Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berkelit dari Krisis ala CEO Muda

Dalam kondisi pandemi atau tidak, kita semua diingatkan bahwa yang konstan itu perubahan sendiri. Perubahan ini terasa oleh semua orang, tetapi yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah responsnya.
Maria Yuliana Benyamin
Maria Yuliana Benyamin - Bisnis.com 14 Agustus 2020  |  11:07 WIB
Ilustrasi leadership
Ilustrasi leadership

Bisnis.com, JAKARTA - Jason Lamuda, Glorio Yulianto, Brian Imawan & Kevin Osmond punya bisnis yang berbeda.

Namun, mereka punya sejumlah kesamaan. Satu, muda. Dua, bisnisnya turut terpukul akibat pandemi Covid-19. Tiga, sama-sama tak mau terpuruk di tengah ‘krisis’ ini.

Keempatnya bercerita dalam kesempatan yang berbeda.

Cerita pertama datang dari Jason Lamuda. Dia Co-Founder sekaligus CEO Berrybenka—online fashion store—yang punya nama di kalangan pencinta fesyen Tanah Air.

Sejak Covid-19 menyerang, dan kemudian disusul oleh kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Berrybenka harus ‘gigit jari’.

Penjualan offline lewat 30 toko yang tersebar di sejumlah pusat perbelanjaan langsung rontok gara-gara penutupan mal selama 3 bulan lamanya.

Padahal, awal tahun ini, Berrybenka merencanakan penambahan 12—15 toko baru di Jakarta dan luar kota.

Berrybenka cukup beruntung. Pada saat yang sama, penjualan lewat kanal online meningkat signifikan 40%—50% lebih tinggi dari kondisi sebelum pandemi.

Kenaikan penjualan online memang belum menutupi koreksi pendapatan dari sisi offline.

Namun, kondisi inilah yang membuat dia belajar hal baru. “Pada akhirnya, harus ada prioritas. Kami putuskan untuk fokus ke online, termasuk mengalihkan sebagian besar karyawan yang tadinya mengurusi offline store,” tutur Jason.

Keputusan untuk berfokus pada penjualan online juga membuat dia akhirnya mengurungkan rencana untuk membangun toko offline. Alasannya, tak lagi relevan dengan kondisi saat ini.

Memang tak mudah untuk ‘berselancar’ di tengah kondisi krisis seperti sekarang. Pasalnya, diakui Jason, sebelum Covid-19, Berrybenka berada dalam mode stabil. Pertumbuhannya konsisten.

Namun, pandemi ini akhirnya membuka matanya dan lalu mengaktifkan mode lain agar tetap survive, termasuk memangkas beban operasional.

Dalam kondisi ini, jelas tidak sedikit perusahaan yang tergoda untuk mem-PHK karyawan. Namun, itu tak ada dalam kamus Jason, setidaknya sampai saat ini.

“Orang adalah aset. Jika kehilangan orang saat ini, kita akan kesulitan ketika kondisi sudah normal, dan pada saat itu kita akhirnya mulai dari nol lagi...”

Cerita lain lagi datang dari Founder & CEO Ubiklan Glorio Yulianto. Ubiklan adalah startup iklan luar ruang yang berbasis teknologi. Startup ini didirikan pada akhir 2016.

Glorio telah memperkirakan kondisi terburuk yang bakal dihadapi akibat pandemi.

Sejak PSBB, penurunan pendapatan mulai terasa. Kontrak ‘iklan berjalan’ dengan sejumlah perusahaan mundur. Tidak sedikit yang batal.

Namun, tak butuh waktu lama bagi Glorio—yang merintis usaha ini bersama Kalvin Handoko—untuk segera mencari peluang lain.

Pilihannya jatuh ke bisnis layanan belanja online dari pasar tradisional yang kemudian disemat dengan nama merek Ubifresh. Bisnis ini resmi dimulai pada Mei.

“Connecting the dots. Ini unit baru yang sebetulnya lahir dari apa yang sudah kami punya atau jalankan,” cerita Glorio.

Model bisnisnya cukup unik dan diklaim beda dari pemain lainnya, yakni mempertemukan para pedagang di pasar tradisional dengan para pembeli lewat para mitra Ubifresh.

Para mitra Ubifresh ini merupakan pemilik kendaraan yang sebelumnya adalah mitra Ubiklan. Ada juga mitra baru yang baru bergabung.

Tren stay at home demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 membuat tidak sedikit masyarakat yang tertarik menggunakan layanan tersebut.

Di sisi lain, bisnis ini pun turut membantu para pedagang di pasar yang harus ‘gigit jari’ lantaran penurunan kunjungan pembeli.

