Elizabeth Holmes, Dari Hero Jadi Zero

Elizabeth Holmes pernah didapuk Forbes sebagai miliarder wanita termuda di dunia yang memperoleh kekayaan dari jerih payahnya sendiri. Tapi dalam tiga tahun, ia kehilangan kontrol atas perusahaan yang didirikannya, Theranos. Adapun aset kekayaannya longsor menjadi nol.
Renat Sofie Andriani | 20 Maret 2018 10:17 WIB
Elizabeth Holmes - Vanity Fair

Bisnis.com, JAKARTA – Elizabeth Holmes pernah didapuk Forbes sebagai miliarder wanita termuda di dunia yang memperoleh kekayaan dari jerih payahnya sendiri. Tapi dalam tiga tahun, ia kehilangan kontrol atas perusahaan yang didirikannya, Theranos. Adapun aset kekayaannya longsor menjadi nol.

Selama beberapa tahun, Theranos mendapat kredit karena mendisrupsi industri diagnostik laboratorium dengan membuat proses pengerjaan tes darah menjadi lebih murah, lebih cepat, dan lebih mudah.

Popularitas Theranos mendongkrak pundi-pundi kekayaan Elizabeth. Di usia 31 tahun, Elizabeth menjadi miliarder wanita termuda dengan kekayaan bersih senilai US$4,5 miliar menurut majalah bisnis kenamaan Forbes.

Namun sekitar tiga tahun kemudian yakni pada 14 Maret 2018, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat menuntut Elizabeth dan seorang eksekutif Theranos karena melakukan kecurangan.

Elizabeth pun diharuskan menyerahkan kendali atas perusahaan yang didirikannya. Ia setuju untuk membayar denda sebesar US$500.000, sekaligus melepaskan 19 juta saham Theranos. Ia juga tidak diizinkan menjadi eksekutif atau direktur sebuah perusahaan publik selama 10 tahun.

Bagaimana sebenarnya perjalanan wanita yang terpukul kegagalan justru setelah mendulang kesuksesan ini?

Takut Jarum Suntik

Elizabeth Anne Holmes lahir di Washington, D.C. Pada 3 Februari 1984. Ayahnya, Christian Holmes IV, bekerja untuk Badan Pembangunan Internasional dan Departemen Luar Negeri AS, dan sering bepergian ke luar negeri.

Adapun ibunya, Noel Anne Daoust, bekerja sebagai staf komite Kongres sebelum Elizabeth dan adiknya bernama Christian lahir. Masa kecil Elizabeth dan adiknya dilalui di beberapa tempat berbeda.

Dilansir Investopedia, Elizabeth bersekolah di St. John's School, Houston, dan lulus pada tahun 2002. Selama menjalani pendidikan sekolah menengah atas, dia belajar bahasa Mandarin.

Kecakapannya berbahasa Mandarin di kemudian hari akan berguna untuk mendapatkan kesempatan magang di Genome Institute of Singapore.

Sejak kecil, Elizabeth telah sangat terinspirasi oleh kakek buyutnya, Christian R. Holmes, seorang dokter dan dekan Universitas Cincinnati College of Medicine.

Kematian dini pamannya akibat kanker begitu berdampak dan memberinya motivasi tambahan untuk memasuki bidang medis.

Namun ia menyadari memiliki ketakutan akan jarum suntik. Ketakutan inilah yang akan mengantarkan Elizabeth merencanakan proses pengerjaan tes darah menjadi lebih mudah.

Ide Mendirikan Perusahaan

Elizabeth kemudian mendaftarkan diri di Stanford University untuk belajar teknik kimia. Sepanjang ia berkuliah ia banyak diilhami oleh Profesor Channing Robertson yang menasehatinya tentang beberapa isu penting.

Di Stanford, ia menuliskan aplikasi paten untuk sebuah patch yang dapat dipakai agar mampu memantau variabel dalam darah pasien, memberikan pengobatan, serta menyesuaikan dosis.

Pada September 2003, ia mengajukan permohonan paten berjudul “Perangkat medis untuk pemantauan analit dan pengiriman obat." Ia lalu berkonsultasi dengan Profesor Robertson setelah terbersit gagasan untuk memulai sebuah perusahaan.

Idenya direalisasikan dengan meluncurkan perusahaan bernama Real-Time Cures. Aktivitas awal perusahaan ini dilakukan di ruang bawah tanah perguruan tinggi dengan bermodalkan uang pendidikan Elizabeth sendiri.

Tak lama, ia memutuskan keluar dari Stanford untuk fokus pada bisnisnya secara purna waktu. Sementara itu, Profesor Robertson tetap terlibat dan menjadi sebagai direktur perusahaan.

Theranos

Real-Time Cures kemudian berganti nama menjadi Theranos, sebuah kombinasi kata 'therapy' dan 'diagnosis'. Berdiri pada April 2004, Theranos fokus pada menjalankan tes laboratorium umum dengan inovasi perangkat tes dan hanya satu tetes darah.

Dilansir BBC, cara ini menciptakan alternatif terhadap teknik pengujian lab tradisional yang menggunakan jarum suntik dan sejumlah botol darah. Dalam praktiknya, Theranos berencana untuk mengenakan biaya kurang dari separuh tarif yang dikenakan oleh Medicare dan Medicaid di AS.

