Cristóbal Balenciaga, Desainer Ikonis yang Misterius

The King is Dead. Itu adalah judul yang digunakan Women's Wear Daily pada Maret 1972 untuk mengabarkan kematian sang raja fesyen. Tak ada seorang pun di dunia mode yang bertanya-tanya siapa yang dimaksud dalam artikel tersebut.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 20 Juli 2018 18:34 WIB
Cristbal Balenciaga. - luxuo.com

Bisnis.com, JAKARTA — The King is Dead.

Itu adalah judul yang digunakan Women's Wear Daily pada Maret 1972 untuk mengabarkan kematian sang raja fesyen. Tak ada seorang pun di dunia mode yang bertanya-tanya siapa yang dimaksud dalam artikel tersebut.

Dia adalah Cristóbal Balenciaga.

Christian Dior menyebutnya 'tuan kita semua', sedangkan Coco Chanel mengatakan bahwa Balenciaga adalah 'seorang couturier dalam arti sebenarnya.. yang lainnya hanyalah perancang busana'.

Lahir pada 1895 di desa nelayan Basque, Getaria, Spanyol, Balenciaga adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ibunya bekerja sebagai seorang penjahit setelah sang ayah meninggal.

Menginjak umur 12 tahun, dia mulai bekerja magang sebagai seorang penjahit mengikuti jejak karir ibunya. Meski masih berusia remaja, Balenciaga terkenal dengan jahitannya yang halus dan rapi hingga Marchiones de Casa Torres, seorang wanita bangsawan terkemuka di kotanya, menjadi pelanggan sekaligus pelindung karirnya. 

Karena percaya dengan kemampuan Balenciaga, Marchiones de Casa Torres mengirimnya ke Madrid, di mana Balenciaga muda secara resmi mendapatkan pelatihan menjahit. Hasilnya, dia terkenal sebagai salah satu dari beberapa couturier dalam sejarah mode yang bisa menggunakan tangannya sendiri untuk merancang, memotong, dan menjahit model yang melambangkan ketinggian kemampuan seninya.

Balenciaga hampir tidak pernah menemui kegagalan dalam perjalanan karirnya sebagai seorang desainer di Spanyol. Dia membuka butik pertamanya di San Sebastián pada 1919, lalu memperluas jangkauan penjualannya dengan membuka cabang di Madrid dan Barcelona.

Pada zaman itu, keluarga kerajaan Spanyol dan para bangsawan tidak pernah luput untuk mengenakan desain pakaiannya. Jelas, untuk usia seorang laki-laki yang masih berusia 24 tahun pada waktu itu merupakan sebuah prestasi yang gemilang.

Sayangnya, ketika Perang Saudara Spanyol terjadi Balenciaga harus menutup butiknya. Dia pun akhirnya pindah ke Paris, Prancis dan membuka rumah mode di Avenue George V pada Agustus 1937.

Meski sudah terkenal, Balenciaga baru menemukan DNA fesyennya setelah tahun-tahun pascaperang. Pada 1951, dia benar-benar mengubah siluet desain rancangannya.

Pada 1959, gaya rancangannya makin dekat dengan gaya busana kerajaan dengan gaun berpinggang tinggi dan mantel yang dipotong seperti kimono.

Pada 1960, Balenciaga membuat gaun pengantin untuk Fabiola de Mora y Aragón ketika si calon Ratu waktu itu akan menikah dengan Raja Baudouin I dari Belgia. Ratu Fabiola de Mora y Aragón  kemudian menyumbangkan gaun pengantinnya ke Yayasan Cristóbal Balenciaga.

Dilansir dari Vogue, gaya desain Balenciaga pada ranah mode sangatlah mendalam. Meski masih menjadi teka-teki dari mana datangnya ide-ide desain brilian yang lahir dari dirinya.

Gaya desainnya banyak berubah dan tidak memiliki konsep yang selaras. Namun, rata-rata baju yang dikenakan oleh para perempuan pada 1950-an sebagian besar adalah pengaruh dari gaya desain Balenciaga.

Pada dekade itu, setelah orang-orang memiliki pakaian yang dia buat, kebanyakan dari mereka enggan untuk mengenakan pakaian buatan desainer lain. Banyak desain buatannya yang bervolume tapi sangat ringan dikenakan.

Laki-laki ini pun tidak pelit ilmu, dia mengajarkan ilmu fesyen sekaligus menginspirasi para pionir dan pendiri fesyen ternama seperti Oscar de la Renta, André Courrèges, Emanuel Ungaro, Mila Schö, dan Hubert de Givenchy.

Terkenal Misterius dan Tertutup

Berbeda dengan para desainer lain yang selalu tampil dan mau menjelaskan karya-karyanya untuk beberapa wawancara, Balenciaga terkenal sangat misterius dan tertutup dengan kehidupan pribadinya.

