Mengintip Peluang Bisnis Jurnal Kreatif yang Masih Laris

Bagi penggemar creative journaling, jurnal atau catatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai catatan atau pengingat semata. Namun, sebagai media kreasi untuk menggambar, handlettering, hingga kolase.
Eka Chandra Septarini
Eka Chandra Septarini - Bisnis.com 25 Mei 2019  |  08:28 WIB
Mengintip Peluang Bisnis Jurnal Kreatif yang Masih Laris
Repro

Bisnis.com, JAKARTA – Meskipun kegiatan mencatat dan menulis buku harian telah ada sejak dahulu, namun tren creative journaling baru merebak di masyarakat.

Sebelumnya, catatan dan buku harian tersebut biasanya hanya ditulis dengan tangan dan minim ornamen. Berbeda dengan creative journaling yang menambahkan beragam bentuk hiasan mulai dari isolasi atau washi tape, stiker lucu, hingga menulis dengan menggunakan beragam jenis alat tulis seperti spidol, glittery pen, hingga kuas.

Bagi penggemar creative journaling, jurnal atau catatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai catatan atau pengingat semata. Namun, sebagai media kreasi untuk menggambar, handlettering, hingga kolase.

Karena bersifat hasil kreasi, tidak ada batasan isi dari jurnal. Review film, catatan sehari-hari, foto momen-momen penting, hingga kutipan menarik bisa menjadi salah satu bagian dari creative journaling.

Membiasakan diri membuat catatan harian diyakini mampu membantu untuk menenangkan pikiran hingga mengenali diri sendiri atas apa yang telah dan akan dilakukan.

Guna mendukung hobi journaling tersebut, tentunya diperlukan 'alat perang', ibarat pelukis dengan kanvas dan kuasnya. Peralatan yang diperlukan untuk creative journaling tentunya adalah buku jurnal, lem untuk menempel memorabilia seperti tiket, foto, atau apapun yang dianggap berkesan, serta beragam alat tulis.

Dari peralatan tersebut, penikmat journaling sudah bisa berkreasi di atas buku jurnalnya. Komunitas penggemar creative journaling pun sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Komunitas ini kerap mengadakan pertemuan dan berbagi informasi terkait creative journaling mulai dari pernak pernik, jenis buku jurnal yang berkualitas, hingga sekadar duduk bersama dan melakukan kegiatan journaling.

Seiring dengan semakin banyaknya peminat yang ingin menekuni hobi ini, tidak heran mulai banyak bermunculan toko-toko online yang menyediakan beragam bentuk dan desain peralatan creative journaling.

Hal ini berawal dari masih minimnya penyedia pernak-pernik journaling di Indonesia. Hal tersebut kemudian menjadikan para penggemar creative journaling saling berbagi dengan cara mulai menjalankan usaha yang terkait.

Tawarkan Kreasi Barang Impor

“Awalnya saya menyisihkan uang bulanan untuk beli keperluan journaling saya, lama-lama saya berpikir kenapa tidak saya mulai untuk menghasilkan uang dari hal yang saya suka.” Begitu Siti Rahmawati atau akrab disapa Rahma memulai cerita awal perjalanan usaha perlengkapan journaling yang dilakukan melalui akun instagram @kkuma_catalogue.

Menurutnya, kebanyakan orang menganggap perlengkapan journaling atau journaling stuff adalah alat tulis. Namun, bagi yang gemar menekuni hobi ini, journaling stuff ibarat kuas dan palet bagi pelukis untuk memulai kreasinya.

Ada beragam bentuk keperluan dekorasi journaling seperti isolasi bergambar atau washitape, stiker, hingga deco paper disediakan oleh Kkuma_catalogue.

Rahma memulai bisnis ini sekitar dua tahun lalu atau pada 2017. Barang-barang journaling stuff ini kebanyakan dibelinya dari luar negeri untuk dijual kembali kepada para penggemar creative journaling.

Meskipun menjual produk impor, Rahma mengaku harga produk yang ditawarkannya cukup bersaing. Dia mencontohkan, washitape dipatok mulai harga Rp11.000 hingga Rp60.000, sedangkan stiker pack dijual mulai harga Rp14.000 hingga Rp25.000.

“Soal harga itu bervariasi tergantung desain, ukuran juga mereknya. Pilihan produk di Kkuma cukup beragam dengan harga yang terjangkau. Dengan hanya belanja di satu toko, bisa mendapatkan berbagai jenis keperluan journaling yang dibutuhkan,” ujarnya.

Mahasiswi program Teknik Mesin di salah satu Universitas di Semarang ini mengaku orderan banyak mengalir pada awal bulan. Melalui sistem pre order atau pemesanan terlebih dahulu yang dilakukannya, Rahma tidak perlu kesulitan untuk menyiapkan stok barang. Kendati demikian cukup banyak pelanggan yang memintanya untuk menyediakan barang ready stock.

“Kendala yang saya alami sih soal modal ya, karena kan sekarang sistemnya pre-order banyak yang minta untuk dibuat ready stock saja,” tuturnya.

Dalam sebulan penjualan produk berkisar di angka 200 buah dengan beragam variasi. Dari jumlah penjualan tersebut Rahma bisa mengantongi omzet sebesar Rp4 juta setiap bulannya.

Lantaran mulai banyak yang menggeluti hobi creative journaling ini, berdampak pada meningkatnya penjualan journaling stuff di Kkuma_catalogue. Rahma menyebut, salah satu faktor yang membuat permintaan mengalir adalah beragam pilihan desain yang menarik dengan harga yang relatif murah untuk produk impor.

“Saya berencana untuk memperbanyak lagi jenis produk yang dijual supaya tersedia lebih banyak pilihan untuk para konsumen,” ujarnya.

Bertahan dengan melakukan sistem berjualan daring, tidak lantas membuat Rahma berhenti untuk mengembangkan usahanya ini. Dia menyebut memiliki rencana untuk membuka toko fisik untuk mengenalkan produk-produk journaling stuff kepada masyarakat yang tertarik.

Pasalnya, menurut dia para penggemar creative journaling kadang kerap kesulitan untuk menemukan tempat untuk membeli barang-barang yang mendukung kegiatan journaling tersebut.

“Semoga ke depan untuk membesarkan usaha ini targetnya adalah membuka toko fisik di Semarang. Saya juga akan adakan workshop di toko untuk memperkenalkan journaling lebih luas lagi,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peluang usaha

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top