JAL melebarkan sayapnya lebih luas, memulai penerbangan ke São Paulo dan Rio de Janeiro melalui Anchorage dan San Juan. Hingga tahun 2009, maskapai ini mengoperasikan penerbangan kebebasan kelima antara New York dan São Paulo dan antara Vancouver dan Mexico City. 

Selanjutnya, pada 1980-an maskapai ini juga ditunjuk untuk melakukan penerbangan khusus untuk Putra Mahkota Akihito dan Putri Mahkota Michiko dari Jepang, Paus Yohanes Paulus II, dan perdana menteri Jepang, hingga diperkenalkannya pesawat khusus pemerintah yang menggunakan dua Boeing 747-400, yang dioperasikan sebagai Angkatan Udara Jepang.  

Sempat Hampir Bangkrut

Mengutip Reuters, di sela-sela kesuksesannya menjadi maskapai penerbangan dengan pendapatan terbesar se-Asia, pada 2009 Japan Airlines sempat menderita kerugian finansial yang besar. Namun, JAL masih tetap menjadi maskapai penerbangan terbesar di Asia berdasarkan pendapatan. 

Akibatnya, maskapai ini melakukan pengurangan staf dan pengurangan rute dalam upaya mengurangi biaya. Maskapai ini kemudian menerima 100 miliar yen melalui suntikan modal dan kredit dari pemerintah Jepang sebagai bagian dari usulan kebangkrutan.

Pada September 2009, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang membentuk satuan tugas yang bertujuan membantu perubahan haluan perusahaan di JAL, yang mengkaji berbagai proposal pemotongan biaya dan kemitraan strategis.

Salah satu proposal yang dipertimbangkan adalah menggabungkan JAL dengan ANA, yang akan menciptakan satu maskapai penerbangan internasional yang lebih besar dan menggantikan Japan Airlines International 

Namun, laporan media menyatakan bahwa proposal ini akan ditentang oleh ANA mengingat kinerja keuangannya yang relatif lebih baik sebagai maskapai penerbangan independen.

JAL kemudian mengajukan permohonan perlindungan berdasarkan Undang-Undang Rehabilitasi Perusahaan pada Januari 2010 dan menerima suntikan dana tunai sebesar 300 miliar yen dan memiliki utang senilai 730 miliar yen yang dihapuskan. 

Sebagai imbalannya perusahaan tersebut akan memotong modalnya hingga nol, memotong rute-rute yang tidak menguntungkan, dan mengurangi tenaga kerjanya sebanyak 15.700 karyawan, sepertiga dari total 47.000 karyawannya.

Saham JAL kemudian dihapuskan dari Bursa Efek Tokyo pada 20 Februari 2010, padahal sahamnya pernah dianggap sebagai salah satu "blue chips" paling biru di Jepang.

Pada saat itu, kebangkrutan tersebut merupakan kebangkrutan terbesar di Jepang yang melibatkan perusahaan non-keuangan dan terbesar keempat dalam sejarah Jepang.

Untuk memperbaiki masalah ini, Menteri Transportasi Jepang saat itu, Seiji Maehara secara pribadi menunjuk Kazuo Inamori, pendiri Kyocera dan KDDI, untuk menjadi CEO JAL dan mengatasi masalah pada perusahaan penerbangan itu. 

Pada Mei 2010, JAL mulai melihat peningkatan jumlah penumpang sebesar 1,1 persen tahun-ke-tahun dan pada bulan Agustus, dilaporkan bahwa JAL akan memangkas 19.133 pekerja dari total 47.000 tenaga kerja pada akhir Maret 2015, sekaligus meningkatkan kapasitas JAL agar menjadi bisnis yang layak dijalankan.

JAL keluar dari perlindungan kebangkrutan pada Maret 2011 dan memutuskan untuk kembali mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Tokyo pada 6 Januari 2012. 

Setelah keluar dari perlindungan kebangkrutan, JAL memulai beberapa kemitraan baru, termasuk membentuk Jetstar Japan, perusahaan patungan maskapai bertarif rendah dengan anak perusahaan Qantas, Jetstar Airways, pada Juli 2012.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper