Anna Sui, Guratan Sejarah Sang Desainer

Di tengah kejayaan nama seperti Chanel, Versace, dan Lacroix pada era 1980-an, Anna Sui harus berjuang untuk dapat disejajarkan dengan mahakarya mereka. Sekarang, hampir semua lini fesyen direngkuhnya, sebut saja pakaian, parfum, kosmetik, sampai alas kaki.
Renat Sofie Andriani | 22 Mei 2018 11:11 WIB
Desainer busana ternama Anna Sui. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah kejayaan nama seperti Chanel, Versace, dan Lacroix pada era 1980-an, Anna Sui harus berjuang untuk dapat disejajarkan dengan mahakarya mereka. Sekarang, hampir semua lini fesyen direngkuhnya, sebut saja pakaian, parfum, kosmetik, sampai alas kaki.

Keunikan rancangan Anna yang kental dengan unsur budaya dan sejarah disukai berbagai kalangan. Model papan atas pada era 90-an seperti Linda Evangelista, Naomi Campbell, dan Christy Turlington bahkan rela 'tidak dibayar' demi mengangkat namanya.

Namanya tidak hanya digaungkan di Asia, benua asalnya, tetapi juga di berbagai negara di penjuru dunia. Oleh majalah Time, Anna masuk dalam daftar 'Top 5 Fashion Icons of the Decade'.

Ini adalah cerita tentang seorang gadis kecil dengan mimpi besarnya mengisi kreativitas, warna, dan budaya dalam dunia mode.

Anna Sui.

Bercita-cita Jadi Desainer

Lahir pada 1952 di Michigan, Amerika Serikat (AS), Anna adalah anak pasangan imigran China yang memiliki latar belakang pendidikan Prancis. Dilansir dari The Budget Fashionista, dia juga merupakan keturunan generasi ke-18 penyair ternama China, Fang Bao.

Sejak berusia empat tahun, Anna sudah menetapkan impiannya menjadi seorang perancang mode. Dari ibunya, dia belajar bagaimana cara mengatur pakaian dalam lemari dan berbelanja kain. Dengan sisa goresan dari jahitan ibunya, dia akan membuat pakaian untuk boneka Barbie koleksinya dan untuk dirinya sendiri.

Anna Sui di tengah karyanya.

Ketika menginjak usia remaja, setelah membaca artikel di majalah Life tentang pencapaian seorang pengembang real estat New York, Mia Fonssagrives-Solow, yang lulus dari Parsons The New School of Design, Anna bertekad mengejar cita-citanya dan pindah ke New York untuk memasuki sekolah desain ternama ini.

“Saya beruntung memiliki orangtua dari generasi yang benar-benar mendukung impian saya. Mereka tidak memaksaku masuk ke sekolah kedokteran atau hukum. Mereka mendorong saya mengejar impian. Saya beruntung mendapatkan dukungan dan pengorbanan mereka,” kenangnya di kemudian hari, seperti dikutip Elite Traveler.

Gara-gara Dipecat

Setelah menyelesaikan tahun keduanya, Anna dipekerjakan oleh label pakaian junior Erica Elias, bernama Charlie's Girls. Dia juga pernah digaet sebagai seorang stylist untuk pemotretan teman sekelasnya, Steven Meisel, yang telah ditampilkan di majalah Italia, Lei.

Sebagian karya Anna Sui dalam New York Fashion Week 2016.

Setelah Charlie's Girls ditutup, Anna bekerja untuk beberapa desainer pakaian olahraga termasuk Simultanee dan Bobbie Brooks. Ada cerita menarik dari pengalamannya bekerja.

“Saya sedang bekerja untuk sebuah perusahaan besar pada saat itu. Suatu hari, atasan saya, pemilik perusahaan itu, memanggil saya ke kantornya dan bertanya bagaimana mungkin saya memiliki iklan produk sendiri ketika saya sedang bekerja untuknya,” cerita Anna.

“Saya berkata kepadanya bahwa hal itu terjadi begitu saja! Kemudian dia meminta saya untuk menghentikannya tapi saya tidak setuju. Akhirnya saya dipecat. Begitulah cara saya memulai bisnis saya sendiri,” tuturnya.

Dibutuhkan sekitar sepuluh tahun sejak saat itu untuk membuka butik pertamanya sendiri. Pada awalnya, Anna harus membangun segala sesuatu dari apartemennya karena tidak memiliki banyak uang, rencana bisnis, maupun investasi.

