PELUANG USAHA: Raih Cuan dari Utak-Atik Panganan Mede

Bisnis makanan adalah bisnis yang abadi. Siapa yang tidak butuh makan? Tidak heran jika selalu saja ada inovasi baru dalam hal kuliner. Makanan yang sudah umum seperti bakso misalnya, dibuat berbeda dengan bakso beranak. Pisang goreng yang dapat ditemukan di berbagai sudut kota juga dikreasikan menjadi lebih menarik dengan ditambahkan macam-macam topping.
Annisa Margrit | 10 Desember 2017 13:53 WIB
Jambu mede. - .petanihebat.com

Bisnis.com, JAKARTA- Bisnis makanan adalah bisnis yang abadi. Siapa yang tidak butuh makan?

Tidak heran jika selalu saja ada inovasi baru dalam hal kuliner. Makanan yang sudah umum seperti bakso misalnya, dibuat berbeda dengan bakso beranak. Pisang goreng yang dapat ditemukan di berbagai sudut kota juga dikreasikan menjadi lebih menarik dengan ditambahkan macam-macam topping.

Kreasi terhadap makanan ringan tampaknya menjadi yang paling banyak dilakukan. Apalagi, sebagai negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, Indonesia mempunyai banyak sekali komoditas pangan yang dapat diolah menjadi makanan ringan. Salah satunya adalah kacang mede.

Berdasarkan data Statistical Yearbook 2016/2017 dari International Nut and Dried Fruit Council, Indonesia termasuk salah satu produsen kacang mede terbesar dunia. Produksinya mencapai 19.000 metrik ton pada 2016/2017, setara dengan 2% dari total produksi global yang menyentuh 754.700 metrik ton.

Menariknya, Indonesia tidak termasuk dalam daftar eksportir maupun importir terbesar. Hal ini bisa berarti kacang mede yang dihasilkan digunakan untuk konsumsi di dalam negeri. Tetapi, di sisi lain, juga dapat menunjukkan bahwa konsumsi kacang mede nasional tidak banyak.

Selama ini, memang ada anggapan di masyarakat bahwa kacang mede tidak baik dikonsumsi banyak karena mengandung kolesterol yang tinggi dan bisa menyebabkan asam urat. Namun, kacang mede sebenarnya memiliki kandungan yang juga baik untuk tubuh karena bisa menutrisi rambut dan kulit, menjaga kesehatan jantung, merawat kesehatan tulang, bahkan dapat membantu menurunkan berat badan.

Pasalnya, kandungan lemak yang ada di dalamnya justru merupakan lemak tak jenuh yang termasuk lemak baik. Kandungan lainnya adalah asam oleat, magnesium, serta serat.

Daerah penghasil kacang mede pun cukup banyak. Selain Jawa Tengah, kacang mede bisa ditemukan di Bali, Sumbawa, dan Sulawesi.

Dalam pengolahannya, kacang mede cukup disangrai atau digoreng sebelum dikonsumsi. Dalam pengolahannya, kacang mede pun dapat dikombinasikan dengan komponen lain seperti cokelat atau madu.

Bisnis olahan kacang mede bisa dimulai dengan modal yang tidak terlalu besar. Pasalnya, harga jual bahan baku mentah tidak terlalu mahal. Jika ingin mencoba terlebih dulu, kacang mede mentah dengan berat 1 kilogram rata-rata dijual di kisaran Rp150.000-Rp200.000.

Namun, keuntungan yang didapat ternyata berkali-kali lipat dari modal awal yang dikeluarkan. Angka puluhan juta rupiah sudah bisa dikantungi oleh pelaku usaha.

Konsumennya pun datang dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam momen tertentu, seperti Idulfitri dan Natal, permintaan terhadap kacang mede biasanya melonjak dibandingkan hari-hari biasa. Tak heran jika pada saat-saat tersebut banyak pedagang kacang mede dadakan.

Peluang pemasaran ke luar negeri pun terbuka. Selain lewat online shop, pintu ekspor terbuka melalui pameran.

Untuk bisa menarik hati konsumen, rasa saja tidak cukup. Oleh karena itu, inovasi dan kreasi tidak cukup hanya di varian produk tapi juga di kemasan.

Tertarik?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peluang usaha

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top