Vichai Srivaddhanaprabha, Penghormatan Terakhir untuk Sang Pahlawan Leicester

Leicester diselimuti keheningan. Belum habis isak tangis warga kota ini setelah salah satu pahlawannya berpulang untuk selama-lamanya.
Renat Sofie Andriani | 01 November 2018 11:17 WIB
Vichai Srivaddhanaprabha - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Leicester diselimuti keheningan. Belum habis isak tangis warga kota ini setelah salah satu pahlawannya berpulang untuk selama-lamanya.

Rangkaian bunga dan ungkapan duka cita mengalir deras sejak pemilik klub sepakbola Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha, dipastikan menjadi korban dalam kecelakaan helikopter yang juga merenggut nyawa empat orang lainnya.

Helikopter itu jatuh terbakar di area parkir markas tim tersebut, Stadion King Power, Leicester, Inggris, setelah Vichai menyaksikan klubnya ditahan imbang di kandang sendiri dengan skor 1 – 1 oleh West Ham United, pada Sabtu (27/10) waktu setempat.

Lebih dari 24 jam sejak insiden tersebut, manajemen Leicester City mengumumkan secara resmi bahwa Vichai, pengusaha Thailand keturunan China, termasuk korban tewas bersama salah satu putrinya.

“Dengan duka mendalam dan hati yang terluka, kami sampaikan bahwa chairman Vichai Srivaddhanaprabha termasuk di antara yang meninggal dunia secara tragis saat helikopter yang membawanya beserta empat lainnya jatuh di luar Stadion King Power,” demikian pernyataan Leicester City.

Ratusan syal dan kaos dari berbagai klub ternama Inggris menumpuk di lokasi kejadian. Tampak di antaranya bertuliskan kata-kata “terima kasih” dan “kau membawa kebahagiaan kepada klub ini”.

Meski terdengar sederhana, ungkapan-ungkapan yang dituliskan untuknya penuh dengan emosi dan menunjukkan betapa pria berusia 60 tahun itu begitu dicintai dan dirindukan.

Dalam pernyataannya, Ketua Eksekutif Liga Primer Inggris Richard Scudamore mengungkapkan rasa kehilangan yang besar.

“Pengaruhnya terhadapi Leicester, klub sepak bola dan juga kota, akan kami ingat selamanya,” ujarnya, seperti dilansir dari CNN.

King Power

Lahir dengan nama Vichai Raksriaksorn pada tahun 1958, perjalanan Vichai menuju kejayaan relatif lambat. Dia memulai bisnis dengan membuka duty-free shop (toko bebas pajak) pertamanya pada 1989 yang dinamai King Power.

Perlahan tapi pasti perusahaan ritel yang dipimpinnya mendulang kesuksesan. Mendiang Raja Thailand Bhumibol Adulyadej sampai memberikan penghormatan kepada Vichai dengan nama keluarga baru, ‘Srivaddhanaprabha’, yang berarti “cahaya kemakmuran” pada 2012.

Penghormatan ini diberikan sebagai pengakuan Raja atas komitmen Vichai terhadap kerja sosial dan kontribusinya untuk kepentingan negara.

Dilansir Forbes, kekayaan Vichai mencapai US$5,2 miliar sekaligus menempatkannya sebagai orang kelima terkaya di Thailand pada Mei. Kerajaan bisnisnya terutama didasarkan pada King Power, peritel terkemuka di Negeri Gajah Putih.

Bisnisnya juga berekspansi ke dua bandara di negara itu. Ia mendapatkan manfaat besar dari masuknya populasi China ke Thailand.

Vichai juga diketahui memiliki hubungan yang baik dengan Kerajaan Inggris. Dia adalah anggota dan Presiden Ham Polo Club, salah satu klub polo tertua di Inggris yang kerap disinggahi keluarga kerajaan, untuk periode 2008-2012.

Ia memang memiliki kegemaran bermain polo. Kecintaannya terhadap olahraga ini mendorongnya mendirikan Asosiasi Polo Thailand pada 1998, melansir last word on football.