Diakui Glorio, unit bisnis baru ini belum bisa menggantikan penurunan penjualan yang dialami dari bisnis Ubiklan.

Namun, melihat perkembangan dari hari ke hari, Glorio melihat prospek cerah ke depan.

Lalu, apakah pandemi ini mengajarkan hal baru baginya? “Saya belajar satu hal: kreatif mencari ide lain.”

Lain lagi dengan Jumpstart, startup mesin kopi otomatis. Brian Imawan, Founder & CEO Jumpstart, mendirikan bisnis ini pada akhir 2018.

Tren ngopi menjadi salah satu latar belakang didirikannya bisnis tersebut. Sebagai pembeda, Brian menjual ‘kenyamanan’ karena lebih dekat dengan konsumen dan juga mengedepankan kualitas produk.

Mesin kopi otomatis ini ditempatkan di area perkantoran, rumah sakit, dan tempat umum. Alhasil, semua orang bisa dengan mudah mendapatkan kopi segar dengan cepat tanpa harus ke luar area kantor atau pun rumah sakit, dan tentu saja tanpa harus mengantre.

Sebelum pandemi, bisnis ini tumbuh signifikan. Namun, sejak Maret, bisnis ini mulai tertekan.

PSBB membuat mesin kopi otomatis yang tersebar di lokasi perkantoran, rumah sakit, dan tempat umum lainnya, tidak beroperasi.

Alhasil, penjualan dari 500 unit mesin kopi di Jabodetabek drop signifikan hingga lebih dari 50%.

Rencana penambahan mesin pun harus kandas gara-gara Covid-19.

Namun, tak mau meratapi nasib, Brian pun akhirnya melakukan sejumlah inovasi. “Jika sebelumnya kami hanya fokus ke mesin kopi, sejak pandemi akhirnya terpikirkan untuk menciptakan produk baru yang bisa dinikmati di rumah, yakni drip coffee. Ini untuk menjawab permintaan konsumen yang ingin menikmati kopi di rumah.”

Penyesuaian lainnya juga dilakukan. Melihat banyak kantor yang belum beroperasi penuh, pembelian kopi juga dilayani lewat ojol.

“Saya jadi belajar banyak dari krisis ini. Kita harus selalu mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan yang bisa terjadi, supaya bisa antisipasi. Pelajaran lain, kita harus lebih inovatif dan terbuka pada ide-ide baru,” ujar Brian.

ADAPTIF

Kreatif dan adaptif terhadap perubahan juga dilakukan oleh Kevin Osmond, Founder dan CEO Printerous.

Platform online printing ini didirikan pada 2015.

Printerous adalah platform yang menghubungkan penyedia jasa percetakan dengan konsumen. Tercatat ada lebih dari 300 mitra Printerous yang tersebar di 24 kota besar di Indonesia.

Bisnis Printerous terbagi dalam empat bagian, yaitu stationery printing, promotional printing, merchandise printing, dan packaging printing.

Namun, selama pandemi, tiga bisnisnya (stationery printing, promotional printing, dan merchandise printing) hilang alias tak berjalan sama sekali.

Pada saat yang sama, bisnis packaging printing mengalami kenaikan signifikan, sejalan dengan perkembangan bisnis makanan dan minuman serta pengiriman paket.

Sama seperti yang lainnya, Kevin tidak menunggu waktu lama untuk melakukan penyesuaian ketika pendapatannya mulai tergerus pada April.

Namun, bedanya, hanya butuh waktu sebulan untuk membalikkan kondisi perusahaannya ke performance sebelum pandemi terjadi.

Strateginya adalah melakukan penyesuaian produk dan pasar, dengan cara memproduksi barang yang relevan dengan kondisi saat ini, mulai dari masker, face shield, car shield, hingga table separator.

Dengan penyesuaian ini, alhasil para mitranya tidak kehilangan pendapatan.

Kevin ingat betul bagaimana ide ini bisa muncul pertama kali. Ide ini diakui dia lahir dari ketakutan terbesarnya terhadap ketidakpastian kapan pandemi ini akan berujung.

Seperti yang lainnya juga, dia pun memetik pelajaran berharga dari kondisi saat ini.

Menurut Kevin, dalam kondisi pandemi atau tidak, kita semua diingatkan bahwa yang konstan itu perubahan sendiri. Perubahan ini terasa oleh semua orang, tetapi yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah responsnya.

“Responsnya itu harus kreatif, inovatif, dan cepat. Dan, karena kondisi ini adalah sesuatu di luar kontrol kita, maka kita yang mesti menyesuaikan diri dengan kondisi pasar...”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ceo kiat manajemen krisis ekonomi lunch with ceo
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top