Indra Nooyi, Perempuan India Otak Strategi PepsiCo

Tak mudah bagi seorang kelahiran di luar Amerika Serikat (AS), apalagi beridentitas wanita, meraih tampuk kepemimpinan dalam sebuah perusahaan ternama. Pandangan ini mampu didobrak Indra Nooyi, putri kebanggaan India yang menjadi CEO PepsiCo selama lebih dari satu dekade.
Renat Sofie Andriani | 07 Mei 2018 10:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Tak mudah bagi seorang kelahiran di luar Amerika Serikat (AS), apalagi beridentitas wanita, meraih tampuk kepemimpinan dalam sebuah perusahaan ternama. Pandangan ini mampu didobrak Indra Nooyi, putri kebanggaan India yang menjadi CEO PepsiCo selama lebih dari satu dekade.

Dengan hanya berlekatkan sari (pakaian khas India) karena belum mampu membeli busana kerja yang pantas, Indra percaya diri melenggang mendatangi undangan wawancara kerja di sebuah perusahaan konsultan prestisius AS.

Dalam hitungan tahun, ia tak hanya sudah mampu membeli busana kerja model apapun yang dia inginkan, tetapi juga secara konsisten menghuni daftar teratas The World's 100 Most Powerful Women versi majalah Forbes.

Tolak Tunduk Pada Norma Konservatif

Lahir dengan nama Indra Krishnamurthy pada 28 Oktober 1955 di Chennai, Tamil Nadu, India, ia tumbuh dalam sebuah keluarga kelas menengah dan selalu menjadi sosok yang menolak untuk mematuhi norma-norma konservatif masyarakat.

Indra kecil dikenal sebagai gadis muda 'liar' yang memilih bermain gitar dalam sebuah band dan ambil bagian dalam tim kriket beranggotakan para gadis. Padahal, kegiatan-kegiatan ini jarang diikuti kebanyakan perempuan di strata sosialnya.

Dilansir The Famous People, pendidikan dasarnya ditempuh di Holy Angels Anglo Indian Higher Secondary School. Ia kemudian belajar fisika, kimia, dan matematika di Madras Christian College dan lulus pada 1974.

Berkat otaknya yang cemerlang, ia berhasil memasuki Indian Institute of Management Calcutta, salah satu institusi pendidikan terkemuka di India dan meraih gelar Post Graduate Diploma in Management (MBA) pada 1976.

Didikan Luar Biasa Sang Ibu

Dalam suatu kesempatan di kemudian hari, Indra mengatakan selalu terdorong untuk menghadapi kesulitan. Kepercayaan dirinya dibangun di atas kebiasaan sehari-hari yang tidak biasa diterapkan oleh ibunya.

Meski menganut beberapa kepercayaan tradisional, seperti menekankan pentingnya mencari suami yang baik sedini mungkin, sang Ibu juga menanamkan keyakinan kepada dua putrinya bahwa mereka dapat tumbuh menjadi yang mereka inginkan.

Ketika berusia 8 hingga 11 tahun, Indra dan kakak perempuannya, Chandrika, selalu dibiasakan berlatih menyampaikan pandangan mereka sendiri.

“Setiap malam di meja makan, Ibu akan meminta kami untuk menuliskan pidato tentang apa yang akan kami lakukan jika kami adalah presiden, kepala menteri, atau perdana menteri. Setiap hari kami diminta berperan menjadi pemimpin dunia yang berbeda,” ujar Indra.

Baik Indra dan kakaknya melakukan kegiatan ini dengan penuh gembira dan tetap mengapresiasinya bahkan setelah mereka menginjak usia remaja dan enggan melakukannya lagi.

“Meskipun ibu saya tidak bekerja dan tidak kuliah, dia menjalani hidup melalui putri-putrinya. Jadi dia memberi kami kepercayaan diri untuk menjadi apa pun yang kami inginkan. Itu adalah pengalaman yang sangat formatif di masa mudaku,” tambah Indra, seperti dikutip Business Insider.

Pengalaman Berarti

Pekerjaan pertamanya selepas lulus kuliah adalah dengan Tootal, sebuah perusahaan tekstil Inggris yang memiliki kepemilikan di India. Tak lama, ia pindah bekerja dengan Johnson & Johnson sebagai manajer produk.

Pekerjaan ini cukup menantangnya karena harus bertanggung jawab untuk mengelola pengenalan produk pembersih Stayfree. Pada saat itu, iklan untuk produk higienitas bagi para wanita dilarang di India. Namun Indra berhasil mengangkat produk ini dengan membidik langsung siswa perempuan di sekolah dan perguruan tinggi.

Pengalamannya di Johnson & Johnson membuatnya menyadari bahwa dia masih belum siap untuk benar-benar memasuki dunia bisnis. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan dan pindah ke AS.

