Sepakan Bisnis Hidetoshi Nakata, “David Beckham-nya Jepang” Setelah Gantung Sepatu

Maya Yoshida, Shinji Kagawa, dan Makoto Hasebe adalah beberapa pemain tim Samurai Biru yang disorot tahun ini. Namun hanya satu bintang Jepang yang paling mencuri perhatian dalam Piala Dunia 1998.
Renat Sofie Andriani | 03 Juli 2018 12:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Jepang memang telah tersingkir dari laga Piala Dunia 2018 di babak 16 besar. Tapi ini tidak mengenyampingkan fakta pencapaian negeri Sakura yang cukup sukses di pentas Piala Dunia, didukung pemain-pemain bertalenta.

Debut Jepang di Piala Dunia dimulai pada Piala Dunia 1998 di Prancis. Sejak itu, kiprah Jepang terbilang ciamik dan semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu wakil terbaik dari Asia.

Maya Yoshida, Shinji Kagawa, dan Makoto Hasebe adalah beberapa pemain tim Samurai Biru yang disorot tahun ini. Namun hanya satu bintang Jepang yang paling mencuri perhatian dalam Piala Dunia 1998.

Masih ingat dengan Hidetoshi Nakata? Sejak pertama kali berlaga dalam ajang internasional paling bergengsi tersebut, Nakata menjadi buah bibir khalayak dunia khususnya pemerhati sepak bola.

Ia adalah salah satu dari sedikit pemain yang tiga kali mewakili Jepang untuk ajang Piala Dunia 1998, 2002, dan 2006. Saking fenomenalnya, ia disebut-sebut sebagai “David Beckham-nya Jepang”.

Tak hanya sukses di benua asalnya, Nakata diakui berprestasi di Eropa. Ia pernah malang melintang di klub-klub papan atas Liga Italia seperti Perugia, AS Roma, dan Parma.

Sepak terjang salah satu pemain Asia tersukses di Eropa ini namun hanya berlangsung singkat. Secara mengejutkan, Nakata memutuskan mundur dari dunia sepak bola pada 2006 justru saat usianya masih produktif.

Yang pasti, keindahan pemain yang satu ini tidak hilang dari ingatan para penggila sepak bola meski ia telah pensiun. Jadi, apa kabar Nakata dulu dan sekarang?

Karena Captain Tsubasa

Lahir pada 22 Januari 1977 di Kofu, Yamanashi, masa kecil Hidetoshi Nakata dipenuhi dengan kegemarannya bermain bisbol.

Dalam suatu wawancara dengan saluran FIFA Youtube, seperti dilansir Egypt Today, Nakata mengungkapkan tidak memiliki tim ataupun pemain sepak bola favorit semasa ia kecil karena olah raga tersebut tidak begitu populer bagi masyarakat Jepang pada awalnya.

Tetapi ia kemudian harus memilih antara bermain bisbol dan sepak bola karena kekagumannya yang besar terhadap tokoh kartun Jepang pesepak bola bernama “Captain Tsubasa”. Ia mengaku jatuh cinta kepada sepak bola setelah membaca komik kartun itu.

Kecintaannya berlanjut hingga menginjak usia dewasa. Ia mulai bermain untuk tim sepak bola nasional Jepang U17 dan U19. Di saat-saat inilah ia menyadari memiliki mimpi besar di dunia sepak bola.

Mimpi Terwujud

Mimpinya menjadi kenyataan. Ia berhasil dipanggil bermain untuk tim nasional Jepang dalam debut mereka di Piala Dunia 1998. Permainan indah Nakata mengangkatnya menjadi bintang paling bersinar di timnas serta menyedot perhatian klub-klub dunia.

Ia menerima tawaran klub Italia Perugia. Gelandang Jepang yang biasa bermain di jalanan ini pun bermain di salah satu liga top Eropa yakni Seri A Liga Italia.

Dari sekian banyaknya tawaran, liga Italia-lah yang tidak sanggup ditampiknya. Ini terutama karena kaus sepak bola pertama yang dia beli adalah kaus sebuah klub Italia. Kepindahannya ke Perugia membuatnya menjadi salah satu pemain Jepang pertama yang bermain di tim sepak bola Eropa.

Nakata mulai bermain untuk Perugia selama dua musim dari 1998 hingga 2000 sebelum bergabung dengan raksasa Eropa lainnya, AS Roma. Di klub ini, ia bermain selama satu musim.

