Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini 10 Kesalahan Desain Grafis Paling Sering Dilakukan

Kesalahan memenggal kata, warna, pemilihan huruf yang sulit dibaca acap kali terjadi saat melakukan desain grafis.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 16 April 2020  |  21:45 WIB
Ilustrasi - Wisegeek
Ilustrasi - Wisegeek

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah desain grafis memiliki peranan yang penting dalam mendukung kesuksesan sebuah konten marketing. Sebab, bagaimanapun sebelum konsumen membaca lebih jauh mengenai konten tersebut, hal pertama yang dilihat adalah desain.

Jika perusahaan mampu menampilkan desain grafis yang menarik, maka konsumen tentu akan tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai konten yang ingin dihadirkan. Sayangnya, masih banyak perusahaan atau pelaku usaha yang tidak memperhatikan pentingnya sebuah desain grafis dalam sebuah konten.

Berikut 10 kesalahan desain grafis yang paling sering dilakukan, dilengkapi dengan tips untuk memperbaikinya seperti yang disampaikan oleh Roger C Parker, seorang expert di bidang desain grafis, seperti dikutip dari entrepreneur.com:

1. Terlalu banyak menggunakan warna

Hindari latar background berwarna solid di belakang teks. Penggunaan warna yang berlebihan akan mengganggu pembaca. Sebab, warna-warna cerah dapat membuat teks yang posisinya berdekatan menjadi sulit untuk dibaca daripada teks hitam dengan latar belakang putih polos.

2. Tidak membuat nomer halaman

Nomer halaman menjadi penting bagi pembaca karena akan membantu mereka untuk melihat urutan dalam publikasi tersebut. Selain itu, tidak sedikit diantara pembaca yang mengandalkan nomor halaman untuk merujuk kembali informasi yang sebelumnya pernah dibaca.

3. Garis Panjang

Banyak kertas putih sulit dibaca karena teks meluas dalam garis yang tidak terputus di seluruh halaman, dari margin kiri ke margin kanan. Tetapi baris panjang jenis sulit dan melelahkan untuk dibaca. Sangat dibutuhkan ruang putih di sepanjang tepi halaman yang bisa mengistirahatkan mata pembaca sehingga tidak terlalu lelah setelah membaca teks-teks yang saling berdekatan.

4. Penggunaan typeface yang tidak tepat

Terdapat tiga klasifikasi utama dalam font yaitu dekoratif, serif, dan sans serif.

Font dekoratif seperti Constantia atau Broadway sangat bergaya dan bagus untuk menarik perhatian atau memproyeksikan suasana atau gambar. Penggunaan tipografi ini harus dibatasi untuk logo dan kemasan, di mana gambar lebih penting daripada teks.

Font serif seperti Times New Roman dan Garamond sangat ideal untuk konten yang perlu dibaca lebih lama. Font serif akan membantu menentukan bentuk unik setiap huruf dan mengarahkan mata pembaca dari satu huruf ke huruf lainnya.

Font Sans serif seperti Arial dan Verdana sangat mudah dibaca. Desainnya yang bersih dan sederhana membantu pembaca mengenali kata-kata dari jarak jauh, itulah sebabnya mereka digunakan untuk papan nama jalan raya. Tipografi Sans serif sering digunakan untuk tajuk utama dan subjudul.

5. Ukuran huruf yang salah

Ketika ukuran huruf dibuat terlalu besar, pada 14 poin misalnya, maka kita tidak dapat memasukkan cukup banyak kata pada setiap baris agar pembaca lebih nyaman. Huruf yang dibuat terlalu kecil juga akan melelahkan mata karena harus bergerak ke kiri dan kekana pada setiap garis sehingga menyebabkan mata menjadi tegang. Ukuran tipe yang paling populer dan mudah dibaca adalah 12 poin.

6. Headline yang Sulit Dibaca

Judul berita harus membentuk kontras yang kuat dengan teks di bawahnya sehingga pembaca dapat langsung fokus dengan headline. Selain itu, jangan sekali-kali menggunakan huruf kapitas semua pada judul berita karena itu membuatnya lebih sulit dibaca daripada judul yang diatur dalam kombinasi jenis huruf besar dan kecil.

7. Kesalahan Memenggal Kata atau Konten

Penggalan kata atau konten dibuat agar teks lebih mudah dibaca dan diatur. Cara terbaik untuk memenggal kata adalah dengan memasukkan anak judul yang sering digunakan ke dalam seluruh teks. Setiap subjudul akan memberikan titik masuk ke dalam teks. Hal ini juga untuk menghindari kebosanan visual dari setiap halaman paragraf yang hampir mirip.

8. Format subjudul yang buruk

Agar berfungsi dengan baik, subjudul harus membentuk kontras visual yang kuat dengan teks. Tidak cukup hanya dengan huruf miring, tetapi juga harus lebih besar atau lebih tebal dibandingkan dengan bagian tubuh kalimat.  Jangan pernah menggarisbawahi subjudul untuk “membuatnya lebih terlihat.” Garis bawah justru membuatnya lebih sulit dibaca. Selain itu, batasi subjudul untuk beberapa kata kunci, dan hindari menggunakan kalimat lengkap. Subjudul berfungsi dengan baik bila terbatas pada satu baris saja.

9. Header, footer, dan border yang mengganggu

Header dan footer merujuk pada aksen teks atau grafik yang diulang di bagian atas atau bawah setiap halaman. Nomor halaman, informasi hak cipta, dan alamat penerbit harus lebih kecil dan kurang terlihat daripada teks utama. Logo yang besar dan berwarna pada setiap halaman juga bisa sangat mengganggu, tanpa menambahkan informasi yang berarti.

Adapun batas halaman sering kotak dengan garis-garis dan ketebalan yang sama di bagian atas, bawah, dan samping. Halaman kotak memproyeksikan tampilan konservatif dan kuno. Gambar yang lebih kontemporer dapat dibuat menggunakan aturan, atau garis, dengan ketebalan berbeda hanya di bagian atas dan bawah setiap halaman.

10. Kontrol Widows dan Orphans

Widow atau Orphan control berguna saat paragraf mengalami perpindahan halaman.  Fungsi setting Widow dan Orphan ini adalah mengatur jumlah baris minimal yang ada di suatu halaman yang paragrafnya terpotong karena terjadi pindah halaman.

Kontrol akan widow dan orphan ini perlu dilakukan agar pembaca tidak terpotong saat melihat sebuah informasi dan lebih nyaman ketika membaca sebagai satu kesatuan paragraph yang utuh. Beberapa perangkat lunak memungkinkan Anda untuk "mengunci" secara otomatis sekuruh paragraph, pastikan Anda menggunakan fitur ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

desain desain grafis Tips Kerja
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top