Memetakan Efek Domino Virus Corona Pada Perilaku Konsumen

Pandemi virus Corona hanya bersifat sementara. Namun ada akan ada dua perubahan utama dalam perilaku konsumen.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  15:21 WIB
Memetakan Efek Domino Virus Corona Pada Perilaku Konsumen
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi virus Corona (Covid-19) telah mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan berbelanja lebih dari gangguan lainnya dalam dekade ini.

Akibatnya, terjadi beberapa perubahan penting dalam perilaku konsumen. Di seluruh dunia, orang-orang bekerja dari rumah dan keluar hanya untuk membeli kebutuhan penting.

Selain itu, konsumen secara drastis mengurangi pengeluaran mereka untuk pembelian diskresioner, terutama karena ketidakpastian mengenai keamanan kerja dan keseluruhan masa depan.

Menurut Thomas Despin, co-founder dan CEO Reconnect, meskipun perubahan dari pandemi ini bersifat sementara, ada beberapa hal yang akan menjadi the new normal. Pergeseran ke media digital disebabkan oleh dua perubahan utama dalam perilaku konsumen.

"Ada keengganan konsumen untuk mengunjungi tempat-tempat ramai dan kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengadopsi sistem digital. Konsep ini cenderung menjadi lebih populer dan berpotensi menjadi permanen dalam jangka panjang," ujarnya, seperti dikutip melalui Entrepreneur, Selasa (12/5).

Menurut sebuah survei, konsumen 30,6% lebih cenderung untuk berbelanja secara online pada tahun 2020 daripada pada tahun 2019, termasuk untuk kebutuhan penting dan barang mewah.

Sebuah studi baru-baru ini oleh McKinsey di China juga menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung untuk terus berbelanja online, terutama kebutuhan pokok dan perawatan pribadi, bahkan setelah wabah berakhir.

Ini menunjukkan bagaimana paradigma perilaku konsumen dari berbelanja di outlet ke belanja online sekarang berubah lebih cepat dari sebelumnya. Perubahan tidak bisa dihindari dan pemilik bisnis tidak dapat sepenuhnya mengandalkan bisnis offline mereka bahkan setelah wabah berakhir.

"Jika mereka ingin tetap relevan, mereka harus menyesuaikan dengan norma-norma baru. Jika terus menghindari perubahan, mereka justru akan mengalami kerugian besar dalam pendapatan," katanya.

Lebih penting lagi, pemilik usaha perlu menyadari bahwa model bisnis tradisional sekarang tidak sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi saat ini, dengan tantangan terbesar adalah pandemi ini.

Pengusaha dan pemilik bisnis sekarang perlu berpikir tentang menciptakan model bisnis yang fleksibel.

Sehingga akan memungkinkan mereka untuk dengan cepat merombak dan beradaptasi dengan tren yang berubah di industri masing-masing dan perilaku konsumen, yang merupakan kunci keberhasilan di dunia saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
konsumen, Virus Corona

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top