Leicester City

Pada Agustus 2010, melalui King Power Group, Vichai mengambil keputusan berani dengan membeli klub sepakbola Leicester City dari Milan Mandaric senilai hanya £39 juta.

Di bawah kepemimpinannya, utang klub senilai lebih dari £100 juta dibereskan. Ia juga tak segan berinvestasi ke dalam skuadnya. Prestasi Leicester City pun mulai lengser dari huniannya di papan bawah dan terus menanjak pada 2013-2014.

Vichai kemudian mengumumkan rencana ambisius bagi klub untuk mencapai lima besar dalam lima musim. Banyak yang menertawakan rencananya ini, terutama setelah musim pertama klub yang penuh kerikil di Liga Premier.

Namun Vichai tetap loyal dan menunjukkan dukungan besarnya kepada tim manajerial klub ini. Ia hampir tak pernah melewatkan pertandingan yang dimainkan oleh klubnya

Keputusannya itu terbukti bijak, The Foxes, julukan untuk klub ini, menorehkan banyak pencapaian bahkan untuk pertama kalinya menjadi juara Liga Inggris pada 2016.

Input yang diberikan Vichai selama ini merupakan bagian integral dari musim yang penuh kejutan tersebut. Seluruh pendukung, pemain dan staf Leicester City mengalami tahun terbaik dalam hidup mereka. Kemenangan itu juga menyatukan kota dan masyarakatnya.

Begitu Dicintai

Tak seperti kebanyakan pemilik klub sepakbola, Vichai begitu dicintai oleh para pendukungnya meskipun keputusan yang diambilnya menarik kritik.

Ketika klub membuat keputusan sulit untuk melepaskan Claudio Ranieri sebagai manajer, kritik terhadap Vichai hanya datang dari pihak luar. Pendukung Leicester City tak bergeming dan telah belajar untuk memercayai Vichai sepenuhnya.

“Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya. Seorang pria hebat dan penyayang yang membuat semua orang merasa kehilangan,” ucap Harry Maguire, pemain belakang Leicester City dan Timnas Inggris menambah ucapan duka cita.

Salah satu alasan mengapa ia begitu dicintai adalah kemurahan hatinya, entah itu membagikan bir dan kue gratis pada hari ulang tahunnya atau dengan rutin mendonasikan uang pribadinya untuk kepentingan kota Leicester.

Ia juga pernah mendatangkan biksu Budha dari Thailand untuk memberkati Stadion King Power. Inti dari setiap keputusan yang dibuat Vichai adalah pendukungnya, suatu pengecualian yang langka dalam industri yang berorientasi pada uang ini.

Pahlawan Leicester

Fakta bahwa ia dan keluarganya rela terbang langsung bolak-balik Thailand dan London setiap kali klub bertanding, menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang peduli dengan klubnya dan akan melakukan apa pun demi kemajuan klub.

Tak banyak pemilik klub seperti dirinya di dalam persepakbolaan modern, yang didominasi oleh pemilik yang melihat klub mereka sebagai sarana untuk menghasilkan lebih banyak uang ataupun untuk memaksakan otoritas mereka di arena global.

Mereka tidak terlalu peduli dengan tetek bengek klub dan memiliki sedikit hubungan dengan para pendukungnya. Mereka justru meraup pendapatan mulai dari hal kecil seperti meningkatkan harga tiket alih-alih membuat pengalaman itu jauh lebih terjangkau bagi para pendukung klub.

Karena berbagai alasan macam inilah Vichai Srivaddhanaprabha menjadi pahlawan kota Leicester. Sangat jarang bagi seorang pemilik klub berkewarganegaraan asing untuk merangkul diri begitu hangat ke dalam komunitas setempat.

Tanpanya, keajaiban pada musim 2015/16 mungkin tidak akan pernah terjadi. Namun dia memberi lebih banyak dari sekadar masa-masa itu.

Dia telah meninggalkan tanda abadi baik di dalam sepakbola, Leicester City, dan kota itu. Satu yang pasti, warga Leicester tak akan pernah melupakan Vichai Srivaddhanaprabha.

Tag : leicester city
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top