Ini Alasan Samsung Tolak CEO Plagiat

Berkat 'sentuhan emas' Kun Hee, Samsung menjelma menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 06 Oktober 2019  |  21:17 WIB
Ini Alasan Samsung Tolak CEO Plagiat
Presiden dan CEO Samsung Electronics Dong Jin Koh berbicara selama acara peluncuran Galaxy Note 10 di Barclays Center di Brooklyn, New York, AS, 7 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Apa yang mesti dilakukan seorang pemimpin puncak korporasi bila strategi amati, tiru, dan modifikasi (ATM) sudah dianggap usang?

Resepnya sederhana. Saya ingin menawarkan 'pendekatan' baru yaitu 'BOM' saja. Maksudnya adalah bongkar, olah, dan modifikasi. Kalau menurut Anda masih kurang tajam, silakan menggunakan jurus yang lebih ampuh.

Menyoal BOM ini, tidak ada salahnya mengambil kasus atau pelajaran dari kisah sukses yang melegenda seperti yang ditorehkan oleh Lee Kun Hee. Pria yang bisa dikatakan sebagai 'bapak kesuksesan Samsung'.

Ada banyak jurus dan strategi ala Kun Hee. Tapi ucapannya yang satu ini menarik pula untuk disimak. Pada 3 Januari 2005, eksekutif puncak penggemar fanatik golf dan rugbi ini berpidato dalam acara perayaan tahun baru. Sebuah pidato yang menyentak, berisi ajakan dan semangat untuk tampil sebagai pembaharu.

Kun Hee gusar karena belajar dari pengalaman perusahaan-perusahaan sukses saja tidak cukup. Kenapa? "Selama ini saya banyak sekali belajar dari perusahaan-perusahaan sukses. Saya meniru cara mereka mengelola perusahaan dan juga menerapkannya untuk mengembangkan Samsung."

Dia melanjutkan, "akan tetapi tidak ada satu pun perusahaan yang mau meminjamkan atau mengajarkan teknik mereka kepada kita [Samsung]."

Dan ini penekanan penting dari Kun Hee. "Ke depannya kita akan mengembangkan teknik perusahaan dengan mengandalkan manajemen baru yang saya usung. Kita akan melawan persaingan bisnis yang sangat ketat dengan penuh percaya diri."

Tahun baru dengan semangat tempur baru. Itulah Samsung yang kini sudah sangat melekat dengan aktivitas bisnis dan personal orang-orang di dunia.

Seperti usalan mendalam yang dilakukan Kim Byung-Wan (2012), raksasa manufaktur global asal Korea Selatan itu tidak lagi meniru cara kerja perusahaan lain. Justru ia sudah harus menjadi pionir.

Dalam bukunya yang berjudul Samsung Code, Byung-Wan menegaskan bahwa strategi sebagai perusahaan pengikut atau follower kini sudah tidak bisa lagi diterapkan untuk bisa menjadi yang terbaik di dunia. Saat ini semua orang harus bisa menjadi penggerak.

Puluhan tahun lalu Samsung meniru China. Namun kini korporasi global tersebut berbenah diri dan mencoba untuk tidak lagi meniru perusahaan lain.

Pada 28 Juni 2006, Kun Hee menghadiri pertemuan dengan 13 CEO dari perusahaan afiliasi Samsung di Hanammdong. Dia menegaskan tentang visinya. "CEO plagiat tidak lagi diperlukan." Tegas. Lugas. Menusuk.

Saya bukan pengguna produk Samsung. Setidaknya untuk saat ini. Namun siapa yang bisa membantah bahwa Si Raksasa tersebut terus bergerak tak kenal lelah agar selalu bisa menjadi perintis, terdepan, dan pencipta tren.

Albert Camus, filsuf Prancis peraih Nobel Sastra pada 1957, pernah mengatakan manusia hanya bisa meniru dibalik topeng yang dikenakannya. Menjadi kreatif adalah cara meniru yang paling hebat.

Maksud Camus, mencontoh orang sukses dan mengikuti apa yang dilakukannya juga merupakan salah satu strategi yang baik. Akan tetapi lain ceritanya jika tidak ada orang yang lebih baik dari diri kita. Saat itu yang paling dibutuhkan adalah kreativitas.

Ketika seseorang tidak memiliki lawan, saat itulah dia pun menjadi lawan bagi dirinya sendiri. Itulah peranan penting seorang penggerak. Pengikut mungkin saja bisa menggapai kesuksesan dengan mudah tetapi sebaliknya, dia bisa terjatuh dengan cepat pula.

Jadi, berbagai jurus Kun Hee sudah terlihat hasilnya. Silakan saja dicoba. Ditentang juga tidak apa-apa bila Anda mempunyai jurus tandingan yang lebih jitu.

Dia tak mempunyai kemampuan apa-apa saat ayahnya mewariskan kepemimpinan Samsung kepadanya. Berbekal keberanian, pencari talenta luar biasa itu mengambil risiko berbuat apa saja, termasuk merombak total manajemen yang ditinggalkan sang ayah.

Karakternya pun melahirkan gaya kepemimpinan yang unik. Memberi apresiasi kepada karyawan yang gagal, meniadakan birokrasi, dan membuat target yang kelihatan tak mungkin dicapai adalah beberapa di antaranya.

Berkat 'sentuhan emas' Kun Hee, Samsung menjelma menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia. Ini juga yang membuatnya menjadi orang Korea pertama yang masuk dalam jajaran 100 Orang Berpengaruh di Dunia versi majalan Times.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
samsung

Editor : Inria Zulfikar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top