Nguyen Thi Phuong Thao, Miliarder Perempuan Kebanggaan Vietnam

Thao merintis bisnis dengan menjual barang konsumsi dan peralatan kantor seperti alat faks dengan sistem kredit.
Yustinus Andri DP | 14 April 2016 11:30 WIB
Nguyen Thi Phuong Thao.

Bisnis.com, JAKARTA - Seperempat abad lalu, Nguyen Thi Phuong Thao mungkin tidak pernah menyangka bakal menjadi salah satu wanita tersukses di Vietnam karena bernyali tinggi menantang risiko di negara tersebut.

Namun, berkat keberanian dan terobosan yang tidak biasa Thao berhasil mencatatkan kesuksesannya.  Salah satu strategi yang sempat bikin geger tetapi terbukti mendatangkan banyak uang adalah menempatkan pramugari berbikini di perusahaan penerbangan miliknya Vietjet.

Kini dia secara tak resmi telah dinobatkan sebagai miliarder wanita pertama di Vietnam dengan total kekayaan US$1 miliar. Dia juga duduk dalam jajaran 50 pebisnis wanita terkaya di Asia versi Forbes.

Thao memulai usaha pertamanya pada 1988, saat dia memasuki tahun kedua kuliahnya di Moskow. Terlahir dari keluarga sederhana, yakni ayah yang berprofesi sebagai apoteker dan ibunya yang menjadi guru, membuat Thao muda harus berjuang cukup keras ketika merantau di negeri Eropa Timur tersebut.

“Saya tidak punya banyak uang saat itu. Satu-satunya cara saya harus bekerja dengan jujur dan berani mengambil risiko,” katanya.

Bisnis awal dari perempuan yang kini berusia 46 tahun ini adalah menjadi penjual barang-barang konsumsi dan peralatan kantor seperti alat faks dengan sistem kredit. Pada saat itu dia berhasil masuk ke jaringan pemasok barang dari pengusaha di Jepang, Hong Kong dan Korea Selatan.

Sifat jujur yang dibarengi dengan kecerdasan dalam berdagang, membuat Thao terus mendapatkan kepercayaan dari konsumen dan distributor. Pelajaran yang didapatnya saat berkuliah di jurusan manajemen dan keuangan pun langsung diaplikasikan pada bisnisnya ini.

Tiga tahun bergelut di sektor tersebut, Thao akhinya mulai beralih ke bisnis lainnya sebagai distributor produk baja, aneka mesin, pupuk, karet dan komoditas lainnya. Lini usaha barunya tersebut terus berkembang, sehingga berhasil membuatnya menjadi jutawan muda di Rusia.

Tak puas bekerja di negeri orang, dia memutuskan untuk pulang ke Vietnam pada 1990-an. Uang yang dihimpunnya dari negeri Eropa Timur itu pun diinvestasikan di Techcombank dan bank pemberi kredit terbesar kedua di negerinya  yakni Vietnam International Commercial Joint Stock Bank.

Setelah cukup sukses di negeri orang, Thao merasa bahwa dirinya harus turut mengembangkan bisnis dan ekonomi di negaranya sendiri. Dia pun melihat sektor penerbangan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Setelah Vietnam menganut ekonomi pasar pada 1986, sektor penerbangan di Negeri Lumbung Padi di Asia Tenggara ini terlalu didominasi oleh Vietnam Airlines, yang merupakan perusahaan milik negara. Dia menilai sektor swasta perlu masuk untuk ikut bersaing sekaligus ikut menggerakkan roda ekonomi negara ini.

Akhirnya pada 2007 dia berhasil mendirikan maskapai  penerbangan swastanya tersebut. Perusahaan ini diberi nama VietJet Aviation Joint Stock Co. atau Vietjet, dengan mengambil konsep maskapai penerbangan murah.

Namun, rencana bisnis barunya ini bukannya tanpa halangan. Sejak didirikan pada 2007, Vietjet baru resmi beroperasi pada 2011. Perusahaan berdalih krisis ekonomi global yang disertai naiknya harga bahan bakar membuat Vietjet terus menunda operasi perdananya.