Meski mengejutkan, orangtuanya mengizinkannya pindah ke Amerika. “Tidak pernah terdengar seorang gadis kasta Brahmana yang baik dan konservatif asal India selatan melakukan hal ini. Meski berpikir logisa, pada dasarnya saya orang yang sangat emosional,” tuturnya kepada Financial Times.

Dia berhasil diterima masuk Yale School of Management pada 1978 di New Haven, Connecticut, dan mengejar gelar master di bidang Manajemen Publik dan Swasta. Masa-masa belajar di Yale sangat dinikmatinya, ia pun tak mengalami banyak kesulitan untuk dapat lulus pada 1980.

Jadi Incaran Headhunters

Setelah meraih gelarnya, ia bergabung dengan Boston Consulting Group sebagai direktur proyek strategi korporasi internasional selama enam tahun.

Pada 1986, ia pindah ke Motorola sebagai eksekutif senior tim pengembangan divisi otomotif. Karirnya melejit dan dipromosikan untuk menjadi Vice President dan Director of Corporate Strategy and Planning pada 1988.

Dua tahun berikutnya ia menerima posisi Senior Vice President dan Director of Corporate Strategy and Strategic Marketing di Asea Brown Boveri (ABB), yang menugaskannya untuk mengintegrasikan sekitar 15 bisnis berbeda menjadi operasi yang kohesif.

Sederet posisi penting yang dihuni selama bertahun-tahun memberinya kesuksesan dan pengakuan besar di kalangan profesional. Pada pertengahan 1990, ia menjadi incaran para headhunters perusahaan yang menawarkannya jabatan menggiurkan dalam sejumlah perusahaan mendunia.

Tak mau ketinggalan, kemampuan Indra ternyata juga menarik perhatian dua pejabat penting perusahaan ternama di AS. Pada 1994, Jack Welch, pimpinan General Electric, dan Wayne Calloway, CEO PepsiCo, menawarinya posisi di masing-masing perusahaan.

PepsiCo

Di antara banyaknya tawaran menggiurkan dari perusahaan-perusahaan besar, Indra memilih bergabung dengan PepsiCo pada tahun 1994 sebagai Senior Vice President of Corporate Strategy and Development

Selama beberapa tahun berikutnya, dia bekerja sama dengan CEO baru, Roger Enrico, serta membentuk strategi ekspansi dan pertumbuhan perusahaan di masa depan.

PepsiCo pada saat itu memiliki rantai restoran KFC, Pizza Hut, dan Taco Bell. Indra memainkan peran penting dalam divestasi restoran-restoran pada tahun 1997.

Divestasi tersebut menghasilkan terbentuknya Tricon Global Restaurants, Inc., yang sekarang bernama Yum! Brands, Inc., salah satu perusahaan restoran cepat saji terbesar di dunia dewasa ini.

Mengingat perubahan preferensi makanan pada konsumen, ia merasa PepsiCo perlu berekspansi terhadap pilihan camilan yang lebih sehat. Ia pun menjadi otak akuisisi PepsiCo terhadap Tropicana dan merger dengan Quaker Oats Company. Keduanya terbukti sangat menguntungkan bagi perusahaan.

Sebagai pengakuan atas tindak tanduknya yang mengesankan, Indra dipromosikan menjadi chief financial officer pada tahun 2000. Hanya berselang satu tahun, ia ditunjuk menjadi presiden perusahaan.

Pensiunnya CEO PepsiCo Steve Reinemund pada 2006 kian mengangkat Indra. Ia menjadi CEO kelima dalam sejarah PepsiCo yang telah berjalan lebih dari 40 tahun, sekaligus wanita pertama yang memimpin raksasa minuman dan makanan ringan tersebut.

Keluarga Nomor Satu

Pernikahannya dengan Raj Nooyi, seorang konsultan manajemen kelahiran India, membuahkan dua putri. Terlepas dari segala kesibukannya, Indra berupaya tetap mendahulukan kepentingan keluarga serta mempertahankan hubungan erat dengan sang Ibu terkasih.

Berbicara dalam KTT Dunia di Manhattan pada 2016, Indra mengenang menemukan catatan lama yang ditulis salah satu putrinya ketika berusia empat atau lima tahun.

“Bunyinya, ‘Ibu sayang, aku sayang kamu. Pulanglah.' Saya harus mengingatkan diri saya sendiri tentang apa yang hilang,” ungkap Indra, dikutip Fortune.

Diakuinya sering mengalami kesulitan menjalankan perusahaan langganan daftar Fortune 500 sekaligus merawat dua anak.

Meskipun tidak menyesali keputusannya, tidak berarti dia tidak pedih akan pengalaman itu. Ia kemudian menasihati dirinya untuk berhati-hati dalam mengambil pilihan. “Anda akan mengingatnya dan itu terasa pedih sekali,” ujar Indra.

Tag : pepsico inc
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top