Kemudian ia pindah bermain untuk Parma dari 2001-2004. Gelandang Jepang yang ikonik ini lanjut mengembangkan sayapnya ke Fiorentina, sebelum kemudian pindah ke klub Inggris Bolton Wonders. Inilah klub terakhir tempat ia menutup karir profesional persepakbolaan.

Amit Mundur

Pada tahun 2006, di usia 29 tahun, Nakata memutuskan gantung sepatu. Sekitar 11 tahun mimpinya terwujud, ia justru menanggalkan semuanya. Hanya beberapa pekan setelah Jepang tunduk oleh Brasil dengan skor 4-1 di Piala Dunia 2006, ia mengumumkan pengunduran dirinya.

Ada apa? Keputusan ini disebut telah dimatangkan enam bulan sebelumnya, ketika menyadari bahwa sepak bola sudah menjadi 'bisnis yang besar'.

“Saya tidak bermain sepak bola karena ingin menjadi terkenal atau seorang jutawan, tetapi karena saya mencintai sepak bola. Saya mungkin merasa sedikit lelah dari lingkungan ini dan hal-hal di sekelilingnya,” jelasnya dalam suatu kesempatan.

Dengan keputusannya mengakhiri karir di dunia sepak bola profesional, Nakata harus memikirkan langkah selanjutnya. Ia diketahui pernah mencoba terjun ke dunia model dan melanglang buana.

Temukan Passion Sesungguhnya

Ia pun berkelana ke 47 prefektur di Jepang untuk kembali akrab dengan negara asalnya setelah menjalani sebagian besar karirnya di luar negeri.

Dia bertemu dengan petani, juru masak, dan perajin, yang bertekad melestarikan berpuluh tahun usia tradisi Jepang. Butuh waktu tujuh tahun bagi Nakata untuk menyelesaikan perjalanan melintasi Jepang, tetapi akhirnya ia menemukan passion sejatinya, yakni sake.

“Saat saya mulai memahami budaya sake dan industrinya, saya mulai memahami kualitas sake beserta orang-orang di belakangnya, dan sejarahnya,” ucap Nakata, seperti dikutip CNBC. “Tapi pada saat yang sama, saya memahami permasalahan-permasalahan yang ada.”

Ketertarikan Nakata pada sake – minuman beralkohol yang dibuat dari nasi terfermentasi – beriringan dengan penjualan domestik yang menurun. Menurut data pemerintah Jepang, pembelian sake telah turun 30% sejak 1975.

Jumlah populasi yang menurun dan peminum sake yang semakin berusia menjadi salah satu penyebabnya, tetapi industri sake juga mengalami kemunduran dalam hal citra dan telah tergantikan oleh anggur dan cocktail di kalangan peminum berusia muda.

Nakata mengubah passion-nya menjadi ambisi. Pada tahun 2013, ia meluncurkan “N”, sebuah sake berkelas yang dibanderol dengan harga US$1.000 per botol.

Beberapa tahun sebelumnya, Nakata meluncurkan "Sakenomy", aplikasi yang menerjemahkan label sake untuk pengguna serta menawarkan panduan lengkap untuk pembuat sake, sekaligus rekomendasi pendamping sake untuk makanan yang berbeda.

Bukan Ketenaran

Dalam prosesnya, ia menjadi semacam duta besar kebudayaan bagi negaranya, dengan berkeliling dunia untuk memperlihatkan sisi terbaik Jepang.

“Semua pasar tradisional, seperti perajin dan pembuat sake tidak membuka pintu semudah itu kepada umum,” ucap Nakata. “Kalau kamu punya objek yang hebat, dan informasi yang hebat, memiliki pengalaman atau cerita yang hebat, lebih baik berbagi dengan orang lain.”

Bisnis Nakata membuat ia jauh dari lapangan saat ini, tetapi ia menyadari disiplin yang ia pelajari saat menjadi atlet tetap ada sampai saat ini.

Ia masih berlatih setiap pagi, karena menurutnya hal itu membuat mentalnya tetap kuat. Baginya, tubuh adalah ukuran seberapa besar “kamu mendorong pikiranmu.”

Sejauh ini, ia belum melihat tujuan akhir lain. “Saya hanya melakukan hal yang saya minati. Sepak bola, kerajinan, budaya. Saya tidak melakukannya untuk uang atau ketenaran. Oleh karena itu, bagi saya, tidak ada kegagalan atau kesuksesan sejati.”

Tag : inspirasi bisnis, sepak bola
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top