Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CIPUTRA WAY: Inilah Kisahku, Seorang Ciputra

Kisah Ciputra: Tokloh entrepreneur Indonesia ini bercerita tentang masa kanak-kanak hingga kini.
Ir. Ciputra
Ir. Ciputra - Bisnis.com 27 April 2015  |  13:31 WIB
Ir.Ciputra - Bisnis.com
Ir.Ciputra - Bisnis.com

Ibu saya pernah mempunyai 4 anak yang semuanya meninggal sebelum umur 3 bulan. Oleh sebab itu, ibu saya sangat khawatir jika melahirkan anak lagi. Kemudian, Ayah Tjie Siem Poe dan Ibu saya Lie Eng Nio berunding, sehingga telah diputuskan Ayah saya untuk menikah tidak resmi dengan wanita di kampung sampai kemudian mendapat anak diberi nama Tjie Tjin Lam. Sesudah Tjie Tjin Lam lahir bertumbuh dengan sehat, maka Ibu saya memberanikan diri untuk mengandung lagi untuk mendapatkan anak tetapi dengan syarat anak yang lahirkan tersebut harus dikwepang/ diserahkan kepada orang lain dan dipilih adalah tante saya, Soe Tjeng Sioe. 

Ibu saya mengandung kemudian melahirkan anak perempuan bernama Tjie Guat Beng, setelah anak itu lahir maka dipelihara/ diberikan kepada tante Soe Tjeng Sioe, dia yang sangat menyayangi kakak perempuan saya tersebut dan memelihara dengan baik. 

Sesudah itu, Ayah saya pindah dari Gorontalo ke desa Parigi Sulawesi Tengah membuka toko kelontong dan di sana lah kemudian Ibu saya melahirkan kakak lelaki saya Akochi dan 2 tahun kemudian setelah itu saya lahir tahun 1931. 

Pada waktu kakak saya usia 8 tahun dan saya 6 tahun, kami di bawa oleh Ibu kami ke Gorontalo dan dititipkan kepada tante saya yang memelihara kami untuk masuk sekolah dasar Belanda. Di situ saya bersekolah selama 2 tahun.Saya hanya suka berhitung, saya tidak suka menghafal bahasa Belanda. Dari kelas 1 saya bisa naik kelas 2, dari kelas 2 saya tidak bisa naik kelas 3, karena saya dapat angka jelek di raport tentang berbahasa Belanda. Saya dididik oleh tante, nenek dan kakek saya dengan keras sekali.Kalau salah kami di pukul, dikurung di gudang, bahkan pelayan kami pun pernah memukul saya karena dianggap bersalah tanpa ada perlindungan dari tante saya karena memang saya nakal dan berani melawan. 

Tinggal bersama tante, saya dididik keras, sangat berbekas pada saya dan merasa menderita.Namun sekarang saya merasa mungkin pendidikan yang keras mempunyai makna yang positif untuk daya tahan saya dan merupakan tantangan untuk semangat saya.Sesudah saya umur 8 tahun dan kakak saya 10 tahun, Jepang masuk menjajah Indonesia. Saya dan Kakak di bawa pindah ke Bumbulan dimana Ayah dan Ibu saya telah pindah ke Bumbulan dan mengurus toko kelontong milik kakek saya. 

Waktu zaman Jepang, saya dan kakak disekolahkan di sekolah Tiong Hoa di desa kami Bumbulan.Saya hanya bisa naik ke kelas 2 dan tidak dapat naik kelas tiga karena tidak mau belajar bahasa Tionghoa.Saya nakal sekali dan ingin hidup bebas.Saya hanya ingin bermain sepak bola, naik kuda dan sebagainya. Suatu hari saya bangun pukul 5 pagi, saya ambil kuda milik Ayah saya kemudian balap di tepi pantai di belakang rumah kami. Tetapi, 

saya sangat terkejut di atas kuda karena melihat Ayah saya sudah berdiri di depan pintu belakang rumah kami, ternyata Ayah saya sudah dibangunkan oleh pelayan, tahu bahwa saya telah balap kuda. Tentu saja Ayah marah sekali sama saya. Ayah saya selalu mengatakan saya seperti kain pel lantai dan kakak saya seperti kain serbet yang putih bersih.Padahal saya ke sekolah terus sehingga menjadi sarjana S1 dalam bidang arsitektur bahkan mendapat kehormatan gelar Doktor. 

Suatu hari Ayah saya meninjau renovasi gudang dan saya diajak ikut serta pada waktu itu saya berumur 11 tahun dan ketika ayah saya menyuruh membongkar sebuah balok di gudang tersebut, lalu saya mengatakan “Papa, kalau balok ini di bongkar maka semua gudang ini akan runtuh” karena di belakang balok tersebut ada tiang yang lain yang disanggah oleh balok tersebut yang ayah saya tidak melihatnya. Saat itu pertama kali Ayah saya kaget dan mereka kagum melihat dan mendengar perkataan saya. Saat kami menjemur kelapa, saya memberikan komentar juga sehingga Ayah saya senang sekali mendengar itu. Dari situlah, saya merasa mempunyai bakat untuk membangun. 

Khusus tentang penangkapan Ayah saya oleh polisi militer Jepang atau Kempeitai. Menurut ingatan saya. 

Ayah, Ibu dan saya pada tahun 1945 tinggal di desa Bumbulan Paguat. Pada waktu itu Jepang menduduki Indonesia. Hanya saya sendiri yang tinnggal di Bumbulan, karena 2 kakak saya yang lain yaitu Tjie Goat Beng dan Tjie Tjin Hok tinggal dan bersekolah di Gorontalo. 