Sikapnya ini membuat para wartawan saat itu agak jengkel sampai muncul spekulasi apakah desainer ini benar-benar nyata dan hidup. Selama hidupnya, dia hanya mau diwawancarai sekali dan tidak pernah melakukan wawancara lagi setelah itu.

Bettina Ballard, seorang editor mode Vogue, adalah salah satu orang pertama yang menemuinya, ketika dia tiba di Paris pada 1937. Dalam bab otobiografinya yang berjudul Dunia Rahasia Cristóbal Balenciaga, dia menggambarkan Balenciaga seperti ini: 'Orang Spanyol bersuara lembut dengan kulit pucat halus, dengan tekstur dan warna kulit seputih telur, rambut hitam yang tebal dan berkilau di lapisan bergelombang di kepalanya yang berbentuk baik. Suaranya seperti bulu..’.

Sementara itu, wartawan The Times Prudence Glyn, yang mendapatkan kesempatan untuk mewancarainya pada 1971, menulis bahwa ketidaksukaannya untuk muncul di publik bukan karena dia merasa ‘tinggi’ untuk diganggu tapi karena tidak mungkin dia menjelaskan tentang metodenya kepada siapapun.

Bahkan, Balenciaga tidak pernah muncul saat menunjukkan koleksi-koleksi terbarunya. Dia juga menetapkan peraturan bahwa kliennya tidak bisa menemuinya.

Namun, bukan berarti dia tidak melihat bagaimana klien atau pengunjung butiknya datang. Dia menyaksikan pertunjukan dari ambang pintu, mengintip melalui lubang kecil yang ada di tirai.

Dengan tetap berada di belakang panggung, Balenciaga dapat berkonsentrasi pada apa yang dia sukai dan menghindari obrolan dan sisi tidak masuk akal tentang mode.

Misterius, introvert, dan terlihat keras merupakan cara Balenciaga mendedikasikan sebagian besar jam kerjanya untuk menyempurnakan dan menyederhanakan potongan dan garis desainnya. Tidak heran jika dia dikenal sebagai seorang perfeksionis.

Meski demikian, harus diakui selama tahun 1950-an desainer seperti Christian Dior, Pierre Balmain, dan Coco Chanel muncul serta menciptakan desain yang sangat representatif untuk rumah-rumah mode mereka dan gaya mereka sendiri. 

Pada saat itu, Balenciaga menjadi salah satu desainer yang paling menarik perhatian karena desain strukturalnya, yang belum pernah ada sebelumnya di dunia mode. Tidak hanya mampu menerjemahkan ilustrasinya dari kertas ke kehidupan nyata, dia juga mempunyai keterampilan menjahit yang canggih.

Kemampuan menjahitnya menjadi keuntungan besar baginya dibandingkan desainer-desainer lain. Kliennya yang paling terkenal antara lain Mona von Bismarck, Grace Kelly, Ava Gardner, Audrey Hepburn, dan Jackie Kennedy.

Pada 24 Maret 2011, Museum M. H. de Young di San Francisco, AS merayakan pembukaan "Balenciaga and Spain", yang menampilkan 120 busana buatannya. Tamu harus membayar US$2.500 per tiket--yang kemudian disumbangkan untuk museum tersebut--mendatangkan 350 tamu, termasuk Marissa Mayer, Gwyneth Paltrow, Orlando Bloom, Maria Bello, dan Mia Wasikowska.

Pada 7 Juni 2011, Museum Balenciaga diresmikan Getaria oleh Ratu Sofia dari Spanyol dan menghadirkan Hubert de Givenchy, murid sekaligus presiden kehormatan Yayasan Balenciaga. Museum ini memiliki koleksi lebih dari 1.200 pakaian yang dirancang oleh Balenciaga, beberapa dari mereka sumbangan oleh para muridnya seperti Givenchy, atau klien seperti Ratu Fabiola dari Belgia dan ahli waris Grace Kelly.

Kehidupan Pribadi dan Kematian Balenciaga

Balenciaga menutup rumah modenya pada 1968 di usia 74 setelah bekerja di Paris selama 30 tahun. Dia memutuskan untuk pensiun dan menutup rumah mode di Paris, Barcelona ,dan Madrid, satu demi satu.

 

Hari ini, rumah mode Balenciaga berada di bawah arahan Demna Gvasalia dan di bawah kepemilikan Grup Kering.

Balenciaga meninggal empat tahun setelah pensiun, yakni pada 23 Maret 1972 di Xàbia, Spanyol karena serangan jantung.

Sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya, diketahui bahwa Balenciaga merupakan seorang homoseksual, meskipun dia merahasiakan seksualitasnya sepanjang hidupnya.

Cinta dalam hidupnya adalah rekan kerjanya, Vladzio Zawrorowski d'Attainville, yang telah membantu mendanainya. Ketika d'Attainville meninggal pada 1948, Balenciaga begitu hancur dan hampir saja menutup bisnisnya saat itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
desainer

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top