Selain itu, konflik terkait dengan izin terbang dengan Administrasi Penerbangan Sipil Vietnam (CAAV), juga turut memperlambat penerbangan perdana maskapai ini.

Akan tetapi, sejak resmi mengudara pada 2011, Vietjet justru terus melesat menjadi perusahaan paling menjanjikan di Vietnam. Hal ini salah satunya ditandai dengan dibukanya rute penerbangan internasional perdananya menuju Bangkok, Thailand pada 2013 yang dilanjutkan dengan sejumlah rute lainnya. Bahkan, kini Vietjet telah memiliki 47 rute penerbangan internasional.

Thao mengakui, dia berambisi untuk menjadikan maskapainya sebagai ‘Emirates-nya’ Asia Tenggara dengan target rute penerbangan internasional lebih dari 150 tujuan.

CAPA Centre for Aviation memperkirakan,  VietJet mungkin akan melampaui maskapai nasional Vietnam Airlines sebagai maskapai domestik terbesar negara tahun ini. Selain itu Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) juga memperkirakan, ekspansi Vietjet akan membuat Vietnam masuk ke jajaran 10 besar negara dengan pasar penerbangan yang tumbuh paling cepat dalam dua dekade ke depan.

Jual Sensasi

Tahun lalu, pendapatan perusahaan ini tercatat melonjak tiga kali lipat menjadi 10,9 triliun dong, dengan laba bersih naik menjadi hampir 1 triliun dong. Thao mengakui, salah satu hal yang membuat pendapatan perusahaan meningkat adalah memunculkan sensasi yang tidak didapatkan di maskapai lainnya.

VietJet dikenal karena pramugarinya yang didandani menggunakan bikini. Namun, tidak semua rute penerbangan menawarkan hal ini. Pramugari berpakaian bikini hanya akan ada pada penerbangan perdana ke sejumlah lokasi yang memiliki destinasi wisata pantai.

Thao beralasan, kebijakannya ini adalah bentuk kampanye untuk melawan budaya konservatif di Vietnam yang mengekang wanita. Kebijakan ini sempat mendapat teguran keras dari otoritas penerbangan setempat, sebelum akhirnya diperbolehkan karena telah memenuhi sejumlah aturan keselamatan.

"Saya ingin mengatakan, bahwa Anda memiliki hak untuk memakai apa pun yang Anda suka, baik bikini atau pakaian tradisional. Kami juga tidak keberatan orang mengasosiasikan maskapai dengan gambar bikini. Jika itu membuat orang bahagia, maka kami senang," tuturnya.

Thao pun berencana melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) pada Juni 2016 sekitar 30% saham Vietjet. Aksi IPO ini diperkirakan akan meningkatkan nilai valuasi perusahaan hingga US$1 miliar. Nilai valuasi itu akan membuat Vietjet memiliki nilai lebih besar daripada Asiana Airlines Inc. atau Finnair Oyj.

Sejumlah media di Vietnam menyebutkan, selain di Vietjet sebagian besar kekayaannya diperoleh dari kepemilikan sahamnya di pengembang real estate Dragon City.  Perusahaan tersebut menguasai pasar real estate di Kota Ho Chi Minh, dengan luas wilayah mencapai  65 hektare.

Miliarder cantik ini juga memiliki saham hingga 90% di SOVICO Holdings dan memegang saham mayoritas di tiga resor raksasa di Vietnam. Thao mempunyai 20% saham di HDBank dengan aset hingga US$4,6 miliar dan memperkerjakan hampir 10.000 orang. Di perusahaan ini dia duduk sebagai wakil ketua. (Bloomberg)

Nguyen Thi Phuong Thao
Lahir: 7 Juni 1970
Total kekayaan: US$1 miliar (Bloomberg Billionaires Index)
Bisnis Utama: VietJet Aviation Joint Stock Co. dan Dragon City

 

Sumber : Bisnis Indonesia, Kamis (14/4/2016)

Tag : ekonomi vietnam, Nguyen Thi Phuong Thao
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top