KEONG MAS: Jalan Sukses Bisnis Makin Mulus

Salah satu konsep dari entrepreneur adalah mengubah sampah menjadi emas. Konsep tersebut tidak dimaknai secara harfiah, tetapi berupa upaya mengubah bahan yang tidak memiliki nilai menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.
Ropesta Sitorus | 02 Juni 2015 02:20 WIB
Sate keong mas. - resepmasakanidola

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu konsep dari entrepreneur adalah mengubah sampah menjadi emas. Konsep tersebut tidak dimaknai secara harfiah, tetapi berupa upaya mengubah bahan yang tidak memiliki nilai menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.

Itulah yang dilakukan Sultan Alfathir saat melihat keong mas atau disebut gondang dalam Bahasa Jawa. Kebetulan dia tinggal di lingkungan yang masih banyak lahan pertaniannya. Petani kerap mengeluh ketika diserbu hama keong mas yang membuat produktivitas menjadi menurun.

Di daerahnya belum banyak yang mengolah keong menjadi produk yang bernilai tinggi.  Biasanya keong tersebut hanya dipungut petani lalu dibuang di pematang sawah. Namun Fathir-begitu dia biasa disapa-meraciknya menjadi produk kuliner berupa kripik gurih dengan beberapa pilihan rasa.

“Bisa dibilang kami adalah inovator usaha ini. Kalau yang lain hanya sebatas menjadikan keong sebagai bahan sate, itupun belum dijual dengan teknik pemasaran yang baik,” kata dia.

Ide bisnis itu didapatnya ketika melakukan riset kandungan gizi keong mas saat masih SMA. Ternyata gizi moluska air tawar tersebut cukup banyak antara lain mineral, protein, dan asam lemak tak jenuh yang baik untuk menurunkan kolesterol.

“Saya mulai ujicoba membangun produk yang simple dan mudah direalisasikan. Pilihannya jatuh pada kripik karena mudah dikerjakan, hanya perlu membumbui dan menggoreng,” ujarnya kepada Bisnis.com.

Usaha keripik dengan merek Polita Gondang Crispy itu dibesarkan di bawah rumah produksi Polita Nusantara yang berbasis di Lamongan, Jawa Timur.
Dia mendirikannya pada Maret 2013 bersama dua orang temannya perempuan. Bertiga, mereka yang saat itu sedang duduk di kelas III SMA sama-sama turun ke sawah untuk mengumpulkan keong mas.

Proses pengolahan yang dilakukan yakni merebus keong kemudian memisahkan bagian yang dapat digunakan sebagai bahan keripik yakni area kepala dipisahkan. Daging keong lantas diiris dan dibumbui. Setelah digoreng, ditiriskan dengan menggunakan mesin spinner lalu dikemas.

Awalnya, produknya hanya dikemas pakai plastik bening. Pasarnya pun terbatas pada teman-teman sekolah dan dititip di kantin dekat sekolahnya. Mendapat masukan dari pembinanya yang mengajar ekskul kewirausahaan di SMA, dia memproduksi kemasan yang lebih menarik berbentuk rumah gadang.

“Modal awal-awal hanya patungan bertiga Rp100.000. Kebetulan tahun 2013 itu kami menang lomba kewirausahaan, hadiah uang Rp5 juta dipakai sebagai tambahan modal saat hendak membuat kemasan,” kata dia.

Setelah mengganti bentuk kemasannya, cara pemasaran pun diganti. Dia tak hanya membidik pasar kalangan anak SMA tetapi mengincar kalangan menengah. Demi mendekati pasar, produknya mulai dititipkan di toko-toko oleh-oleh dan restoran di wilayah Lamongan.

Ketika menjalankan usaha tersebut, ada beberapa kendala yang mereka alami. Pertama, yakni dari segi kapasitas produksi yang masih terbatas, sehingga sering kewalahan jika beberapa toko secara bersamaan meminta disediakan stok keripik dalam jumlah cukup besar.

Kedua, mereka juga terkendala dengan pembagian waktu untuk bisnis dan sekolah masing-masing. Tak jarang semangat wirausahanya pun sempat naik turun, seperti ketika ketiganya menamatkan SMA dan melanjutkan kuliah masing-masing.

Namun, semangat mereka kembali terpacu memperbesar usaha tersebut ketika kembali dinyatakan sebagai pemenang dalam kompetisi wirausaha nasional. Mereka mulai percaya diri ada peluang yang menjanjikan dalam bisnis keong mas karena melihat respons dan apresiasi yang diberikan masyarakat.

Peralatan produksi secara perlahan ditambah dengan menggunakan uang hadiah yang mereka dapat. Mesin spinner  dibeli agar pengeringan keripik lebih maksimal sehingga umur produk lebih tahan lama. Selain itu, mereka juga mulai membangun rumah produksi yang lebih besar.

Kemudian, pemasaran lewat media sosial seperti Facebook dan Twitter mulai digencarkan untuk memperluas pasar. Mereka juga mulai melakukan pemberdayaan masyarakat. Para petani diajari cara memilah daging keong yang dapat dimasak dan membuang bagian perutnya yang disebut beracun.

