Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wow, 778 Miliarder Dunia Tinggal di Amerika Serikat

Kekayaan kumulatif miliarder Amerika menyumbang 28% dari populasi miliarder global.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  13:14 WIB
Bos Amazon, Jeff Bezos - Reuters/Mike Segar
Bos Amazon, Jeff Bezos - Reuters/Mike Segar

Bisnis.com, JAKARTA -- Laporan terbaru dari Wealth-X Billionaire Report menyatakan bahwa saat ini Amerika Serikat menjadi rumah bagi 788 miliarder dunia, mengalahkan China, Rusia, dan Inggris.

Meski demikian, Eropa tetap memimpin peringkat jika para miliarder ini dikelompokkan berdasarkan kebangsaannya.

Kekayaan kumulatif miliarder Amerika menyumbang 28% dari populasi miliarder global.

Wealth-X Billionaire Report adalah laporan tahunan berdasarkan basis data kekayaan komprehensif. Untuk data terbaru, Wealth-X menganalisis perkembangan populasi miliarder global berdasarkan kekayaan bersih dan distribusi kekayaan pada tahun 2019.

Dilansir melalui Business Insider, New York tetap menjadi kota dengan miliarder terbanyak, dengan Hong Kong berada di urutan kedua.

Di peringkat ketiga adalah San Francisco, kota seluas 49 mil persegi di Silicon Valley yang merupakan rumah bagi banyak elit teknologi di kawasan itu.

Kota ini memperoleh tambahan dua miliarder baru pada tahun 2019, sehingga kini populasi miliardernya menjadi 77 orang.

Moskow, London, dan Beijing mengikuti jejak di belakang San Francisco. Satu-satunya kota di AS selain New York yang masuk dalam daftar ini adalah Los Angeles, yang berada di urutan ke-7 dengan jumlah 44 miliarder.

Recode mencatat bahwa pada 2016 San Fransisco berada di peringkat kelima. Kenaikan peringkat ini sebagian besar berkat industri teknologi yang berkembang pesat serta ekosistem startup dan teknologinya.

Saham teknologi dan penawaran umum perdana diketahui dapat mengubah hidup seseorang menjadi jutawan dan bahkan miliarder dalam waktu semalam.

Laporan itu muncul ketika pandemi terus memperburuk kesenjangan kekayaan yang mencolok di AS.

Krisis kesehatan secara tidak proporsional berdampak pada orang Amerika berpenghasilan rendah yang tidak memiliki kemewahan bekerja dari jarak jauh atau memiliki akses ke perawatan kesehatan yang canggih dan pilihan cuti sakit.

Orang kaya di sisi lain telah mendorong bisnis jet pribadi untuk melarikan diri dari hotspot virus corona, membayar laboratorium swasta untuk tes Covid-19, dan menghabiskan ribuan dolar AS untuk pemurni udara dan jas hazmat.

Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh Institute for Policy Studies menunjukkan bahwa miliarder di Amerika telah bertambah kaya setidaknya hampir 20% sejak pandemi merebak.

Enam orang di antaranya termasuk Jeff Bezos pendiri Amazon dan Elon Musk yang merupakan pendiri Tesla. Total kekayaan bersih mereka menggelembung lebih dari US$2 miliar masing-masing sejak Maret.

Silicon Valley's 1% atau para miliarder seperti Bezos dan Musk diketahui telah menghabiskan jutaan dolar untuk persiapan hari kiamat selama bertahun-tahun.

Mereka berinvestasi dalam operasi mata Lasik, tempat perlindungan dari kiamat di Selandia Baru, hingga tas berisi perlengkapan yang diisi dengan senjata dan makanan.

Beberapa eksekutif teknologi yang kaya dilaporkan bahkan telah melarikan diri ke tempat perlindungan mereka di negari Kiwi untuk menghindari pandemi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat daftar miliarder
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top