Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perintis Kemerdekaan dalam Bisnis

Di usianya yang ke-44, Joyce Chou seolah masih tidak percaya dirinya menduduki kursi pimpinan perusahaan keluarga yang dirintis oleh orangtuanya. Padahal, tadinya dia tidak berencana bergabung dengan perusahaan sang orangtua. Dia bahkan sama sekali tidak tertarik.
Patricia Susanto*)
Patricia Susanto*) - Bisnis.com 14 Desember 2015  |  03:00 WIB
Perintis Kemerdekaan dalam Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Di usianya yang ke-44, Joyce Chou seolah masih tidak percaya dirinya menduduki kursi pimpinan perusahaan keluarga yang dirintis oleh orangtuanya. Padahal, tadinya dia tidak berencana bergabung dengan perusahaan sang orangtua. Dia bahkan sama sekali tidak tertarik.

Kedua orangtua Joyce adalah pemilik Sabrina Fashion Industrial Corporation (selanjutnya disebut Sabrina), sebuah perusahaan manufaktur pakaian olah raga di Taiwan.

Sebenarnya saat masih muda, Joyce pernah membantu Sabrina, yaitu saat magang untuk mengisi liburan musim panas dan beberapa saat setelah lulus kuliah. Namun dia tidak pernah memasukkan Sabrina ke daftar rencana kariernya.

Joyce muda lebih memfokuskan diri pada hal yang memang menjadi kesukaannya, yaitu mengembangkan pendidikan bagi anak-anak pra sekolah. Saat bekerja di Sabrina setelah usai kuliah, Joyce menjadi asisten, tepatnya sebagai staf junior. Menurut Joyce, bisnis yang dijalankan oleh orangtuanya sangat detail.

Ada saja masalah yang muncul setiap harinya, yang meski terlihat sepele tetapi tak boleh dipandang remeh. Dia merasa setiap orang, termasuk orangtua dan para staf perusahaan, mengawasi dengan seksama semua gerak-geriknya.

Tekanan yang dialaminya cukup tinggi. Agaknya, lantaran faktor inilah Joyce merasa tidak cocok dan tidak ingin terlibat dalam bisnis Sabrina. Namun, semuanya berubah setelah ayahnya meninggal dunia karena penyakit kanker dan ibunya jatuh sakit.

Sang ibu tidak mau menjual perusahaan. Dirinya malah membujuk Joyce untuk melanjutkan bisnis keluarga. Joyce akhirnya bersedia. Namun, masa-masa awal Joyce bergabung dengan Sabrina bukanlah masa-masa yang mudah, meskipun dirinya adalah anak pendiri perusahaan.

Joyce harus berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan dan merebut hati para staf senior, yang telah bekerja selama beberapa dekade bersama orangtuanya. Joyce harus meyakinkan mereka tentang pentingnya perubahan sehingga bisnis dapat tetap tumbuh dan lebih maju.

Mereka kurang mempercayai Joyce karena memandangnya masih muda dan kurang pengalaman. Selama 3 tahun pertama, Joyce sempat merasa frustrasi sampai-sampai dia pernah meminta berhenti kepada ibunya.

Para staf senior di perusahaan ingin melindungi Joyce serta melakukan hal-hal yang mereka anggap benar. Namun, saat mengambilalih kepemimpinan, Joyce mempunyai ide-ide serta cara tersendiri dalam mengelola perusahaan.

Joyce kemudian memutuskan untuk belajar mengenai seluk-beluk industri yang digeluti Sabrina dari para staf senior yang semula meremehkannya.

Strategi ini terbukti berhasil. Pabrik-pabrik baru dibuka, semisal di Vietnam dan Kamboja. Jumlah karyawan meningkat dua kali lipat. Pendapatan melonjak hingga 50%. Saat ini Sabrina memiliki kurang lebih 11.000 karyawan.

Joyce dan Sabrina termasuk beruntung karena pada akhirnya dapat menjadi pemegang kendali perusahaan. Sabrina pun terus tumbuh dan maju. Padahal sebelumnya Joyce menghadapi kendala ketidakpercayaan dan resistensi dari karyawan senior, yang telah bertahun-tahun bekerja di Sabrina dan menganggap mapan cara-cara lama.

TIDAK DAPAT DIREMEHKAN

Peran para karyawan senior ini tidak dapat diremehkan. Mereka turut bahu membahu mendirikan dan/atau membangun perusahaan sehingga memiliki hubungan erat dan kedekatan emosional dengan pendiri.

Penulis menyebut para senior ini dengan ”Perintis Kemerdekaan”. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh pendiri sudah mendarah daging dalam diri mereka, meskipun jika dilihat dari sisi kompetensi, para ”perintis kemerdekaan” ini boleh jadi tidak seunggul generasi yang lebih muda.

Berkat pengalaman dan usia, para ”perintis kemerdekaan” ini sudah lebih matang. Mereka dapat berperan sebagai penghubung antara pendiri dan generasi penerus. Mediasi ini sangat membantu mengurangi gesekan yang mungkin terjadi antara pendiri dan calon penerusnya.

Para ”perintis kemerdekaan” ini bisa berperan tidak hanya dalam fase mempersiapkan pemimpin dari generasi berikutnya tapi juga mendampinginya, katakanlah sebagai penasihat. Posisi ini lebih aman dari konflik dibandingkan dengan, contohnya, menduduki jabatan struktural dalam perusahaan.

Jika para senior ini masih menduduki jabatan struktural dalam perusahaan, ada kemungkinan akan menghambat majunya perusahaan karena faktor usia dan kompetensi serta tidak adanya kemauan untuk berubah.

Selanjutnya, jika peran penasihat dirasa sudah tidak cocok juga, para ”perintis kemerdekaan” ini dapat ditempatkan pada kegiatan peduli masyarakat melalui nilai-nilai, etika, dan praktik-praktik kehidupan perusahaan yang menyatu di masyarakat.

Jika kompetensi yang dimiliki para ”perintis kemerdekaan” ini masih relevan dengan kebutuhan perusahaan dan perkembangan zaman, maka keberadaan mereka masih dapat dipertahankan.

Namun jika tidak, hendaknya tidak langsung disingkirkan dengan cara frontal. Ingatlah bahwa bagaimanapun, mereka turut andil dalam membesarkan perusahaan. Pihak perusahaan dapat mengurangi beban kerja mereka sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan kejutan.

Selanjutnya, perusahaan mempersiapkan pengganti pemimpin dan karyawan-karyawan seniornya.

Selama masa pergantian, ”perintis kemerdekaaan” membagi pengetahuan dan pengalaman mereka kepada generasi penerus, yang inisiatifnya dapat diambil oleh generasi penerus seperti terjadi di Sabrina.

Jadi, meski memiliki kompetensi lebih tinggi, generasi penerus harus bijak memperlakukan para senior.  ()

*) Patricia Susanto, CEO of The Jakarta Consulting Group

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

strategi bisnis

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (13/12/2015)

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top