Sabtu, 29 November 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

Bisnis Makanan Ringan, Modal Kecil Untung Berlipat

Dewi Andriani   -   Jum'at, 05 Juli 2013, 04:34 WIB

BERITA TERKAIT

Ryan Ardhi, seorang pemuda yang baru lulus kuliah, ingin terjun sebagai seorang entrepreneur, tetapi dia tidak memiliki modal yang besar serta masih meraba-raba konsep usaha yang akan dijalankan. Di tengah kebingungannya tersebut, Ryan diajak salah satu temannya untuk mengunjungi pameran waralaba di JCC Senayan, belum lama ini.

Di sana, dia menemukan berbagai macam kemitraan yang ditawarkan dengan modal terjangkau, konsep usahanya pun bervariasi mulai dari kentang spiral, jamur krispy, tela-tela, minuman bubble drink, kopi dengan campuran cincau, dan sebagainya.

Setelah pilah pilih usaha, akhirnya dia memutuskan untuk bermitra dengan salah satu pemilik minuman segar yang menawarkan keuntungan hampir 60% dengan investasi awal Rp6,5 juta. Dewasa ini, tawaran berbisnis melalui sistem kemitraan makin marak. Salah satu bisnis yang dilirik adalah makanan dan minuman ringan yang dijajakan dengan gerobak atau stan (booth).

Bisnis ini lebih banyak dibidik, apalagi untuk pelaku usaha pemula, karena selain modalnya yang terbilang cukup kecil, keuntungannya lebih besar. Untuk makanan, misalnya, keuntung an yang didapat sekitar 30%-60%. Bahkan untuk minuman, keuntungan yang diraup bisa mencapai lebih dari 50%. Padahal, modalnya cukup dengan Rp3 juta saja.

Annas Yanuar, pemilik BizNas Business Consultant mengatakan usaha yang menawarkan sistem kemitraan dengan modal kecil ini biasanya lebih banyak dilirik oleh entrepreneur muda yang ingin belajar mengembangkan usaha. “Bisa dikatakan tawaran bisnis ini menjadi sekolahnya entrepreneur pemula,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (4/7/2013).

Prospek inilah yang dilirik oleh para pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya melalui sistem kemitraan. Tidak sedikit pelaku usaha yang berhasil memperluas jaringan jumlah gerainya hingga ratusan unit setelah melebur dalam sistem kemitraan tersebut.

Arie Mone, Pemilik PT Usaha Anak Bangsa—perusahaan di bidang makanan dan minuman yang menawarkan sistem kemitraan—mengakui bahwa keputusannya untuk terjun menawarkan sistem kemitraan karena banyaknya permintaan dari ma syarakat yang ingin menjadi peng usaha, tetapi tidak memiliki konsep serta modal yang besar.

Sebelum menawarkan usahanya dengan sistem kemitraan pada 2007 silam, pria kelahiran Jakarta, 15 November 1985 ini, telah lebih dulu berjuang me ngembangkan bisnis yang dijalani nya. Kala itu, Arie menjajakan jajanan crepes di sekolah-sekolah dengan modal awal Rp4 juta.

Selain rasanya yang disukai oleh para siswa, tampilan gerobak yang eye catching, bersih, dan rapi tersebut membuat jajanannya laris manis. Dari omzet yang hanya Rp200.000 per hari, lama kelamaan meningkat menjadi Rp600.000 per hari.

Melihat respons yang sangat bagus tersebut, akhirnya pria peraih penghargaan Waralaba Terbaik 2012 ini memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mencemplungkan diri sebagai penjual jajanan sekolah. “Saya jenuh menjadi bangsawan . Modal saya waktu itu adalah 1 M, yakni Mau.”

Semakin lama usahanya pun semakin berkembang, sampai ketika gerainya sudah mencapai 10 unit, ada seseorang yang ingin menjalankan usaha tersebut dengan menggunakan merek D’Star Crepes.

Arie akhirnya memutuskan untuk membuka kemitraan dengan memperkuat standar operasional, manajemen, serta pengemasan bahan baku, dan perlengkapan lainnya sehingga menjadi sebuah sistem.

Setelah diformatkan menjadi sistem kemitraan, usahanya pun semakin berkembang pesat. Hingga kini, pria berusia 27 tahun tersebut telah memiliki 300 gerai dari sembilan produk kemitraan yang dia miliki mulai dari crepes, corn cup, jagung bakar kaca, mi ayam juragan, bakso solo mas edi, orange juice, bubble pink, coffee paste, dan es cendol 99 antigalau.

Poma Indra Jaya, pemilik Martabak Mini Africa Waka-Waka, juga mengembangkan sistem kemitraan. Cintar Tara, Manager Pengembangan Martabak Mini Afrika Waka-Waka, mengatakan sejak mulai menawarkan kemitraan pada 2011, jumlah gerai martabak mini tersebut telah mencapai sekitar 349 gerai.

Padahal, ketika masih dipegang sendiri, mereka hanya memiliki 1 gerai saja. Sampai akhirnya ditawarkan dengan sistem kemitraan dengan berbagai inovasi terutama pada topping martabak tersebut. Martabak Mini Afrika Waka-Waka menawarkan kemitraan sekitar Rp10
juta dengan asumsi penjualan 50 kotak per hari dengan harga Rp10.000 sehingga omzet per hari Rp500.000 atau Rp12,5 juta per bulan.

“Dengan modal kecil, balik modal cepat, dan keuntungan besar sehingga banyak orang yang tertarik menjadi mitra kami. Tampilan booth juga bagus dan menarik tidak monoton seperti gerobak lainnya.”

MASIH POTENSIAL

Utomo Njoto, Senior Franchise Consultant FT Consulting, mengatakan bisnis kemitraan dengan modal kecil ini sebetulnya masih potensial untuk dikembangkan, karena peminatnya masih tetap ada.

Untuk menggaet calon mitra, pelaku usaha harus bisa membuktikan bahwa bisnisnya menguntungkan. Selain itu, harus menyertakan buktibukti angka asumsi, target market, serta keuntungan yang bisa dicapai, “Ja ngan buru-buru jualan ke banyak pihak sebelum pembuktian diwujudkan,” terangnya.

Hal yang tidak kalah penting yang harus diperhatikan ialah menghitung kemampuan pasokan bahan baku. “Jangan terlalu banyak gerobak sehingga lepas tangan soal pasok an bahan baku.”


Editor : Fatkhul Maskur

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

 

POPULER