Kamis, 24 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

KLINIK PRODIA: Inilah 3 Kunci Sukses Ekspansi

Reni Efita   -   Rabu, 08 Mei 2013, 12:26 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA—Laboratorium Klinik Prodia berkembang dari satu laboratoium sederhana yang dibangun di Solo pada 1973, dan kini telah berkembang dengan 110 cabang  di 96 kota. Apa kunci suksesnya? 

Dewi Muliaty Presiden Direktur PT Prodia Widyahusada (Laboratorium Klinik Prodia) mengatakan sedikitnya ada tiga kunci sukses Prodia, sehingga tidak saja mampu bertahan tetapi juga berkembang.

Pertama, komitmen tanpa henti terhadap love for quality demi memberikan layanan berkualitas. “Komitmen itulah yang membuat Prodia bertahan dan berkembang,” ujarnya pada puncak perayaan HUT ke-40 di Ballroom Hotel Mulia Senayan, Selasa malam (7/5/2013).

Kedua, dukungan para pelanggan, dan mitra seperti mulai dari institusi pemerintah, dokter, rumah sakit, klinik, laboratoirum klinik, perusahaan, hingga organisasi masyarakat.

Ketiga, tim kompak dan tangguh. Work well-learn well-play well merupakan nilai yang ditanamkan kepada karyawan dan dilaksanakan secara proporsional. Kebersamaan dan kerja sama tim dibangun melalui berbagai aktivitas, seperti hiburan bersama, jalan-jalan bersama, outbound, atau gathering.

“Dengan itu semua Prodia menjadi laboratoium klinik terbaik dan terbesar di Indonesia,”  kata Dewi. Prodia memiliki visi menjadi centre of excellence dan untuk mewujudkannya sejak 1986 menggandeng National Universitiy Hospital (NUH) Singapura dan Specialty Lab Amerika. (mfm)


Editor : Fatkhul Maskur

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.