Ayah dan Ibu saya mengurus toko kelontong dan saya pada waktu itu sudah berhenti bersekolah dari sekolah Tionghoa. Pada waktu Jepang menduduki Indonesia, pergantian dari pendudukan Belanda ke pendudukan Jepang penuh pergolakkan yang sangat luar biasa, termasuk di desa kecil kami di Bumbulan. Ayah dan ibu saya mendengar bahwa beberapa pemuka masyarakat di Gorontalo mereka 

tangkap dengan tuduhan mata-mata Belanda sebagai penghianat dan rumah mereka di geledah untuk mencari barang-barang berharga oleh Kempeitai ( polisi militer Jepang ) sehingga Ayah dan Ibu saya merasa gelisah, sebab kemungkinan mereka bisa melakukan hal yang sama di desa kami. 

Ibu dan Ayah saya terlihat pasrah apapun yang akan terjadi. Ibu saya menyimpan perhiasan yang sedikit di bawah lantai kamar tidur yang terbuat dari kulit pohon Nipah. Kemudian beberapa hari Kempeitai Jepang datang dengan perahu motor dari Manado tiba di Bumbulan dan mulai menggeledah dan menangkap yang dianggap pemuka masyarakat mungkin sekitar 7-10 orang. T ermasuk rumah kami, mereka menggeledah seluruh rumah kami dengan kasar, mereka membentak-bentak dan mengancam tetapi mereka tidak dapat perhiasan, hanya mengambil seluruh kain batik milik Ibu saya, dibawa ke kantor polisi bersama dengan Ayah saya. 

Ibu saya dan saya tinggal di rumah, Ibu saya berusaha menghubungi orang Jepang yang merupakan kepala/ perwakilan Jepang di desa kami tetapi saya penuh ketakutan jangan sampai Ibu saya ditangkap mereka dan saya menahan Ibu untuk tidak melapor. Sesudah semua tawanan dikumpulkan di kantor polisi, maka tiga hari kemudian, satu demi satu digiring ke perahu motor untuk dibawa ke Manado, termausk Ayah saya. Ayah saya digiring dari kantor polisi lewat depan rumah kami, memutar ke samping menuju ke perahu yang menunggu di belakang rumah kami. Pada waktu lewat di tepi rumah kami, kami sangat terkejut dan Ibu berusaha mengejar Ayah saya untuk dilepaskan oleh kampitai polisi militer Jepang dan saya menahan Ibu saya agar tidak ditangkap, sehingga kami tarik tarikan. 

Saya berusaha menarik Ibu dan Ibu menarik Ayah saya, tapi tentu tidak berhasil dan Ibu saya didorong oleh mereka. Dari perahu kecil Ayah saya dibawah cengkeraman yang ketat dari Kempeitai polisi militer Jepang tersebut, Ayah saya melihat ke arah kami, dia melambaikan tangan dengan sedih sekali. Dari perahu kecil dibawa ke perahu motor dan kemudian dibawa ke Manado, dengan total kira-kira 7-10 orang tawanan, campuran suku Tionghoa dan Gorontalo. Dari suku Tionghoa adalah pengusaha dan suku Gorontalo adalah pemuka masyarakat. 

Sesudah ditinggalkan Ayah saya, saya dan Ibu saya diliputi kesedihan dan tiap hari hanya bisa menangis dan berdoa siang dan malam supaya Ayah saya bisa dibebaskan oleh pemerintah Jepang, tetapi tentu sisa-sia karena 9 bulan kemudian para tawanan yang masih hidup dikembalikan ke Bumbulan dan beberapa tawanan telah mati termasuk Ayah saya. Menurut cerita teman-temannya, Ayah saya sudah meninggal 2 bulan sebelum mereka dilepas, berarti ayah saya berada 7 bulan di penjara. Mereka semua tanpa diperiksa dan diadili, sehingga maksud penangkapan merupakan sesuatu yang sangat misterius. 

Di Bumbulan yang saya ingat yang ditangkap adalah Oei Hok Sioe, Lie Beng Giok dan Habib Muchsin yaitu kakeknya dari pak Fadel Muhammad mantan Menteri Kelautan, yang lain saya tidak ingat, saya dengar di seluruh daerah kabupaten Gorontalo ( Bumbulan hanya salah satu kecamatan ) yang ditangkap mungkin ada 70 orang. Ayah saya dan Lie Beng Giok meninggal juga di penjara, sedangkan Oei Hok Lie dan Habib Muchsin kembali ke Bumbulan, yanglain saya sudah lupa. 

* NB: Tulisan ini dari ingatan saya sendiri. Kejadian pada tahun 1943, jadi 71 tahun yang lalu yaitu pada waktu saya berumur 12 tahun dan saya sekarang berumur 83 tahun, sudah banyak sekali yang penting-penting lain saya lupa, tetapi kejadian yang menimpa keluarga kami, yang saya alami sendiri secara langsung sukar sekali saya lupa, bahkan terus menerus masuk dalam ingatan saya. Saya sama sekali sudah tidak dendam atau sakit hati kepada Jepang, sebab saya tahu ini hanya akibat perang dan banyak teman-teman saya orang Jepang yang sangat ramah dan berbudi baik. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ciputra ciputra way

Sumber : ciputraentrepreneurship

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top