Tampilan salah satu butik Anna Sui.

Berdikari

Anna lalu menginvestasikan tabungannya sebesar US$300 untuk sebuah bisnis yang dia operasikan dari ruang tamu apartemennya. Selama beberapa tahun, perusahaan berjalan apa adanya dan dia bahkan harus mengambil pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Semua penghasilannya kemudian diinvestasikan kembali pada bisnisnya. Masa-masa itu memang sarat perjuangan baginya. Tahun 1980-an adalah periode emas untuk rumah mode besar seperti Versace, Lacroix, dan Chanel. 

Meski tidak ada yang tidak mungkin, jelas tak mudah bagi Anna untuk berdiri di antara ikon-ikon fesyen tersebut. Dia harus memutar cara, berinovasi, atau mengambil pendekatan berbeda untuk bisa dilirik.

Sebagian karya Anna Sui dalam New York Fashion Week 2016.

Musik rock lah yang menjadi stimulasi awal bagi Anna terhadap perancangan busana. Di matanya, bintang rock adalah individu yang paling menarik dan gaya berpakaian mereka begitu unik.

Anna kemudian terdorong mengambil desain dan potongan berbeda untuk pakaian-pakaiannya.

Dukungan Madonna

Dilansir dari Famous Fashion Designers, terobosan karir Anna terwujud ketika supermodel dunia, Linda Evangelista dan Naomi Campbell, serta Meisel dan Madonna, yang telah berteman baik dengannya, mendorong Anna untuk menggelar fashion show sendiri.

Termotivasi, Anna kemudian menyewa tempat kecil dan sejumlah model untuk melakukan eksibisi. Naomi Campbell dan Linda Evangelista bahkan bersedia tampil hanya berbayarkan pakaian Anna. Tak main-main, pertunjukan perdananya sukses besar dan koleksinya diulas habis-habisan.

Anna Sui dan Naomi Campbell.

A friend in need is a friend indeed. Kehadiran teman begitu berperan dalam mendukung Anna. 

Pada 1990, dia pergi ke Paris dengan sahabatnya, Steven Meisel. Di tengah perjalanan menuju suatu acara, mereka menjemput Madonna di Ritz Carlton.

“Kami tiba di acara Gaultier dan dia [Madonna] berkata, “Anna, aku punya kejutan untukmu.” Dia melepas jaketnya dan di sanalah, Madonna, mengenakan gaunku!” ujar Anna. 

Momen ini benar-benar mendorong kepercayaan dirinya untuk terus berkarya hingga sekarang.

Perlahan tapi pasti, Anna memanfaatkan setiap peluang, mengembangkan citra, dan merealisasikan ide. Dia berhasil mendapat kontrak hak distribusi di Jepang untuk lisensi kosmetik dan wewangian.

Sebagian kosmetik keluaran Anna Sui.

Akuisisi oleh P&G terhadap Wella, yang menghasilkan produk wewangian tersebut, kian mengangkat Anna secara internasional dan memantapkan namanya di peta Asia.

Bangga dengan China

Seni dan sejarah adalah dua hal yang selalu dicintainya karena ada banyak hal untuk dijelajahi dan dipelajari. Anna menggabungkan dua hal ini dalam desain-desainnya dengan sedemikian rupa hingga tercipta karya unik.

“Waktu bekerja saya sangat panjang, biasanya tujuh hari sepekan. Sebagian besar rancangan masih saya lakukan sendiri. Inilah yang sangat saya nikmati dan alasan saya ada saat ini,” ungkapnya.

Ketika ingin melarikan diri dari hiruk pikuk dunia, Anna lebih suka menonton film. Dalam suatu kesempatan, dia menyampaikan kebanggaan yang besar pada negara asalnya, China.

Anna Sui usai salah satu fashion show-nya.

“Saya sangat bangga dan bersyukur. Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa China akan meledak seperti ini. Pertama kali saya pergi ke sana, saya menelepon ibu saya dari Shanghai dan berkata, 'Bu, jika saya lebih muda saya akan pindah ke sini. Semuanya akan terjadi di sini,'” ucapnya.

Terhadap desainer Asia, Anna juga memiliki harapan tersendiri.

“Ini masalah waktu, kesabaran, dan kerja keras. Lakukan yang terbaik dan jika Anda memiliki bakat, Anda akan baik-baik saja,” tutupnya.

Tag : desainer, fashion
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top