Kemudian daging keong itu dibelinya seharga Rp7.000 per kilogram. Selain menolong para petani untuk mendapatkan pemasukan tambahan, aktivitas itu juga bermanfaat untuk menjamin suplai bahan baku. Polita tak kesulitan mendapat bahan baku keong yang bisa dibilang adalah hewan musiman.

Gebrakan lainnya adalah penambahan varian rasa. Mulai tahun lalu, rasa keripik Polita tak lagi sebatas rasa original. Ada varian rasa baru yang diperkenalkan ke publik yakni keripik keong rasa barbeque dan balado.

Sejak adanya penambahan varian tersebut, didukung promosi lewat media sosial, permintaan terhadap produk keripik keongnya melonjak drastis. Dalam sebulan dia mampu memproduksi hingga 80 kilogram keripik yang dikemas ukuran 100 gram.

Dengan harga jual sekitar Rp7.000 – Rp8.000, omzet penjualan Polita minimal berkisar Rp6 juta. “Persentase labanya sekitar 30% dari omzet,” tuturnya.
Kini, produk kripiknya dia jual secara konsinyasi di 25 outlet dan 10 reseller yang tersebar di beberapa lokasi seperti Lamongan, Gresik, Malang, Kediri dan Surabaya.

Ke depan, mahasiswa semester IV jurusan Teknologi Pangan di Universitas Brawijaya ini juga ingin memperbaiki kemasan dan menambah varian rasa baru yakni soto  yang merupakan ciri khas Lamongan. “Kami sudah menjajaki kerja sama dengan Dinas Perdagangan Lamongan yang ingin mengarahkan produk Polita sebagai oleh-oleh khas Lamongan,” ucapnya.

Fathir bercita-cita untuk masuk ke segmen pasar yang lebih luas dan kini sedang mencari tambahan modal agar dapat mengoptimasi omzet. Peluang bisnis Polita, menurutnya, masih sangat terbuka lebar karena belum banyak pelaku usaha serupa.

Jalan tersebut semakin mulus karena produknya pun sudah mempunyai sertifikat halal dan telah memiliki segala perizinan di bidang industri kecil dan menengah. “Target kami semakin banyak yang mengenal produk ini di Indonesia dan kami juga bercita-cita harus bisa menembus pasar ekspor,” ujarnya dengan penuh semangat.

SATE KEONG

Pelaku usaha lain yang mampu melihat peluang bisnis dari kuliner keong mas adalah Itang MD. Pria yang berdomisili  di Karawang, Jawa Barat ini sudah menjual keong mas dalam bentuk sate selama satu tahun terakhir.

Proses peracikan sate keong, kata Itang, tak jauh berbeda dengan sate dari bahan lain seperti ayam ataupun sapi. Bedanya hanya pada tahap awal, yakni ketika dia harus memisahkan keong dari cangkangnya.

Keong tersebut terlebih dahulu direbus dengan air mendidih agar lunak. Kemudian daging kerang dicabut dan dibersihkan. Dia memisahkan tubuh keong karena yang bisa digunakan menajadi sate hanya bagian daging kepala.

Adapun jeroannya harus dibuang karena memiliki zat yang disebut dapat menimbulkan gejala keracunan bagi manusia. “Setelah itu prosesnya sama kayak masak sate biasa, dagingnya tinggal dibumbui lalu dimasak,” ujarnya kepada Bisnis.com.

Itang menyebut dia hanya berfokus menjual sate daging keong dan tidak menjual sate daging lainnya. Karena pasar yang diincarnya adalah keluarga, sehari-hari dia berdagang di salah satu pasar tradisional di daerahnya, Pasar Pakis Jaya.

“Pelanggan yang datang sejauh ini memang yang ingin menikmati sate keong jadi saya tidak menjual sate lain,” katanya.

Dari 10 kilogram keong yang dibelinya, dia mendapat sekitar 4 kilogram daging yang bisa dijadikan sate. Jika satu tusuk sate masing-masing berisi empat potong daging, dari satu kilogram daging keong didapat 25 tusuk sate.

Tiap porsi sate terdiri dari 10 tusuk daging ditambah dengan nasi ataupun lontong. Harganya dibanderol Rp15.000 per porsi. Dalam sehari dia dapat menjual minimal 20 porsi sate.

“Saya tidak setiap hari berdagang sate, hanya hari tertentu ketika ada pasar, yakni tiap Senin, Rabu dan Jumat. Jadi dalam sebulan paling dapat untung bersih Rp800.000-Rp1 juta,” ujarnya.

Meski menyebut dagangannya sudah punya peminat tersendiri, Itang masih menjadikannya sebatas  usaha berskala rumahan. Padahal diakuinya potensinya sangat besar mengingat belum banyak pesaing. Ketika tidak sedang berjualan sate keong, kadang-kadang dia hanya menjual daging keong yang sudah dilepas dari cangkangnya di pasar. Daging yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam plastik dan dijual secara per kilogram.

“Warga sekitar banyak yang beli untuk dimasak sebagai lauk di rumah. Biasanya mereka menggorengnya,” tuturnya. Dia berharap kelak dapat membesarkan usahanya jika pasar sudah lebih teredukasi untuk menikmati makanan dari bahan keong. Harapannya yang lain adalah belajar mengolah dan memasarkan sate keong mas secara lebih modern agar segmen pasarnya lebih luas.

Tag : peluang usaha
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top