Ini artinya potensi penghematan anggaran pemerintah AS sebesar US$200 miliar selama satu dekade berikutnya. Tak cuma masalah biaya, cara ini juga praktis dapat dilakukan di apotek dan hanya membutuhkan waktu untuk menganalisa darah selama beberapa jam.

Jelas sekali, Theranos adalah apa yang setiap investor cari terutama dalam industri diagnostik. Pada 2014, perusahaan tersebut telah menghimpun lebih dari US$400 juta dan memiliki valuasi senilai sekitar US$9 miliar.

Sementara itu, aset kekayaan Elizabeth ditaksir mencapai US$4,5 miliar, menurut majalah Forbes, menjadikannya miliarder wanita termuda yang memperoleh kekayaan dari jerih payahnya sendiri berikut sederet pengakuan lainnya.

Prospek Theranos disertai daya tarik Elizabeth sebagai pendirinya telah menarik sejumlah nama besar masuk dalam kepengurusan Theranos, termasuk dua mantan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger dan George Shultz.

Di antara kerjasama yang berhasil digaet adalah kemitraan dengan Walgreens Boots Alliance Inc. (WBA) untuk membangun ribuan Pusat Kesehatan di AS, yang dimulai dengan California dan Arizona.

Investigasi Dimulai

Namun ternyata tidak semua orang percaya dengan perkembangan Theranos. Bill Maris, yang mengelola Google Ventures (GV) pada tahun 2013 memutuskan untuk tidak berinvestasi.

Dalam sebuah wawancara dengan Business Insider, Maris mengungkapkan timnya telah menjalankan pengecekan dengan melakukan tes darah. Ternyata prosesnya tidak sesederhana publisitas yang diklaim.

Kecurigaan lain datang dari seorang jurnalis Wall Street Journal bernama John Carreyrou. Sebagai pemenang Pulitzer Prize, Carreyrou mencermati dan menyelidiki untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam Theranos.

Salah satu upaya yang dilakukan Carreyrou di antaranya adalah mengulik informasi dari para karyawan Theranos. Ada yang mengatakan bahwa hasil tes Theranos tidak akurat.

Yang lain mengungkapkan bahwa sebagian besar tes sama sekali tidak dilakukan di laboratorium Theranos, namun menggunakan mesin konvensional yang dibeli dari pemasok utama.

Tyler Shultz, cucu George Shultz, dilaporkan menjadi sumber utama di balik penyelidikan The Wall Street Journal pada tahun 2016.

Lisensi Dicabut

Setelah laporan terkait perusahaan tersebut diterbitkan oleh Wall Street Journal pada Oktober 2015, pihak regulator keuangan AS, Securities and Exchange Commission, membuka sebuah penyelidikan.

Pusat Layanan Medicare dan Medicaid, yang mengawasi laboratorium pengujian darah, mencabut lisensi Theranos. Dalam setahun, perusahaan tersebut mulai menutup sejumlah labnya serta memberhentikan lebih dari 40% karyawannya penuhnya.

Tak tanggung-tanggung, Forbes merevisi nilai aset kekayaan pendiri Theranos, Elizabeth Holmes, menjadi ‘nol’.

Perusahaan berupaya bertahan dan berhasil mendapatkan pembiayaan untuk membangun kembali, namun pada hari Rabu (14/3/2018), Elizabeth kehilangan kendali atas perusahaannya.

Ia diwajibkan melepaskan semua sahamnya dan dikenai denda US$500.000, belum lagi kemungkinan tuntutan pidana oleh jaksa federal atas dasar kecurangan.

Jina L. Choi, Direktur kantor regional SEC wilayah San Francisco, mengarisbawahi pentingnya pelajaran yang bisa dipetik dari kasus ini.

“Cerita tentang Theranos adalah pelajaran penting bagi Silicon Valley,” ujar Jina, seperti dikutip The New York Times.

“Inovator yang berusaha merevolusi serta mendisrupsi suatu industri harus memberi tahu investor kebenaran tentang apa yang teknologi mereka dapat lakukan, bukan hanya apa yang mereka harapkan bisa dilakukan teknologi itu suatu saat nanti,” tambahnya.

“Bad Blood”

Jatuh bangun cerita tentang Theranos dan kehidupan Elizabeth Holmes sebagai pendiri sedemikian menariknya hingga mengundang studio Hollywood untuk memfilmkannya.

Rilis film berjudul “Bad Blood” dikabarkan akan segera diumumkan, dengan sutradara Adam McKay. Adapun peran sebagai Elizabeth Holmes dipercayakan untuk diperani oleh pemenang Oscar Jennifer Lawrence.

Elizabeth sendiri diketahui menjalani hidup sederhana dan sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Dia belum menikah, tidak memiliki televisi, dan belum berlibur selama bertahun-tahun.

Mencintai karya sastra dan novelis seperti Jane Austen, Elizabeth memiliki etos kerja yang ekstrem dengan bekerja hampir sepanjang hari. Di luar itu, dia adalah seorang vegetarian dan suka minum ramuan jus sayuran.

Dalam hal berbusana, Elizabeth terkenal dengan gayanya menggunakan jaket hitam, celana panjang, dan kaos berleher tinggi (turtleneck). Gayanya ini tak jarang disebut mengikuti gaya berbusana tokoh teknologi legendaris, Steve Jobs.

Tag : forbes
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top